Our School

Alam Bahasa Indonesia

PURI’s Seminar: Pendidikan di Inggris dan Wales

Info PURI Peduli…

Selain menjalankan kegiatan belajar dan mengajar, Alam Bahasa Indonesia juga mempunyai kegiatan lain dibidang sosial yang bernama PURI PEDULI. Kegiatan sampingan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini bertujuan untuk membantu siswa-siswi sekolah di lingkungan Jogjakarta mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU/K). Bantuan yang kami berikan ini berupa pemberian beasiswa kepada siswa-siswi yang keluarganya termasuk dalam golongan ekonomi lemah.

Untuk tahun ajaran 2001-2002 ini, PURI Peduli telah memberikan beasiswa kepada 22 orang siswa sekolah dengan perincian sebagai berikut:

  • 15 siswa dari 6 Sekolah Dasar, antara lain: SD Terban Taman II, SD Bopkri Turen, SD Depok Stan, SD Kanisius Wirobrajan I, II dan SD Muhamadyah Blunyah.
  • 3 siswa dari SMP Bopkri 4
  • 3 siswa dari SMK YPKK dan SMK Sedayu

Di samping sekolah-sekolah tersebut di atas, beasiswa juga diberikan untuk biaya operasional SD Totogan di Prambanan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) “Bina Siwi” di desa Sendangsari Pajangan Bantul. Profil SLB “Bina Siwi” ini akan kami tampilkan di bawah ini.

 

PROFIL SLB "BINA SIWI"
DESA SENDANGSARI PAJANGAN BANTUL

kamar kelas murid guru

Sekolah Luar Biasa “Bina Siwi” ini dikelola oleh Yayasan Ngudiraharjo dan dipimpin oleh Ibu Jumilah sebagai kepala sekolahnya. SLB yang dikelola secara swasta murni ini memiliki siswa sejumlah 40 anak. Siswa-siswi yang belajar di sekolah khusus anak-anak cacat ini berasal dari desa Sendangsari sendiri dan sekitarnya. Sebagian besar dari mereka memiliki cacat mental (tuna grahita), tuna daksa, tuna rungu dan wicara.

SLB ini berlokasi di komplek Balai Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul sekitar 25 km arah selatan kota Jogjakarta. Sekolah yang luasnya hanya 200 m² ini terdiri dari dua buah ruang besar yang disekat-sekat menjadi beberapa ruang kelas dan kantor untuk guru dan kepala sekolah, serta halaman yang digunakan untuk ruang usaha sekolah.

Saat ini SLB “Bina Siwi” sedang merencanakan pembangunan panti yang digunakan sebagai tempat siswa-siswa yang rumahnya jauh dari sekolah karena sekolah tidak mempunyai ruang tidur untuk mereka. Ada 17 siswa yang saat ini tinggal di sekolah.  Selama ini mereka menggunakan ruang kelas untuk tempat tidur, jadi pada pagi hari ruang itu untuk kegiatan belajar mengajar dan malam harinya mereka menggeser bangku dan meja untuk tempat tidur.

Untuk menyokong operasional sekolah yang tidak sedikit, pengurus SLB Bina Siwi  yang berjumlah tiga orang ini mengusahakan beberapa kegiatan diluar belajar siswa, antara lain dengan membuka sebuah warung kecil dan menjalin kerja sama dengan pengusaha emping mlinjo dan kayu bubut. Meskipun kegiatan sampingan ini tidak menghasilkan pendapatan yang besar, namun hasil itu cukup membatu SLB “Bina Siwi” sebagai sumber dana operasional dan mencari lapangan pekerjaan bagi siswa-siswi SLB tersebut. Untuk itu pihak sekolah masih mengharapkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain.

Sekolah Luar Biasa “Bina Siwi” memang bukan sekolah yang besar. Namun pihak sekolah mempunyai komitmen yang cukup tinggi utuk tetap menjalankan dan mengusahakan sekolah ini menjadi sekolah yang lebih baik, yang bermanfaat bagi anak-anak cacat yang memang membutuhkan pelayanan pendidikan yang bermanfaat untuk masa depan mereka.

Adapun sumber dana tetap yang mendukung berlangsungnya aksi sosial ini berasal dari sumbangan PURI Indonesian Language sebagai lembaga dan sumbangan para guru serta staff karyawan PURI setiap bulannya. Namun kami tidak menutup kemungkinan bagi para donatur di luar PURI untuk memberikan sumbangannya, PURI Peduli akan menyalurkannya kepada pihak yang berhak menerima. Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami.

 

Sate Ayam

Sorry, the Indonesian version is still not available for this article

AMMA PURI Plus

Sorry, the Indonesian version is still not available for this article

Berkunjung Ke Dieng

Mbak Mineke Bons dari Belanda menulis artikel tentang kunjungannya di Dieng dengan guru-guru dan beberapa teman. Selamat membaca!

Senang sekali saya berkunjung ke Dieng Plateau dengan teman-teman dari PURI Indonesian Language Plus.

Hari Sabtu, 5 September 1998, tiga orang Jerman – Olaf, Bernhard, Karl dan dua guru PURI Indonesian Language PlusSigit dan Lilik, dan sopir mobil PURI Indonesian Language PlusMarno dan saya – Mineke Bons berangkat jam 6.30 pagi ke Dieng. Jalan ke Dieng lewat Magelang dan Wonosobo. Dieng Plateau terletak di Jawa Tengah. Daerah yang bagus sekali. Dari dalam mobil saya melihat tanaman tembakau, kopi dan teh.

Saya berpikir tentang sejarah Belanda di sini: penjajahan Belanda. Saya mendengarkan orang Jerman bicara tentang penjajahan Belanda. Kadang-kadang saya harus berbicara juga karena saya orang Belanda. Saya mengerti mengapa kami – orang-orang Belanda – mau tinggal di kota seperti Magelang atau Semarang. Kota-kota itu tidak terlalu panas. Ketika saya di Belanda, saya membaca buku “Hieren van de Thee”. Buku ini tentang kota Magelang.

Di pinggir jalan ada banyak tanda dengan tulisan DIJUAL TANAH Rp….. HUBUNGI TELEPON 55663. Seandainya saya orang kaya, saya akan membeli tanah yang besar dan bagus dengan pemandangan ke gunung di sini. Kami istirahat kira-kira jam 9.30. Saya makan makanan Jawa Tengah, lontong. Lontong itu tidak pedas. Sesudah istirahat, kami terus ke Dieng. Cuacanya baik, tidak panas. Di Dieng kami membeli tiket dan pergi ke candi. Saya sedikit kecewa karena candi tidak besar. Candi Prambanan lebih besar daripada candi-candi di Dieng. Orang-orang di sini memberi nama candi-candi itu.

Pertama kami mengunjungi kompleks Candi Arjuna.

map of Dieng's Candis

Keterangan:

  1. Candi Semar
  2. Candi Arjuna
  3. Batu, biasanya di atas Candi Arjuna
  4. Candi Srikandi
  5. Candi Puntadewa
  6. Candi Sembadra

Sigit juga bercerita tentang kompleks candi ini. Candi ini interpretasi dari candi Hindu. Candi Srikandi seperti Brahma. Candi Puntadewa seperti Shiwa. Candi Sembadra seperti Vishnu. Srikandi dan Sembadra adalah istri Arjuna. Candi itu tidak punya gambaran jelas seperti Prambanan. Sesudah kompleks Candi Arjuna, kami jalan kaki ke Candi Gatotkaca. Gatotkaca adalah anak Bima. Ada 5 bersaudara: Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Setelah itu, kami naik mobil ke Candi Bima. Candi Bima lebih besar daripada candi-candi di kompleks Arjuna dan Candi Gatotkaca. Sigit bilang bahwa ada 3 hal penting untuk candi. Candi harus punya air, peripih dan lingga-yoni. Lingga-yoni adalah simbol fertilitas atau kesuburan. Sesudah mengunjungi candi itu, kami naik mobil ke kawah Sikidang. Di sana berbau belerang, seperti telur busuk. Di sini menarik sekali. Air di sini panas. Saya membuat beberapa foto Wonderen der Natuur. Sigit bercerita bahwa di tempat ini juga dinamai sama dengan tempat yang penting di Mahabarata. Saya lupa cerita itu. Jadi, cerita itu tidak saya tulis di sini. Tetapi, di cerita itu ada yang terbakar. Saya tidak tahu apakah itu sesudah atau sebelum perang dengan Kurawa.

Kami naik mobil lagi dan pergi ke Telaga Pengilon. Kami mengelilingi telaga. Telaga artinya danau kecil. Jalan kaki mengelilingi telaga itu bagus. Kemarin dulu saya belajar dari Sigit struktur semakin …… semakin ……, misalnya semakin tinggi semakin dingin. Tetapi, kalimat itu salah. Pada prakteknya, semakin tinggi, semakin panas. Tetapi, tidak apa-apa. Pemandangannya bagus. Dan turunnya lucu sekali, sedikit berbahaya, tetapi semua bahagia. Kami merasa seperti Indiana Jones. Kami pergi ke Gua Semar tetapi gua tutup. Kami kembali ke mobil. Semua capai dan tertidur. Kami makan siang di Wonosobo. Dari Wonosobo ke Yogya saya tidak melihat banyak. Perjalanan pulang terasa panjang. Di rumah keluarga Soemitro, Bapak dan Ibu Soemitro gembira karena kami pulang sehat.

Dieng Plateau yang saya kunjungi bagus sekali. Saya senang bisa pergi ke Dieng Plateau dengan PURI dan teman-teman yang belajar di PURI Indonesian Language Plus. O,ya saya juga belajar kata-kata tentang Wonosobo. Wonosobo ASRI. A=aman, S=sehat, R=rapi, dan I=Indah.

20 Alasan untuk Menyukai Yogya

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa orang-orang menyukai Yogyakarta

1. Yogya menyediakan fasilitas yang ada sangat memadai untuk mengembangkan kemampuan dan minat saya dalam bidang IT.

(Agus- web administrator)

2. Letak Yogya sangat ‘central’, mudah untuk bepergian ke tempat-tempat lain, apalagi fasilitas transportasinya untuk antarkota antarpropinsi sangat mendukung. Dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia Yogya lebih santai. Saya masih bisa bersepeda santai ke daerah-daerah yang alami dan hijau.

(Fred – konsultan autisme)

3. Suasana kota pelajarnya paling tepat untuk pendidikan anak-anak. Selain itu, tempat keluarga kami tinggal (sebuah desa di timur Yogya), merupakan lingkungan yang sangat bagus untuk perkembangan anak-anak kami .

(Cahyono – ketua koperasi )

4. Yogya suasananya asyik banget. Apa-apa murah (terutama makanannya), maklum, anak kost ;) . Cuacanya nggak panas, nggak dingin, so, enjoy buat berkegiatan. Budaya aslli masih lumayan kental, tidak membosankan. Ada banyak tempat wisata yang berdekatan sehingga kita nggak perlu keluar kota.

(Devi – resepsionis pusat kebugaran)

5. Ada banyak antusiasme untuk mengadakan kegiatan kreatif, misalnya mahasiswa mengadakan pantomim di atrium kampus, pentas band, dll. Demonstrasi yang di tempat lain berkesan “ngeri” di Yogya malah nampak “akademis”.

(Kevin – mahasiswa)

6. Yogya kotanya nyaman dan bersih, meskipun sayangnya sekarang mulai padat dan berpolusi. Orangnya ramah-ramah!

(Hanny – instruktur pusat kebugaran)

7. Yogya sangat akomodatif bagi ketertarikan saya terhadap budaya Jawa. Sejak 1989 saya sering berkunjung ke Yogya sebagai tour leader yang mengantarkan rombongan wisatawan Jerman (3-4 kali setahun). Saya sering memperpanjang masa tinggal saya di Yogya karena ada banyak teman yang saya kenal dan masih terus kontak sampai sekarang. Di Yogya saya sudah belajar menari Jawa klasik, belajar main gamelan, dan kuliah selama satu semester di jurusan arkeologi dan sastra Jawa di UGM. Ketertarikan ini begitu melekat sehingga saya ikut membentuk grup gamelan di kota saya di Jerman.

(Lydia Kieven – pemandu wisata Jerman).

8. Yogya memberikan tahapan berharga bagi perkembangan wawasan saya. Ketika kuliah dulu saya tertarik dengan mata kuliah cross-cultural understanding, yang membukakan mata saya terhadap nilai-nilai bangsa lain. Kemudian, pekerjaan saya di kursus bahasa Indonesia memberikan kesempatan kontak dengan banyak orang asing dan mengenali pandangan-pandangan mereka. Pengalaman-pengalaman ini benar-benar membantu saya untuk menghormati perbedaan pendapat, mengenali berbagai stereotip tanpa harus menghakimi orang berdasarkan stereotip, mengasah empati, dan … tetap jadi orang Indonesia.

(Swanny – kabag pemasaran kursus bahasa Indonesia)

9. Yogya punya suasana & warna yang berbeda dengan kota-kota lain. Gak terlalu metropolis, juga gak terlalu “kuno”. Pokoknya pas. Yogya gue bangettt… :)

(Dian – staf marketing)

10. Yogya suasana santai, apa-apa murah, juga banyak kegiatan-kegiatan anakmuda yang asik-asik

(Hera – front officer)

11. Tinggal di Yogya memang enak. Bayangin… aku bisa jadi turis setiap hari karena tinggal di sini nggak perlu nunggu musim liburan tetap bisa “berlibur” sendiri (atau sekeluarga) sesudah bekerja. Mau ke pameran seni? atawa ke festival budaya? Mampir ke Kraton atau Candi seputar Yogya? atau sekedar jalan-jalan santai di Malioboro sambil cuci mulut dan mata, semua bisaaa…

(Djohan – guru Alam Bahasa)

12. Bagiku Yogya adalah tempat yang paling tepat untuk mengembangkan diri, karena suasananya yang tidak ramai, bersahabat, dan menyenangkan

(Trijaya – guru vocal)

13. Wah… Yogya tuh sulit dilupakan, terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan alias terlalu indah untuk dikenang hehehe pokoknya cleguk !

(Ita – swastanist)

14. Untukku kota Yogya adalah kota yang paling sip diantara kota-kota di jawa yang lain (ini karena aku lahir di kota ini). Mau cari apa aja ok, apalagi makan. Kapan nih teman – teman yang belum ke Yogya singgah kesini!!

(Lisa – penduduk asli)

15. Yogya adalah desa yang besar, buka kota kecil yang sibuk. Orang – orang masih bisa bicara dengan hati seperti umumnya orang desa.

(Thomas – guru Alam Bahasa)

16. Yogya adalah kota sip dan nyaman karena Yogya adalah kota pelajar dan banyak budaya jawa yang disukai kalangan kecil sampai kalangan besar, sampai dari mancanegara. Pokoknya Yogya Never Ending Asia.

(Tardi – supir)

17. Yogya banyak tempat untuk jalan-jalan, kota yang gak pernah tidur, dan orangnya ramah-ramah, smile melulu and n’geh melulu…

(Edy – mahasiswa, anak kost)

18. Di Yogya banyak mahasiswa, jadi dagangan laku terus, cepat kaya gitu lho… !! hehehe :) )

(Alex Noer – pengusaha rumah makan)

19. di Yogya, aku paling suka jalan ke daerah malioboro, belanja batik atau barang – barang kerajinan di bringharjo atau sepanjang jalan malioboro, atau beli buku-buku murah di shooping. Oh ya, di sepanjang malioboro banyak tukang bikin tattoo temporary, aku suka tattoo disana, biasanya cuma tahan seminggu, lumayanlah jadi gaul, hehehe

(Liri – anak SMU)

20. Aku suka kegiatan alam, aku menemukan itu di sini. Di Yogya banyak klub-klub penjelajahan alam seperti MAPALA, di Yogya juga banyak tempat untuk shopping, atau sekedar jalan-jalan untuk cuci mata. Untuk para pencinta alam atau budaya, kamu harus ke Yogya

(Lisanora – mahasiswa, anggota gappala)

Bukan Orang Indonesia

Salah satu puisi dari murid bernama Ruth Schafer.

Dari jauh orang kenali
Hello mister!
Mereka tidak bisa tahu
bahasa Inggris alat saja
bahasaku kucinta

Rindu akan kata teman
Tidak harus ramah
Kata yang bisa aku mengerti
dipakai Allah
penuh masa kanak

Aku tidak kehilangan roti saja
atau air minum
yang tidak harus dibeli
Orang perlu kesabaran
kalau berbicara kepadaku

Kata-kata tepat belum merajai jiwa
kata layak ? kata cocok ? kata pantas ?
mengira-ngira aku coba
Merasa capai jatuh miskin
tanpa nada konotasi nuansa

Dan tidak mau keindonesia-indonesiaan
Bukan orang Indonesia
Aku tetap orang asing, tetap aku
Hanya terpenjara
antara hati dan lidah

Fenomena Jilbab di Indonesia

Hari Gini Gak Punya Handphone?!?

Agar Liburan di Yogya Lebih Nyaman

Seorang teman Indonesia yang sudah 2 tahun tinggal di Inggris terpaksa beristirahat 2 hari di hotel dalam liburannya ke Yogya baru-baru ini. Dia sakit perut karena tidak cocok dengan makanan tertentu. Padahal, ketika dia masih tinggal di Yogya dulu, kami sering heran ketika beberapa orang asing sakit perut setelah menyantap makanan lokal. “Wah, manja…,” pikir kami waktu itu. Ternyata, sekarang teman itu mengalami hal yang sama. Perut yang sudah lama terbiasa dengan jenis makanan tertentu tidak selalu langsung cocok dengan jenis makanan baru. Kebersihan makanan tidak selalu menjamin bahwa perut yang baru mengenal makanan tersebut akan baik-baik saja. Begitulah kesimpulan seorang teman lain yang sudah berpengalaman tinggal di berbagai negara. Masuk akal juga pendapat itu. Jika perut Anda kurang tahan banting, ada baiknya Anda mengkombinasikan makanan yang biasa Anda makan di negara Anda dengan makanan lokal sebelum Anda beralih total ke makanan lokal. Jika perut Anda sudah berteman dengan makanan lokal, Anda bisa mencoba variasi makanan yang ditawarkan di warung-warung tenda di pinggir jalan. Nasi goreng, sate, soto, ikan goreng atau bakar, dan tentu saja makanan khas Yogya, nasi gudeg, adalah sebagian dari menu enak dan murah yang tersedia..Bagaimana kalau Anda tiba-tiba lapar padahal hari sudah larut malam? Warung Padang yang buka 24 jam siap menyambut Anda dengan menu khas yang pedas. Warung lesehan dengan menu gudeg, ikan atau ayam goreng juga siap melayani Anda dari jam 21.00 sampai jam 04.00.

Masih ada beberapa tips yang akan berguna bagi Anda yang ingin berlibur ke Yogya. Ikuti saja informasi berikut ini:

  • NAIK APA KE Yogya?
    Mungkin Anda lebih kenal Bali dan Jakarta daripada Yogya, namun tidaklah sulit pergi ke Yogya. Ada banyak pilihan alat transportasi langsung ke Yogyakarta atau lewat Bali, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Meskipun masih terbatas, sudah ada beberapa penerbangan internasional langsung ke Yogya, yakni dari Kualalumpur dan Singapura. Harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik pun sekarang lebih murah daripada tiga tahun yang lalu. Harga tiket Jakarta-Yogya atau Bali-Yogya adalah Rp 100.000-Rp 500.000 untuk sekali jalan. Lama perjalanannya 1 jam.

    Jika Anda punya banyak waktu dan ingin santai menikmati pemandangan selama perjalanan, kereta api dari Jakarta bisa Anda pilih. Dengan membayar Rp 150.000-Rp 200.000 untuk harga tiket kereta api eksekutif pagi (Taksaka atau Argo Dwipangga), Anda bisa menikmati panorama sawah-sawah selama perjalanan 6-8 jam.
     

  • CUACA DAN PAKAIAN
    Karena terletak di Indonesia yang tropis, Yogya hanya memiliki 2 musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau berlangsung di antara bulan Mei sampai dengan November dan musim hujan dari Desember sampai dengan Mei. Udara Yogya lembab. Ini akan membuat Anda hampir selalu merasa kepanasan. Suhu udara bisa mencapai 35o C.

    Demi kenyamanan pakailah pakaian dari katun atau bahan lain yang menyerap keringat. Jika Anda malas membawa banyak pakaian, jangan khawatir! Di Pasar Beringharjo dan kaki lima Jalan Malioboro (di pusat kota) puluhan penjual menawarkan aneka pakaian dengan corak etnik untuk konsumsi turis. Tampil modis dalam rok atau kemeja batik bisa Anda lakukan tanpa biaya tinggi. Jika Anda tidak ingin tampil terlalu turistis, toko-toko di Malioboro Mall menyediakan pakaian-pakaian untuk kesempatan formal maupun santai. Anda juga bisa menjelajahi outlet pakaian yang tersebar di seluruh Yogya. Yogya sebagai kota mahasiswa memang menawarkan berbagai kesempatan untuk tampil trendy dengan ‘harga mahasiswa’.
     

  • KERAMAIAN DAN AKOMODASI
    Anda berasal dari negara yang tidak padat penduduknya? Jika ya, Anda akan melihat bahwa di Yogya jalan-jalan begitu padat. Ke mana pun pergi Anda akan selalu bertemu orang, atau sepeda motor. Keadaan ini membuat Yogya tak pernah sepi dari suara. Yang mungkin tidak Anda jumpai di negara Anda, di Indonesia termasuk Yogya, lima kali sehari Anda bisa mendengar adzan dari loudspeaker mesjid.
    Jika Anda sensitif terhadap suara, misalnya, Anda sulit tidur jika ada suara kendaraan, sebaiknya Anda mengecek beberapa hal sebelum memilih tempat akomodasi . Anda bisa tinggal di hotel berbintang yang bebas dari kebisingan. Jika Anda lebih suka hotel kecil atau losmen, Anda bisa memilih losmen yang tidak terlalu dekat dengan sumber-sumber suara yang dapat mengganggu Anda.
     
  • KEAMANAN
    Seperti kota-kota lain di dunia, Yogya tidak bebas copet. Anda tidak perlu terlalu takut, namun berhati-hati merupakan pilihan terbaik. Bawalah tas Anda dengan posisi aman dan jangan membawa dokumen-dokumen penting dan barang-barang berharga kecuali jika memang harus.

    Di Yogya ada Polisi Pariwisata yang dapat Anda hubungi untuk masalah keamanan. Polisi Pariwisata berkantor di lantai 2 gedung Tourist Information Centre di Jalan Malioboro.
     

  • VISA
    Kebanyakan turis mendapatkan visa turis yang berlaku selama 1 bulan. Ada beberapa macam aturan visa tergantung negara asal Anda (silakan lihat di www.expat.or.id/info/docs.html). Jika Anda perlu tinggal di Yogya lebih dari 1 bulan, misalnya untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia, Anda bisa mengajukan permohonan ke Kedutaan Indonesia di negara Anda untuk mendapatkan visa sosial budaya. Visa ini berlaku selama 2 bulan dan dapat diperpanjang di Indonesia setiap bulan. Perpanjangan tersebut maksimal 4 kali.

    Nah, Anda tertarik untuk datang ke Yogya? Segera hubungi biro perjalanan Anda. Mudah-mudahan beberapa tips tadi berguna untuk Anda sehingga kunjungan Anda tidak berakhir di rumah sakit atau berlangsung lebih singkat karena salah visa.

    Sampai jumpa di Yogya!