Our School

Alam Bahasa Indonesia

Categories

  • No categories

Pencuri Apel

Di suatu senja, dua anak laki-laki mencuri apel dari sebuah kebun. Sayang sekali, mereka ketahuan dan dikejar oleh pemilik kebun apel. Karena dikejar-kejar, dua anak itu berlari terus dan sebelum hari menjadi gelap, mereka sampai di satu kuburan.

Mereka bersembunyi di balik satu batu nisan. Satu dari dua anak itu kemudian menaruh semua apelnya di tanah, tetapi ada dua apel menggelinding ke pintu gerbang kuburan. “Tidak apa-apa. Kita akan mengambil dua apel itu nanti, ketika kita pulang,” katanya. “Sementara menunggu hari menjadi lebih gelap, yuk kita bagi apel-apelnya di sini!”.

Ketika itu, seorang wanita setengah baya melewati daerah kuburan itu. Tiba-tiba, ia mendengar suara lirih di balik batu nisan. “Satu untuk saya, satu untuk kamu. Satu lagi untuk saya, satu lagi untuk kamu”.

Mendengar itu, wanita itu merasa takut sekali dan lari. Di luar kuburan, dia bertemu dengan dengan seorang laki-laki. “Tolong,” katanya, “Di kuburan sana, di balik batu nisan, ada hantu yang sedang membagi-bagi tubuh manusia.” Meskipun laki-laki itu merasa tidak yakin, dia masuk ke kuburan bersama wanita itu. Ketika mereka sampai di pintu gerbang, mereka mendengar lagi suara bisik-bisik. “Nah, terakhir, satu untuk kamu, dan satu untuk saya. Dan jangan lupa, ada dua lagi di dekat pintu gerbang”.

Dan larilah wanita dan laki-laki itu.

Gus Dur

Cerita Ratyat: Putri Mandalika

Bahasa Anak

Kehadiran anak yang sudah lama ditunggu-tunggu tentu saja sangat membahagiakan kami. Bisa mengikuti perkembangan fisik dan pertumbuhan mentalnya merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh menakjubkan. Setiap hari kami tersenyum karena tingkah lakunya yang menggelikan. Semakin lama, kemampuan bahasanya juga semakin baik.

Banyu Gunung (artinya air gunung.) adalah nama anak kami. Sekarang dia sudah berumur 15 bulan. Sejak berumur 2 bulan, dia sudah menunjukkan gejala "cerewet". Di usia itu dia suka sekali mengoceh. Banyak orang bilang bahwa dia akan cepat bisa bicara karena ayahnya dan saya, ibunya, banyak bicara. Teman-teman saya di kantor pun memberi predikat "cerewet" kepada saya. Itu karena saya memang selalu banyak bicara.

Sejak usia 2 bulan, Gunung sudah biasa saya bacakan cerita (dari buku cerita) sambil melihat gambar-gambarnya. Dia mendengarkan cerita yang saya baca sambil menggerak-gerakkan badannya dan mengoceh tidak karuan seolah-olah dia mengerti apa yang saya bacakan.

Tanpa berpikir apakah dia mengerti atau tidak, setiap hari saya mencoba berbicara dengannya. Saya yakin bahwa dia akan bisa menangkap kata-kata yang saya ucapkan kalau saya sering berkomunikasi dengannya. Seringnya dia saya ajak berkomunikasi akan membantu mengasah otaknya untuk bisa merekam kata-kata yang dia dengar. Saya selalu menjelaskan kepadanya apa yang sedang saya lakukan. Tanpa saya sadari bunyi-bunyi bahasa itu terekam dalam ingatannya dan akhirnya pada umur 9 bulan dia bisa mengerti kalimat-kalimat perintah sederhana.

Ketika dia masih di dalam kandungan saya, saya suka mendengarkan musik. Sekarang Gunung sulit tidur kalau tidak ada musik. Ternyata tanpa saya sadari, kebiasaan itu sangat bermanfaat untuk dia. Pada umur 7 bulan dia sudah bisa mengikuti lagu anak-anak dengan ikut mengucapkan bunyi-bunyi akhirnya. Semakin lama, semakin banyak kata yang dikuasainya. Kini, dalam usia 15 bulan, dia bisa mengikuti dan menyanyikan 6 lagu anak-anak yang sering saya nyanyikan.

Kalau saya perhatikan, dia belajar bahasa dengan menirukan ucapan orang-orang di sekitarnya. Gurunya di playgroup juga mengatakan bahwa dia bisa dengan cepat menirukan ucapan gurunya.

Saya yakin, penting bagi para orang tua untuk selalu mengajak anak-anak mereka berkomunikasi , baik dengan berbicara maupun menggunakan ekspresi-ekspresi gerakan badan. Kita juga perlu menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan anak-anak mendengar orang bicara dan kemudian menirukan apa yang dia dengarkan. Hal itu akan mempermudah pemerolehan bahasa bagi anak.

Sayang

Satu kata bisa berarti banyak, lho. Setiap kata dalam suatu bahasa seringkali memiliki lebih dari satu makna. Perbedaan makna terjadi ketika satu kata berada dalam susunan kalimat yang berbeda atau diikuti oleh kata-kata yang berbeda. Perbedaan makna juga akan terjadi apabila kata-kata tersebut dipakai dalam bidang yang berbeda. Perbedaan makna perlu diperhatikan ketika orang sedang mempelajari suatu bahasa supaya pembelajar bisa menggunakan kata-kata dalam bahasa yang dipelajarinya dengan baik dan benar.
Salah satu contoh kata dengan makna yang berbeda-beda adalah sayang. Berikut adalah beberapa makna dari kata sayang yang sering digunakan:

1. Kata sayang mempunyai makna yang sama dengan kata cinta, contoh:

 

  • Setiap orang tua pasti sayang kepada anak-anaknya.
  • ‘Saya sayang kamu.’ kata Haris kepada istrinya.

2. Kata sayang dipakai sebagai kata sapaan, yaitu memanggil orang yang dicintai atau disayangi, contoh:

  • Sayang, di mana kamu?’
  • ‘Apa kabar, Sayang?’

3. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa kasihan, contoh:

  • Sayang, mereka tidak bisa melanjutkan sekolah.
  • ‘Aduh sayang, sakit ya?’ kata ibu kepada anaknya yang baru saja terjatuh.

4. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa menyesal, contoh:

  • Sayang sekali, saya tidak bisa datang ke pesta pernikahan Anda.’
  • Marina adalah gadis yang cantik dan baik. Sayangnya, dia sering bergaul dengan anak-anak berandalan.
  • Sayang, korban-korban bencana alam itu belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Kata sayang di sini bisa diikuti oleh kata lain seperti: sayang sekali, sayang benar dan sayangnya.

5. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa rugi (tidak rela), contoh:

  • Ayam ini sayang kalau disembelih. Kita bisa menjualnya ke pasar dan mendapatkan uang.
  • Sayang kalau kamu tidak melanjutkan sekolah. Zaman sekarang ini, sekolah sangat penting untuk mengembangkan kemampuan kamu.
    Kata kalau di dalam kalimat di atas biasanya dipakai dalam makna ini.

Perbedaan makna pada kata sayang sangat dipengaruhi oleh emosi seseorang. Penggunaan intonasi dan gaya bahasa juga dapat menimbulkan perbedaan makna, terutama ketika kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa kasihan dan menyesal. Hal ini dipengaruhi oleh hubungan antara pengguna bahasa (pembicara dan yang diajak bicara), apakah hubungan emosinya dekat atau tidak, sangat menentukan makna kata itu.

Oleh karena itu, hendaknya pembelajar bahasa memperhatikan juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut, bukan hanya mengartikan bahasa berdasarkan padanan katanya di bahasa lain atau berdasarkan struktur kalimatnya saja.

Istilah Islam

Istilah-istilah ini diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Istilah Agama Islam dan informasi tambahan dari penulis yang berdasarkan fakta dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya istilah yang seringkali dipakai oleh orang Islam Indonesia ini tidak semuanya berasal dari Islam atau bahasa Arab secara langsung. Sebagian besar telah mengalami pencampuran kebudayaan Indonesia terutama budaya Jawa.
Berikut beberapa istilah untuk pemuka agama dalam Islam yang sangat sering kita dengar:

Da’i: orang yang mendakwahkan agama Islam, atau orang yang mengajak umat Islam untuk kembali ke jalan Allah.

Imam: 1. Pemimpin, penguasa atau ketua dari kelompok tertentu atau suatu aliran (mazhab), juga merupakan sebutan atau gelar bagi seseorang, contoh: Imam Bonjol (pemimpin dari kelompok perjuangan kemerdekaan), Imam Hambali (salah satu pemimpin mazhab dalam Islam); 2. Seorang pemimpin dalam shalat berjamaah.

Kyai/Nyai: kiai (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Ada beberapa pemahaman tentang istilah kiai. Dulu istilah ini dipakai sebagai sebutan untuk orang-orang yang ditakuti, disegani atau yang memiliki kemampuan ghaib yang tinggi (kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya), contoh: dukun, mpu atau guru dalam perguruan keagamaan atau persilatan.
Istilah kiai juga dipakai untuk mengawali nama benda-benda yang dianggap bertuah atau mempunyai kekuatan ghaib, seperti: senjata, keris, kereta raja, gamelan dll.
Kata kiai juga digunakan sebagai nama samaran untuk harimau apabila seseorang akan melewati hutan. Harimau dianggap sebagai binatang yang berkuasa di hutan dan sangat ditakuti. Karena orang takut menyebut namanya bila melewati hutan, mereka sering memakai kata kiai sebagai pengganti sebutan harimau.
Saat ini istilah kiai sering digunakan untuk menyebut orang-orang yang pandai dalam ilmu agama Islam atau alim ulama, disamping itu mereka juga dianggap memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan orang biasa. Lebih khusus lagi, kiai adalah sebutan bagi seorang pemimpin pondok pesantren terutama yang tradisional (NU). Jadi, istilah ini sesungguhnya bukan istilah dari agama Islam melainkan dari budaya Jawa. Dalam kelompok agama Islam yang modern tidak dikenal adanya istilah kiai ini.

Ustad/ustadzah: guru yang mengajarkan agama Islam. Dalam sebuah pesantren dia membantu kiai mengajarkan ajaran Islam kepada santri-santrinya. Ustad/ustadzah dipilih dan dipercaya oleh kiai untuk mengajar di kelas. Istilah ini digunakan pula untuk memanggil orang yang mengelola masjid di suatu wilayah. Selain merawat masjid biasanya mereka juga mengajar anak-anak di lingkungan masjid membaca Al-Qur’an atau hukum-hukum dalam Islam.
Sebutan ustad/ustadzah ini juga dipakai untuk orang yang berdakwah atau menyampaikan ajaran Islam di mana pun, seperti di televisi, pengajian-pengajian, majalah dll. (bukan dari bahasa Arab)

Syekh: 1. Sebutan kepada orang Arab terutama dari keturunan Nabi; 2. Sebutan orang Arab yang berasal dari Hadramaut; 3. Sebutan bagi alim ulama, hampir sama dengan kiai; 4. Pemimpin orang-orang yang naik haji.

Wali: 1. pelindung, penolong, penguasa; orang yang dekat jiwanya kepada Allah SWT. Ada sembilan ulama yang merupakan pelopor dan pejuang pengembangan Islam (islamisasi) di pulau Jawa pada abad ke lima belas (masa kesultanan Demak) yang biasa disebut Wali Songo. 2. Pada masa sekarang kata wali juga diartikan sebagai wakil orang tua atau orang yang ditunjuk sebagai wakil orang tua seorang anak/murid

Penggunaan Kalimat Pasif Di- Dalam Kalimat

Di dalam tulisan ini ditampilkan beberapa contoh kesulitan yang dialami murid bahasa Indonesia di PURI Bahasa ketika membaca artikel dari media cetak. Tentu saja, dibahas juga bagaimana mengatasi masalah ini.

Banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia sulit menggunakan atau memahami kalimat pasif. Padahal, kalimat pasif sangat banyak digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari.

Berikut ini ada contoh kesulitan yang dialami pembelajar bahasa Indonesia di PURI ketika membaca artikel dari koran.

Pola kalimat pasif di- yang dipelajari murid sebagai berikut:

 

Handoyo menulis surat. (ACTIVE SENTENCE)

 

Surat ditulis oleh Handoyo. (PASSIVE SENTENCE)

Kalau kalimat aktif memakai me – kan, otomatis pasifnya di – kan dan me – i berubah menjadi di – i.

Membaca atau mendengarkan pemakaian kalimat pasif yang sederhana seperti di atas, biasanya tidak ada kesulitan. Tetapi, ketika mulai membaca atau mendengarkan artikel atau tuturan yang kompleks, murid sering mengalami kesulitan memahaminya. Kesulitan ini disebabkan ada banyak pelesapan objek dalam artikel yang panjang atau tuturan yang kompleks.

Contoh – contoh di bawah ini diambil oleh penulis dari koran:

  1. Rendahnya jumlah perempuan dalam mengambil kebijakan dapat dilihat dari sedikitnya jumlah utusan rakyat perempuan.
    (diambil dari artikel " Kepentingan Perempuan dan Kebijakan Publik", Bernas,19-11-2002)
  2. Lombok tak pernah habis dibicarakan.
    (diambil dari artikel "Mengungkap Persoalan Kawin Cerai di Lombok", Kompas,13 Agustus 2001)

    Murid yang terbiasa dengan struktur pasif di- yang lengkap bingung ketika membaca kalimat di atas. Murid mempertanyakan keberadaan objek sesudah kata kerja dengan di-. Tidak ditulisnya objek sesudah pasif di- di atas karena konteks pembicaraannya sudah jelas atau sudah pernah disebutkan dalam kalimat sebelumnya.

Kalau ditulis lengkap, kalimat di atas akan menjadi sebagai berikut:

  1. Rendahnya jumlah perempuan dalam mengambil kebijakan dapat dilihat oleh masyarakat (atau pembaca) dari sedikitnya jumlah utusan rakyat perempuan.
  2. Lombok tak pernah habis dibicarakan oleh masyarakat.

Seringkali pembaca harus menguasai konteks untuk mengetahui objek yang dilesapkan oleh penulis artikel. Salah satu caranya adalah dengan sering berlatih membaca artikel dan mengenali bentuk pasif yang ada. Ada baiknya membaca artikel-artikel tentang bidang yang sama sehingga kata – kata baru bisa sedikit terkurangi. Kalau kata – kata dalam bidang tertentu sudah terkuasai, akan mudah bagi pembaca untuk memahami konteks wacana tersebut.

Membuat Kata Bentukan Dari Kata Sifat

Awalan dan akhiran apa saja yang dapat dipasangkan dengan kata sifat untuk membuat kata bentukan? Apa arti dari kata-kata bentukan tersebut? Temukan jawabannya di artikel ini.

Membuat kata dengan prefiks dan sufiks dari kata sifat tidak sulit kalau kita tahu strateginya. Kata sifat tidak memiliki banyak variasi. Hanya ada dua kategori kata sifat yaitu:
1. emosional (perasaan)
Contoh : marah, sedih, senang, takut, kecewa, bahagia, bingung, dan lain-lain
2. non-emosional. ( warna, ukuran, dll.)
Contoh : panjang, pendek, besar, kecil, dalam, luas, cantik, jelek, panas, dingin, dll.

Mari kita lihat tabel (1) untuk kata sifat emosional dan tabel (2) untuk kata sifat non-emosional

1. KATA SIFAT EMOSIONAL ( perasaan)
 

KATEGORI

KATA

PREFIKS (DAN SUFIKS)
ARTI
 

CONTOH

 

kata kerja ber~ ekspresi karakter
 
sedih, gembira, bahagia, ( 3 saja)
me(N) ~ kan kausatif (membuat objek menjadi) sedih, takut, kecewa, bingung
me(N) ~ i kata dasar kepada objek cinta, percaya, marah,
memper~ membuat menjadi lebih marah, sedih,
memper ~ kan kausatif (membuat objek menjadi) malu,
kata benda


 

pen(N)~
 
orang yang punya karakter
 
marah, sedih, malu, malas,
ke ~ an hal / kondisi( bisa dengan ~ness di bhs. Inggris) marah, sedih, bingung, panik, ragu, takut, (malu tidak bisa)
~nya kondisi marah, sedih, cinta, bahagia,
adverbia

 

se ~ sama semua emosi
se~nya reduplikasi meskipun semua emosi

 

2. KATA SIFAT NON-EMOSIONAL ( warna, ukuran, dll. )


KATEGORI
KATA

 

PREFIKS (DAN SUFIKS) ARTI
CONTOH
kata kerja
 
me(N) ~
 
menjadi (proses internal dan natural)
 
panas, panjang, kecil
me(N) ~ kan kausatif, objek dinamis dingin, kurus, mahal,
me(N) ~ i kausatif, objek statis panas, jauh, dekat,
memper ~ kausatif panjang, keras, lembut
memper~i kausatif baik, baru, lengkap ( 3 saja )
kata benda pen(N)~
 
alat
 
panas, dingin, keras, manis, merah
per ~ alat ?
pe(N) ~ an proses keras, dekat, besar, kecil
per ~ an hal / kondisi baik, lengkap, luas, panjang,
ke ~ an kondisi abstrak (~ness di bhs Inggris) baik, jelek, tajam, indah,
(warna tidak masuk kategori ini)
~ nya ukuran, (ada numeralia, optional) panjangnya ( 25 m )
 

 

adverbia

se ~
 
sama
 
cantik, panjang, tinggi, merah
se~nya reduplikasi se ~adj ~ mungkin (tidak ada limit) cepat, pelan, kuat, banyak
se~nya bukan reduplikasi se ~ adj ~ mungkin (ada batas dan
ada numeralia di belakangnya
cepat, pelan, banyak, tinggi,
(ct: secepat-cepatnya 50 km/jam)

 

Cara Mudah Ingat Kata

Mungkin Anda pernah terbolak-balik dalam memakai kata-kata di bahasa Indonesia. Misalnya, mau mengatakan ‘enam’ tetapi yang diucapkan ‘empat’ atau maksud hati ingin mengatakan ‘murah’ tetapi yang muncul malah ‘merah’. Untuk mengatasi kesulitan ini, simaklah tips dalam artikel ini.

Bagi orang yang baru belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, ketiga dan seterusnya sering timbul kesulitan untuk mengingat kata-kata yang bunyinya mirip. Akibatnya, lain yang dimaksud, lain pula yang diucapkan. Dengan kata lain, keluarnya kata dalam percakapan bisa terbalik-balik, misalnya mau mengatakan ‘enam’ tetapi yang diucapkan ‘empat’ atau maksud hati ingin mengatakan ‘murah’ tetapi yang muncul malah ‘merah’.

Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa cara yang dapat dicoba. Cara pertama khusus bagi yang sering terbalik mengucapkan angka-angka yang berbunyi mirip. Tekniknya, mereka dapat menghafalkan angka-angka tersebut dalam bentuk gabungan dimulai dari angka yang terkecil, misalnya 46 (empat enam) atau 89 (delapan sembilan). Melalui cara ini diharapkan kemungkinan terbaliknya ucapan pada saat berkomunikasi dapat dihilangkan karena di dalam ingatan, urutan angka tersebut telah terstruktur.

Cara kedua ialah dengan menghafalkan kata-kata yang mirip bunyinya dalam sebuah kalimat yang bermakna, misalnya ‘baju merah itu murah’; ‘kalau marah, mukanya merah’ atau ‘ kepalaku bukan kelapa’ dan ‘perawat naik pesawat’.

Cara yang ketiga lebih memacu kreativitas -ketimbang kedua cara terdahulu- karena kata-kata yang berbunyi mirip terlebih dahulu harus dirangkaikan dalam bait puisi atau lagu, baru kemudian dinyanyikan sambil dihafalkan, tentunya setelah diberi notasi sederhana yang bisa diciptakan sendiri. Contohnya:

Sumirah, gadis muda
Ramah dan tidak mudah marah
Kalau malu wajahnya merah
Sumirah punya buku merah
Bahasanya mudah, harganya murah.

Lewat jalan mendendangkannya secara rutin, hubungan antara bunyi dan makna benar-benar melekat di benak seseorang. Dengan demikian, kemungkinan simpang siurnya kata-kata yang berbunyi mirip ketika akan diucapkan mudah-mudahan tidak terjadi lagi

Bagaimana ???, mau coba???, atau Anda punya cara yang lain lagi.
 

 

PAYAU

PAYAU……. Yok, menambah pengetahuan tentang salah satu satwa di Kalimantan!

payau

Kata payau tentu tidak terlalu asing bagi telinga kita. Akan tetapi, payau yang ini bukan payau yang kita kenal sebagai campuran air sungai dan laut di pantai Bukan pula hutan yang ada di pantai. payau yang ini adalah sebutan orang Kalimantan untuk rusa. Mungkin karena mengeluarkan suara piu¡­piu¡­piu, maka dinamailah payau. Sepintas suaranya hampir mirip suara orang lho. Binatang ini hidup di Hutan Kalimantan, yang dewasa tingginya kira-kira 1 meter, beratnya bisa mencapai 60 kiloan, dan badannya berbulu coklat. Harga sekilo daging payau pada tahun 1993 sekitar empat ribu rupiah, sekarang bisa mencapai lima belas ribu rupiah. Lumayan kan kalau sekali berburu dapat 10 sampai 15 payau. Taruhlah dapat 10 payau berarti ada 9 juta di tangan. Eit¡­.tunggu dulu, itu masih dibagi lagi lho, karena biasanya pemburuan dilakukan berkelompok antara 3 sampai 5 orang. Waktu berburunya pun bisa sampai seminggu. Begitu dapat payau, pada hari itu juga langsung mereka bawa ke pasar terdekat. Lalu mereka kembali lagi ke hutan. Kalau sudah dapat 10-15 ekor barulah mereka pulang.

Pengen tahu gimana rasanya berburu payau di Hutan Batu Apar, Bengalon, Kabupaten Kutai Timur? Berikut ini adalah pengalaman Slamet seorang perantau kelahiran Rembang, Jawa Tengah, yang dituturkan kepada penulis.

Sebetulnya berburu payau bukanlah cita-citanya. Akan tetapi, sudah lama dia menggangur lantaran tidak punya pekerjaan. Akhirnya, tawaran beberapa pemuda Kutai untuk bercocok tanam di hutan pun diterimanya. Meskipun ada rasa heran dengan istilah "bercocok tanam" tetapi keheranannya dia simpan saja di dalam hati.

Dengan membawa perbekalan seperti beras, mie, dan ikan asin juga peralatan memasak seperti ketel dan ceret berangkatlah mereka ke Batu Ampar. Biasanya mereka pergi ketika musim tumbuhan bersemi karena payau-payau suka makan daun muda. Hutan Batu Ampar pada tahun 90-an masih perawan, pohon-pohonnya lebat dan tinggi. Di dalamnya bisa kita temukan danau dengan air yang sangat bening dan bersih. Begitu sampai di pondok mereka disambut gonggongan beberapa anjing. Itu bukan suatu gonggongan yang menakutkan tetapi ucapan selamat datang bagi tuannya. Mereka bisa membedakan antara tuannya atau bukan. Jadi, jangan coba-coba untuk mencuri anjing-anjing tersebut. Bisa-bisa kita terkena gigitan mautnya. Anjing itu bukan anjing biasa tetapi anjing kampung yang sudah terlatih keahlian berburunya. Harga satu anjing yang bisa diandalkan sekitar 700 ribu rupiah.

Sesudah beristirahat sebentar, segera saja mereka berangkat ke hutan dengan membawa tombak yang batangnya terbuat dari kayu ulin. Kayu khas Kalimantan yang sangat terkenal kuat dan tahan air. Oh, ternyata Slamet diajak berburu payau bukannya bercocok tanam beneran. Begitu mendengar suara piu¡­.piu¡­.piu si anjing-anjing itu langsung lari secepat kilat meninggalkan tuan-tuannya. Pemburu itu langsung menyebar ke segala arah untuk mencari anjing mereka. Biasanya anjing-anjing itu ditemukan di sekitar danau, di tempat itu pula biasanya payau yang kelelahan berada. Selain lelah kaki payau pun biasanya luka digigit anjing. payau itu langsung ditombak di bagian jantungnya. Supaya tepat sasaran, tombak diarahkan di bawah leher dan di antara kaki depan. Karena itu, kalau pemburu terlalu lama menemukan mereka, bisa saja payau yang sudah sehat kembali akan melihat kesempatan ini untuk melarikan diri secepatnya. Anjing-anjing itu sudah tidak punya tenaga lagi, jadi begitu lihat air langsung deh mereka minum sepuasnya. payau yang berhasil ditangkap mereka kuliti di hutan lalu mereka pikul untuk dipotongi dan dijual di pasar Bengalon.

Sayangnya si anjing tidak kebagian jatah hasil buruhannya. Bukannya pelit sih, tapi si anjing memang dilarang makan daging payau. Kalau sudah pernah makan, bakalan tidak mau diajak berburu payau lagi. Jadi, si anjing dikondisikan untuk penasaran terus. Sebagai gantinya si anjing dapat daging landak atau babi.

Pertama kali Slamet mendapat payau tidak dengan cara berburu tetapi dengan menjerat. Hasil jeratannya pun hanya seekor anak payau yang kecil. Jeritannya piu¡­piu¡­piu¡­. yang sangat lemah itu membikin Slamet kasihan dan ingin melepaskan saja si payau kecil itu. Begitu ingat tujuaannya mencari uang niat itu diurungkan lagi dan dia tombak juga payau itu.

Kalau mau memasang jeratan pun harus penuh strategi karena payau sangat tajam penciumannya. Sesudah memasang jeratan, pemburu harus jalan mundur dan tanah yang akan dipijak dialasi daun supaya bau manusia tidak tertinggal di lokasi penjeratan. Binatang yang terjerat akan tergantung di pohon. Karena itu, harus pilih pohon yang kuat, eh siapa tahu dapat payau besar. Tali yang biasanya mereka gunakan adalah nilon.

Pernah suatu saat mereka diserbu dua ekor banteng besar yang marah karena anaknya berhasil dibunuh Slamet. Karuan saja mereka lari terbirit-birit dan memanjat pohon yang terdekat. Banteng itu menyodok-nyodokkan tanduknya dengan kuat ke pohon yang mereka panjat. Untung saja pohon itu cukup besar dan kuat. Setelah setengah hari nangkring di pohon dengan ketakutan, mereka baru ingat petuah tetua Kutai. Mereka langsung mengetuk-ngetuk batang pohon pakai mandau (parang Kalimantan) dengan irama yang tetap tok¡­tok¡­.tok. Eh bener saja, banteng-banteng itu lalu gloyor masuk hutan, kemarahan segera saja lenyap entah ke mana. Akhirnya mereka bisa bernafas lega dan turun dari pohon.

Kadang mereka bertemu dengan orang hutan (bukan orangutan lho) yang masih bajunya dari kayu hutan. Langsung saja mereka petik ranting dan menanam kembali ke tanah. Itu sebagai sandi bahwa mereka tidak saling ganggu. Tempat beburunya pun bisa berpindah-pindah. Mereka bisa tidur di atas karung yang digantung 1 meter di atas tanah. Mau tahu caranya buat tempat tidur darurat ? Lubangi kedua ujung karung lalu masukkan tongkat di kiri dan kanannya. Sesudah itu, ikat keempat ujung tongkat dengan kayu yang sudah ditancapkan ke tanah. Cara masaknya pun mirip kalau kita sedang berkemah dengan menggantungkan ketel atau ceret di kayu.

Rasa daging payau mirip daging domba atau kambing. Bagi kaum laki-laki, ada mitos bahwa janin payau bisa dipakai sebagai obat kuat laki-laki. Janin mentah itu dicampur dengan bir lalu diteguk begitu saja.

Nah, kalau Anda suka berpetualang dan menikmati ketegangan yang mengasyikkan, silakan coba bergabung dengan pemuda Kutai yang sampai sekarang masih menekuni kegiatan berburu di hutan bersama anjing-anjing pintar. (Guntari)