|
||||||
|
Andai waktu bisa diputar Katrin 4876Puisi tanpa judul ini ditulis oleh Katrin 4876 yang merupakan nama pena dari salah seorang guru bahasa Indonesia di Puri ILP.
Bunga mawar tumbuh sendirian, Bulan terang terbit tanpa peringatan, Ketika salat subuh terdengar, Murid Alam Bahasa Indonesia
Kala ku punya sayap Kala ku bisa terbang Kala ku capai bahana Kala ku hadap sang pencipta Suatu sore di Candi Sambisari Sejarah Candi Sambisari
Candi Sambisari adalah candi Hindu Siwaistis. Candi ini berfungsi sebagai monumen dan tempat pemujaan, sampai sekarang candi ini juga masih dipakai sebagai tempat pemujaan atau berdoa dan tempat penyelenggaraan upacara keagamaan bagi pemeluk agama Hindu. Candi Sambisari yang terbuat dari batu andesit ini merupakan kompleks percandian yang mempunyai 1 candi induk dan 3 buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke barat. Candi ini tidak punya kaki candi. Alas candi juga berfungsi sebagai kaki candi. Di bagian badan candi terdapat relung-relung. Di atas relung-relung tersebut terdapat hiasan kepala Kala di atasnya. Di dalam setiap relung terdapat sebuah patung. Kompleks candi Sambisari ini dikelilingi batu putih berukuran 50 x 48 meter. Di teras candi terdapat 12 batu ( 8 batu persegi dan 4 batu bulat ) di sekeliling bilik pemujaan. Ada apa di Candi Sambisari?Patung Agasya
Patung Durga Mahissasuramardini
Patung Ganeca
Selain patung Durga, Agastya dan Ganesha, di kiri ¨C kanan pintu masuk dulu juga terdapat 2 patung penjaga pintu candi, yaitu Mahakala dan Nandiswara, tapi sekarang sudah hilang dicuri. Selama tiga tahun terakhir, permintaan beasiswa semakin banyak dikirimkan kepada PURI PEDULI. Untuk menanggapi hal tersebut, pada tahun ajaran 2002/2003 ini kami menambah jumlah beasiswa. Sebelumnya, kami memberikan beasiswa untuk 26 siswa. Pada tahun ajaran 2002/2003, kami memberikan beasiswa untuk 53 siswa. Jadi, ada penambahan 27 siswa. Mudah-mudahan dengan adanya penambahan ini, kami diberi lebih banyak kemudahan dan kami mendapat lebih banyak dukungan dari banyak pihak. TERIMA KASIH KAMI Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami. Di edisi ini, kami mengucapkan terima kasih kepada yang baru-baru ini memberi bantuan kepada kami, yaitu:
Pada tanggal 28 Mei 2002, Sri Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putri sulungnya, GKR Pembayun. Acara pernikahan tersebut diselenggarakan sesuai dengan adat dan prosedur keraton yang telah dipegang selama berabad-abad. Sebetulnya, prosesi pernikahan itu diawali sejak sehari sebelumnya dengan acara Siraman Putri. Dalam acara Siraman Putri ini, yang diizinkan masuk hanyalah para gusti putri atau bendara putri. Acara Siraman Putri ini diakhiri dengan pengangkatan kendhi oleh GKR Hemas, ibu dari pengantin putri, sambil mengucapkan doa. Kendhi yang berisi air dari tujuh mata air tersebut dihiasi dengan bunga melati. Sesudah diangkat, kendhi itu kemudian dipecah. Setelah siraman, ada upacara potong rambut dan ngerik. Sesudah itu, dengan selembar kain putih, GKR Hemas menutup kepala GKR Pembayun dan kemudian ngratus rambut putri sulungnya. Sementara itu, di Ksatriyan para abdidalem memasang tawuhan komplit, yang terdiri dari bermacam-macam hasil panen orang. Tawuhan dipasang di Regol Ksatriyan dan juga di pintu Gedung Pompa, lokasi siraman calon pengantin laki-laki. GKR Hemas dan calon besannya juga mendatangi Ksatriyan, begitu selesai dengan acara Siraman Putri. Malam harinya, dilaksanakan upacara tantingan. Pada saat tantingan inilah, Sri Sultan HB X sebagai Raja ataupun sebagai orangtua menanyakan kesediaan putrinya untuk dinikahkan. Setelah sultan nanting putrinya, doa puji syukur kepada Tuhan pun dipanjatkan bersama-sama. Acara dilanjutkan dengan penyelesaian urusan administrasi oleh Petugas KUA (Kantor Urusan Agama). Keesokan harinya, di Masjid Penepen, dilaksanakan prosesi ijab kabul. Prosesi ini hanya diikuti para laki-laki termasuk ayah calon pengantin pria. Prosesi tersebut terdiri dari khutbah nikah, ijab kabul oleh Sri Sultan HB X, dan penyelesaian administrasi oleh petugas KUA. Siangnya merupakan puncak dari upacara pernikahan yang diawali dengan upacara panggih. Upacara panggih terdiri dari edan-edanan, balang-balangan gantal, mijiki, mecah telur dan kemudian diakhiri dengan pondhongan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat yang dilaksanakan di Emper Bangsal Prabayeksa. Pengantin dan besan Dalem kemudian menuju Kagungan Dalem Ksatriyan untuk melaksanakan upacara tampa kaya dan kemudian menuju Gadri Ksatriyan untuk melaksanakan upacara dhahar klimah. Sore harinya acara dilanjutkan dengan Kirab Mubeng Beteng. Pada malam harinya dilaksanakan resepsi pernikahan di Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Dalam acara tersebut dipergelarkan dua tarian, yaitu Bedhaya Manten dan Beksan Lawung Ageng.
disarikan dari Kedaulatan Rakyat |
||||||
|
Copyright © 2012 Bulletin Online Alam Bahasa Indonesia - All Rights Reserved |
||||||
Popular Posts