Our School

Alam Bahasa Indonesia

Kunjungan ke Panti Asuhan “Sayap Ibu” Yogyakarta

Kunjungan ke Sayap Ibu Kunjungan ke Sayap Ibu Kunjungan ke Sayap Ibu
Foto- foto kunjungan ke panti asuhan Sayap Ibu Yogyakarta

Pada tanggal 29 Januari 2005, kami mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan “Sayap Ibu” di Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian agenda kegiatan Plus yang diadakan Unit Bahasa bagian Bahasa Indonesia.

Di dalam panti tinggal 15 anak yang berumur antara 0 bulan sampai 5 tahun, selain itu juga ada 11 pengasuh yang tinggal disana. Kedatangan kami diterima dengan hangat oleh pemimpin panti, Bapak Jumari. Sesudah kami duduk, beliau menjelaskan “asal usul” anak-anak yang tinggal di dalam panti. Kebanyakan dari mereka tidak dikehendaki oleh orang tuanya, bahkan ada beberapa anak yang menyandang cacat tubuh ataupun mental karena pernah mengalami usaha pengguguran.

Di samping itu Sayap Ibu juga memberikan pelayanan konseling dan tempat tinggal sementara untuk wanita-wanita yang hamil di luar nikah guna menyelamatkan janin mereka dari tindakan pengguguran. Program ini dapat dikatakan sukses, karena 90% dari wanita-wanita tersebut , yang biasanya ditolak oleh keluarga atau orang tuanya, akhirnya bisa kembali ke tengah keluarga dengan membawa bayi mereka.

Panti Asuhan “Sayap Ibu” buka setiap hari dari jam 8.00 – 12.00 dan sore dari jam 15.00 – 18.00. Kepada kami Pak Jumari menekankan bahwa para pengunjung tidak harus membawa “bingkisan” untuk anak-anak, karena memberi perhatian saja untuk mereka sudah lebih dari cukup. Perhatian ini bisa diberikan dengan cara membelai, menggendong maupun bermain-main bersama mereka.

Pada kesempatan ini selain memberikan perhatian untuk anak-anak tersebut, kami juga memberikan bantuan materil berupa baju bayi dan anak-anak, sepatu, mainan, makanan kecil dan susu. Kemudian kami bermain dan bernyanyi bersama dengan anak-anak yang berumur 2 – 5 tahun sampai siang hari.

Akhirnya karena jam kunjung panti sudah habis, kami pulang sembari membawa kesan mendalam di dalam hati kami masing-masing. Kami semua berharap dapat sering berkunjung dan berbuat lebih banyak lagi untuk mencurahkan kasih pada anak-anak di “Sayap Ibu”.

Indahnya Suara Gamelan di Sore Hari

Ketika saya duduk di teras rumah sambil menikmati kopi hangat ditemani pisang dan tahu goreng, samar-samar terdengar suara gamelan jawa dari rumah tetangga. Suasananya terasa sangat akrab dan indah. Hal itu mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di universitas. Kami harus belajar bermain gamelan. Suasana indah dan mengesankan pada saat itu sampai sekarang masih segar dalam ingatan saya.

Musik daerah di Indonesia ada bermacam-macam, di antaranya yang paling terkenal adalah gamelan. Gamelan digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang atau tarian. Kata “gamelan” berasal dari bahasa jawa “gamel” yang berarti alat musik atau alat yang dipukul dan “gangsa” yaitu sejenis logam campuran tembaga dan rejasa atau timah. Di Jawa khususnya, musik daerah ini disebut karawitan yang punya arti kehalusan yang diwujudkan dalam seni gamelan. Ada beberapa seni yang erat hubungannya dengan karawitan antara lain:

  1. Seni suara, seni secara vokal pada gamelan diantaranya sinden, bawa, gerong, sendon dan celuk.
  2. Seni pedalangan, ada bermacam-macam diantaranya wayang purwa, wayang klithik, wayang gedog, wayang golek, wayang beber, wayang suluh(wayang perjuangan) dan wayang wahyu (tentang perjanjian lama/baru).
  3. Seni tari, ada bermacam-macam diantaranya ada yang bermakna yaitu tari Srimpi, Bedayan, Golek, Wireng (Yogya), Pethilan ( dari Solo artinya tari yang diambil sebagian saja)

Seperangkat gamelan terdiri dari bermacam-macam alat musik. Seperangkat kecil biasanya terdiri dari tiga belas alat musik, sedangkan yang besar biasanya terdiri dari empat belas sampai dua puluh satu. Nama-nama gamelan baku seperti tersebut di bawah ini:

1. Rebab (bentuknya seperti biola bertali dua)
2. Gender barung (besar)
3. Gender penerus (kecil)
4. Gambang (terbuat dari kayu)
5. Suling
6. Siter
7. Clempung (di Sunda disebut kecapi)
8. Kendang (terdiri dari kendang besar, ciblon dan ketipung)
9. Bonang barung
10. Bonang penerus (kecil)
11. Slenthem (kecil)
12. Demung (besar seperti slenthem)
13. Saron barung (ada 2 besar)
14. Saron penerus/peking (kecil)
15. Kenong (besar)
16. Kethuk (seperti kenong tetapi kecil)
17. Japan (seperti kenong tetapi lebih besar)
18. Kempyang (seperti kethuk dan ada 2)
19. Kempul
20. Gong ageng
21. Gong suwukan

Gamelan non baku :

1. Kemanak, bentuknya seperti pisang /kentongan
2. Kecer
3. Terbang, khusus dipakai dalam gamelan Larasmaya
4. Bedug

Jenis Gamelan:

  1. Gamelan Klenengan (daerah Klaten dan Solo) Uyon-uyon (daaerah Jogjakarta), terdiri dari instrumen, penyanyi/waranggana, gerong tetapi tidak ada tarian.
  2. Gamelan untuk gending Bonang (Solo) atau gending Soran (Jogjakarta), untuk jenis gamelan ini hanya ada beberapa instrumen yang tidak dimainkan seperti rebab.
  3. Gamelan Sekaten, jenis gamelan ini lebih besar daripada gending Soran dan dimainkan pada waktu penutupan sekaten.
  4. Gamelan Perang, dipakai oleh para prajurit Kraton, adapun instrumen yan dipakai adalah: kendang, gong, gubar, gurnan/gurni, bahri/beri, tambur, suling, puksur, tong-tong, maguru gangsa.

Gamelan yang merupakan warisan nenek moyang ini sangat indah dan tidak kalah dengan perangkat musik lainnya. Sayang kalau ditinggalkan atau dilupakan begitu saja. . Karena itu mudah-mudahan hati kita sekalian tergerak untuk mengenal dan belajar memainkannya. Bagaimana?, tertarik?. Jawabannya ada di benak kita masing-masing…..mangga (bahasa Jawa) yang berarti silakan…mencoba.

gamelan bonang

gamelan rebab

gamelan kethuk

Bonang

Rebab

Kethuk

gamelan gambang

gamelan kendang

gamelan gong

Gambang

Kendang

Gong

gamelan saron

Saron

Nikmatnya olahan “Sea food” di Pantai Depok Parangtritis

Di Pantai Depok di dekat Parangtritis kita tidak hanya bisa menikmati pemandangan indah dan suasana khas pantai. Di sana ada pasar ikan yang menjual ikan dan hasil tangkapan dari laut yang masih segar. Selain itu, kita bisa membeli ikan langsung dari nelayan. Harga dan kesegaran ikan di sana tentu lebih bagus dibandingkan ikan yang kita beli di kota. Kita pun bisa langsung menikmati ikan yang kita beli karena ada warung-warung yang bisa memasakkan ikan tersebut. Warung-warung itu pun menyediakan nasi dan lalapan yang sangat cocok untuk teman makan ikan.

jembatan kretek pos retribusi pantai parangtritis pintu masuk pantai depok pos retribusi pantai parangtritis
pasar ikan pantai depok beli ikan dipasar bermain dipantai

Setiap orang yang datang ke Yogyakarta untuk berlibur, pasti tidak pernah lupa singgah di pantai-pantainya yang mengesankan. Khusus bagi penggemar sea food, ada nilai plus bila bisa menikmati sea food sambil ditemani deburan ombak dan angin sepoi-sepoi. Tidak terasa hidangan yang dipesan bisa habis dalam sekejap! Ada beberapa pantai di Yogya yang menyuguhkan olahan sea food yang nikmat, lezat dan tidak menguras kantong. Tentu saja bahan-bahannya masih segar, karena baik ikan maupun hasil laut yang lain didapat langsung dari para nelayan. Fenomena inilah yang ditampilkan beberapa pantai di Yogya, seperti Pantai Baron yang terkenal dengan sup ikan kakapnya atau Pantai Depok-Parangtritis yang terkenal dengan ikan bakarnya. Pengalaman manis kami sekeluarga di Pantai Depok mungkin menarik untuk Anda ikuti. Suatu pagi di hari Sabtu, saya dan keluarga (terdiri dari suami dan anak) sudah bersiap-siap untuk memanjakan mata dan perut. Memang biasanya setiap 2 minggu sekali kami pergi ke Pantai Depok, selain untuk refreshing juga untuk melengkapi terapi /pengobatan anak saya. Kata dokter yang merawatnya, udara pagi di pantai bisa menyehatkan paru-parunya. Meskipun sekarang dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, kebiasaan itu tetap kami lakukan karena kami sudah jatuh cinta pada keindahan Pantai Depok.

Biasanya kami berangkat jam 06.00 pagi dengan harapan masih bisa menikmati udara pagi di pantai selama kurang lebih 3 atau 4 jam. Dari rumah kami yang terletak di Yogya utara perjalanan ini makan waktu kurang lebih 1 jam tergantung rute mana yang kami pilih. Kalau lewat ‘tengah kota’ Yogyakarta artinya kami harus rela menghirup udara berpolusi dan mengalami padatnya lalu lintas pagi hari. Kemungkinan lain lewat jalan lingkar yang biasanya sedikit memutar tapi tidak banyak polusi dan lapang. Alternatif kedua inilah yang biasanya kami pilih, mengingat kami masih sayang pada paru-paru ! Kelegaan itu muncul setelah melewati jalan Parangtritis di sebelah selatan jalan lingkar, lalu lintas di sini sudah tidak sepadat sebelumnya. Pelan-pelan kami lewati café dan restoran Pyramid, ISI lalu restoran Numani. Sampai di sini masih banyak kendaraan yang lalu lalang. Kemudian sampailah kami di pertigaan Tembi yang mulai menyuguhkan pemandangan Bantul ‘asli’. Banyak sepeda melintasi jalan ini. Lalu pandangan kami tertambat pada tulisan “Pasar Seni Gabusan” yang menjadi pusat seni dan tempat menjual hasil pertanian dari Bantul.

Mobil kami terus berjalan melewati perempatan Manding, kemudian terus ke perempatan Jetis. Inilah jalan yang paling kami sukai karena di kanan-kirinya terhampar sawah-sawah yang hijau, dikelilingi bukit-bukit yang indah dan sejuk. Sesekali kami melempar senyum kepada bapak dan ibu tani yang sedang bekerja di sawah. Pemandangan ini mendorong saya merekam aktivitas mereka dengan kamera saya. Tidak terasa jembatan Kretek sudah di depan mata, di bawahnya air kali Opak yang hijau kebiru-biruan mengalir pelan. Kira-kira 150 meter dari jembatan itu tampak Pos Retribusi Pantai Parangtritis. Kurang lebih 25 meter sebelum pos retribusi tersebut, kami harus belok kanan melewati jalan desa yang beraspal mulus. Beberapa meter kemudian sesudah belok kanan, mata kita akan dimanjakan oleh kebun bawang merah yang terhampar luas di kiri jalan sedangkan di kanan jalan ada gedung SMP 2 Kretek Bantul yang berdiri megah. Desa yang kami lewati ini merupakan sentra bawang merah di Kabupaten Bantul.Setelah lima menit sampailah kami di Pos Retribusi Pantai Depok. Kami membayar sebesar Rp 4.000,00 (tanda masuk untuk mobil 500; untuk pengunjung 1.500 per orang) anak saya tidak dihitung karena masih kecil !. Hanya beberapa meter dari pos retribusi di kanan jalan, kami bisa melihat Satuan Polisi Air Daerah Istimewa Yogyakarta (Satpol Air DIY) dan di kiri jalan kami melihat kantor TVRI stasiun Yogyakarta unit transmisi Parangtritis. Lucunya tahun lalu gedung Satpol Air DIY belum berpagar, sedangkan awal tahun ini gedung itu sudah berpagar dan punya beberapa rumah dinas. Dari tempat ini kami bisa melihat gelombang laut seolah menyapa kami. Karena hari masih pagi, kami bermain, duduk-duduk dan berlari-lari di tepi pantai selama kira-kira 2 jam. Lalu kami menunggu sampai pasar ikan buka sekitar jam 09.00 pagi. Di pantai Depok ada 2 cara membeli ikan. Yang pertama di pasar ikan dan yang kedua langsung dari nelayan. Kami lebih suka membeli di pasar ikan karena biasanya nelayan datang lebih siang kira-kira jam 10.00 atau 11.00

Memang kalau kita membeli ikan langsung dari nelayan harganya lebih murah tetapi kami tidak bisa memilih ikan yang sesuai dengan selera kami. Selain itu kami juga harus membeli dalam jumlah besar karena sistem jualnya borongan. Harga-harga ikan di pasar ikan masih di bawah harga di kota. Sebagai gambaran per kilogram ikan Bawal Rp 16.000,00; ikan Cakalang Rp 9.500,00 ; Cumi-cumi Rp 23.000,00 : Udang Windu Rp 36.000,00. Dengan catatan satu dollar Amerika saat itu sama dengan Rp 9.300,00 Harga-harga ini juga tergantung musim. Sebagai contoh harga akan lebih tinggi bila purnama tiba.

Di pasar ikan, kami bisa pilih ikan yang kami sukai, dan juga kami sudah punya langganan tetap di sana. Ketika membeli hasil laut di kios Bu Supar, kami selalu mendapatkan ikan, udang atau cumi-cumi dengan kualitas yang baik. Setelah membeli ikan kakap putih dan cumi-cumi, kami selalu pergi ke warung Ibu Nakidi yang bernama “Sedyo Rukun”. Warung Ibu Nakidi sudah menjadi langganan tetap kami, lokasi warungnya strategis karena langsung menghadap ke laut dan tepat di belakang tempat kapal-kapal menepi. Dan yang utama hasil masakannya enak. Coba bayangkan makan sambil menikmati deburan ombak dan terpaan angin laut. Anda bisa mendapatkan sensasi ini di warung “Sedyo Rukun”. Nah di warung Ibu Nakidi ini, Anda bisa memasakkan ikan atau udang yang Anda beli sendiri, dengan harga seperti di bawah ini:

 

  • Bakar Rp 2.500,00 per kg
  • Goreng Rp 2.500,00 per kg
  • Goreng tepung Rp 3000,00 per kg
  • Asam pedas/manis Rp 3.500,00 per kg
  • Bumbu kuning Rp 3.500,00 per kg
  • Rebus Rp 2.000,00 per kg
  • es jeruk/teh Rp 1.000,00
  • Kelapa muda Rp 3.500,00
  • Fanta/Sprite Rp 2.500,00
  • Teh botol Sosro Rp 2.000,00
  • Kopi/coffeemix Rp 1.500,00
  • Nasi + lalapan Rp 10.000,00

Jadi di warung ini Anda bayar untuk ongkos memasak, minum, nasi dan lalapannya. Tidak terlalu mahal kan? Oh iya yang paling enak masakan bakar dan goreng tepungnya.

Di warung “Sedyo Rukun” juga tersedia kamar mandi dan WC, tentu saja pemakainya wajib membayar sekedarnya. Kita harus maklum juga bahwa mencari air tawar di daerah pantai tidak mudah, karena itu wajar saja kalau harus membayar untuk jasa yang satu ini. Setelah menyerahkan ikan kakap dan cumi-cumi untuk dimasakkan, kami menunggu beberapa saat sebelum hidangan siap disantap. Lamanya menunggu tergantung dari banyaknya tamu yang datang. Biasanya semakin siang, semakin banyak orang orang yang datang. Artinya kami juga tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Meskipun ada banyak tempat untuk duduk dan lesehan, kami juga harus tahu diri untuk bergantian dengan yang lain.

Akhirnya waktu sudah menunjukkan jam 12.00, kami bersiap-siap untuk pulang. Kami tinggalkan tempat yang menawan ini, sambil melepas pandangan ke Selatan yang berupa pantai indah dan lautan lepas. Dan di sebelah Utaranya terlihat Perbukitan Kretek yang memanjang sampai ke Panggang Gunung Kidul. Fenomena alam yang fantastis!

Sambil membawa tas berisi baju-baju kotor bekas terkena air laut dan pasir, kami berjalan santai melewati pasar ikan. Ibu Supar kembali dengan ramahnya menawari saya untuk membeli ikan segar sebagai oleh-oleh. Saya menolak dengan halus karena perut sudah kenyang dan sudah cukup banyak makan ikan. Biasanya kami membeli gula kacang atau ampyang untuk makanan kecil di jalan dan juga untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Kami rasa gula kacang made in Depok rasanya lebih gurih, legit dan beraroma jahe. Hmmmm enak dan nikmat. Satu plastik Rp 5.000,00 berisi 10 buah, cukup murahkan?

Setelah membayar Rp 3.000,00 untuk ongkos parkir mobil, pelan-pelan kami tinggalkan pantai Depok dengan harapan beberapa minggu lagi kami akan kembali. Dari parkiran kami belok ke kanan menyusuri jalan aspal yang panjang dan sedikit berbatu menuju Pantai Parangkusumo. Jalan ini bukan jalan utama yang mulus melainkan jalur alternatif yang berakhir di Pantai Parangkusumo. Di kanan dan kiri jalan dipenuhi tanaman pandan duri, dan gunung pasir. Sesekali kami lihat juga losmen ‘tradisional’ milik penduduk setempat yang menyewakan kamar untuk tamu-tamu yang singgah. Deburan ombak di kanan jalan seolah-olah mengikuti kami.

Semakin banyaknya losmen-losmen yang terlihat menunjukkan bahwa sebentar lagi kami sampai di pantai Parangkusumo. Pantai ini sekarang juga dipadati losmen-losmen. Berbeda sekali dengan pantai Parangkusumo tahun 90-an yang sering kami kunjungi untuk berlatih beladiri silat dan berolah raga. Dari jalan alternatif kami belok kiri menuju ke pintu keluar pantai, dan menyusuri jalan itu. Kurang dari lima menit kemudian kami sudah sampai di pintu keluar Pantai Parangtritis. Ketika pulang kami menyusuri jalan di tepi Sungai Opak yang indah menuju Siluk Imogiri. Kami pilih jalan ini supaya ada pemandangan yang berbeda, selain karena jalan ini tidak terlalu padat untuk dilalui. Setelah lelah bermain dan berlari di pantai, anak saya tidur nyenyak dalam perjalanan pulang. Inilah sekilas perjalanan dan pengalaman kami di pantai Depok. Bagaimana? Anda tertarik? silakan berkunjung ke sana.

~ || ~

Jalan Cendrawasih dari Barat ke Timur

Jajan Pasar Alami Serba Singkong

pohon singkongDi pasar tradisional, Anda bisa menemukan serbaneka jajanan pasar, yang tradisional maupun yang moderen, yang terbuat dari singkong maupun yang terbuat dari bahan-bahan lain. Di pasar-pasar tradisional Jogjakarta saya bisa menemukan paling sedikit 8 macam jajanan yang terbuat dari singkong. Mau bukti? Ada gethuk, cemplon, lemet, putri solo, balok, alen-alen, gatot, thiwul, sawut, timus, tape dan ceriping singkong. Pernah dengar kata “singkong”? Sekilas kata ini mirip dengan nama binatang yang besar dan menyeramkan, “kingkong”, tapi sebetulnya tidak ada relasi di antara keduanya. Tanaman singkong atau ketela pohon bisa kita temukan di alam pedesaan. Kadang-kadang orang desa mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok pengganti nasi.
 

Anda bukan orang Indonesia?

 "Anda suka nasi?", Tanya saya kepada salah seorang murid dari Eropa. "Ya, dan Anda?", jawabnya sambil ganti bertanya kepada saya. "Saya tidak suka nasi", jawab saya. "Wah, Anda bukan orang Indonesia!" kata murid itu, "Anda dari Eropa?", tanyanya lagi sambil bergurau. Ini adalah sepotong percakapan kecil yang biasa terjadi ketika saya mengajarkan pelajaran "makan" di kelas bahasa Indonesia untuk orang asing .

Menurut pendapat beberapa orang, "Bukan orang Indonesia, kalau tidak suka nasi!". Memang, Indonesia dikenal sebagai negara yang penduduknya bermakanan pokok nasi, meskipun ada juga yang bermakanan pokok bukan nasi. Di beberapa daerah yang sulit ditanami padi, makanan pokok penduduknya bisa singkong, sagu, jagung, dan lain sebagainya. Bahkan sejumlah besar orang Jawa akan bilang bahwa mereka belum makan kalau belum mengkonsumsi nasi, meskipun sudah menyantap roti atau makanan lainnya. Mereka biasanya makan nasi tiga kali per hari. Aneh kan? Padahal nasi sebagai sumber karbohidrat bisa diganti dengan roti, mi, jagung atau singkong.

 

Jajan pasar serba singkong

aneka jajan pasarKalau bicara tentang singkong, saya jadi ingat dengan jajan pasar yang sering saya beli sejak masih anak-anak. Setiap kali pergi ke pasar tradisional, saya bisa menemukan serbaneka jajanan pasar, yang tradisional maupun yang moderen, yang terbuat dari singkong maupun yang terbuat dari bahan-bahan lain. Di pasar-pasar tradisional Jogjakarta saya bisa menemukan paling sedikit 8 macam jajanan yang terbuat dari singkong. Mau bukti? Di pasar tradisonal, saya bisa menemukan macam-macam jajanan yang terbuat dari singkong, antara lain : gethuk, cemplon, lemet, putri solo, balok, alen-alen, gatot, thiwul, sawut, timus, tape dan ceriping singkong.

 

Di pasar tradisional Jogjakarta

pasar tradisional yogya pasar tradisional yogya

 Di kota Jogjakarta jajan pasar dari singkong bisa kita beli di supermarket ( kadang-kadang ) dan juga di pasar tradisional. Penjual jajan pasar (yang khusus terbuat dari singkong) biasanya berjualan secara tradisional pula.

Aneka jajan pasar dari singkong

  • Timus
  • Tape
  • Cemplon
  • Alen-alen
  • Gatot
  • Gethuk
  • Tiwul
  • Sawut
sawut alen alen cemplon, tape dan timus gatot, getuk dan tiwul

Bagaimana cara membuat cemplon?

CemplonCemplon, terbuat dari parutan singkong yang dibentuk bulat dan diisi gula merah, lalu digoreng. Makanan ini paling enak disantap selagi hangat. Perpaduan rasa gurih dan manis dari gula jawa akan telih terasa nikmat di mulut. Tidak direkomendasikan makan cemplon yang sudah Anda simpan di dalam lemari es. Makanan ini akan mengeras.

Bagaimana cara membuat gethuk?

gethukGethuk, makanan ini terbuat dari singkong rebus yang sudah dilumatkan dan dicampur dengan gula merah. Ketika dingin, gethuk ini dipotong-potong dan disajikan dengan taburan parutan kelapa muda di atasnya. Rasanya gurih campur manis, dan yang jelas enak sekali!!!

Pulang Kampung? Ehmm Nikmat…

Kota Wonosobo yang terletak di dekat Dieng Plateau di Jawa Tengah memiliki berbagai makanan khas, di antaranya mi ongklok, tempe kemul, opak, keripik jamur. Yang paling asyik, menikmati makanan-makanan itu dalam kesejukan udara Wonosobo. Ketika akan pulang kampung yang tergambar dalam bayanganku adalah kesempatan untuk menikmati makanan yang khas dari Wonosobo. Belum-belum air liurku sudah menari-nari. Bagaimana tidak, makan tempe kemul hangat-hangat dengan cabe rawit yang ekstra pedas dalam suasana kota yang dibalut kabut tipis, pasti nikmat rasanya.
 

Sekilas tentang Wonosobo

Kota Wonosobo yang terletak di bawah Dataran Tinggi Dieng memang membuat semua makanan yang masuk dalam mulut terasa menggoyang lidah. Meskipun kota pensiunan ini terletak jalur tengah antara Semarang dan Purwokerto, hiruk-pikuk bisnis tembakau dan sayur-mayur selalu mewarnai kehidupan di sana. Jadi, jangan heran banyak orang Cina yang tinggal di sana untuk berdagang.

Apalagi dulu banyak bule yang mengunjungi Dieng dan menginap di Wonosobo. Ada banyak hotel dan restoran yang masih hidup, setengah hidup, dan ada juga yang sudah almarhum. Maklum Wonosobo dan Dataran Tinggi Dieng tak seelok dan senyaman 10 tahun yang lalu. Tentu saja, pelancong tak ingin kecewa setelah 3 jam dari Yogya duduk di dalam mobil membelah lembah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing sambil menikmati kebun teh di kaki gunung. Ditambah satu jam dari Wonosobo kita menelusuri lekuk-lekuk punggung Pengunungan Prahu. E begitu sampai di Dieng, kebun bunga sudah raib dari pandangan mata. Padang rumput hijau dan danau kecil-kecil yang menggelilingi Candi Pendawa Lima telah disulap menjadi kebun sayur. Area wisata menyempit dihimpit desakan ekonomi rakyat.

Tapi, namanya juga kampung halaman, gimana-gimana kondisinya tetap punya magnit yang tak bisa dibendung. Ada energi yang menyegarkan sesudah kita menghirupnya.

Tempe Kemul

Tempe kemul berbeda dengan tempe mendoan yang terkenal dari Purwokerto. Kalo tempe mendoan, tempenya memang belum terlalu jadi, masih terasa kedelainya lepas-lepas dan warna tepungnya putih kecoklatan. Nah, kalo tempe kemul tempenya sudah padat. Bentuknya pun agak bundar, beda dengan tempe mendoan yang persegi dan rapi. Mungkin karena daerahnya dingin yang perlu kemulan ( berselimut ) tidak hanya orangnya, tempe pun ikut kemulan.

Aku juga heran kenapa tempe kemul tidak pernah membosankan untuk kusantap. Rasa tepung kanji / tapioka yang dibumbui kunir, ketumbar, miri, kencur, bawang putih, garam dan diberi potongan kucai membuatnya terasa pas di lidah. Tepungnya yang berwarna kuning terasa kletak-kletuk kalo dikunyah.

Kalo Anda mau mencoba makan, hati-hati dengan cabai rawitnya yang pedas. Suatu ketika teman adikku yang dari Yogya, disuguhi tempe kemul dan dengan PD (percaya diri)-nya menceplus lombok utuh-utuh. Begitu lombok dikunyah, wer… air matanya spontan keluar, telinga terasa panas, dan teriak-teriak minta air minum. Tapi bukannya dia kapok dan malu, hanya menjadi lebih bijak. Satu lombok dia makan untuk 2 sampai 3 tempe kemul sekaligus. Cabainya hanya digigit sedikit-sedikit.

Kadang ada anak kecil yang lebih suka makan tepungnya saja untuk teman makan nasi. Karena itu, ada yang membuat tempe kemul dengan potongan tempe yang kueciiill… namun tepungnya yang luebar…. Ya demi memenuhi selera pembeli dan mungkin juga bagian dari strategi bisnisnya.

Tempe kemul tersedia dari pagi sampai malam, karena menjadi pelengkap ketika orang makan bakso, soto ayam, nasi pecel, nasi megono, nasi gudangan ataupun dengan makanan khas Wonosobo, mie ongklok. Aroma tempe kemul yang sedang digoreng akan tercium dari warung-warung di sekitar pasar. Kalo sore gorengan itu dengan mudah dijumpai di warung-warung pinggir jalan. Harganya bervariasi antara Rp 250 sampai Rp 500. Selain murah, juga bergizi.

Mie Ongklok

Namanya memang sudah mengesankan cara membuatnya. Memang, sebelum disajikan kubis / kol, dan kucai yang sudah dipotong-potong, berikut mie yang sudah direbus setengah matang dimasukkan dalam keranjang kecil yang terbuat dari bambu yang bertangkai panjang. Ketiga bahan itu diongklok-ongklokkan dalam air panas. Lalu sejumlah cabai rawit sesuai permintaan pembeli diulek di mangkok. Lalu sayur dan mie yang sudah siap dituangkan ke dalam mangkok. Potongan tahu bacem dimasukkan.

Tahap berikutnya, sejenis kuah yang lentrek-lentrek berwarna coklat muda dari tepung kanji yang dibumbui kaldu ayam, ebi, garam, bawang putih, dan sedikit gula jawa dituangkan. Sesudah ditaburi merica halus dan bawang merah goreng, mie ongklok siap dihidangkan. Biasanya orang yang belum pernah makan, merasa ngeri liat kuahnya, bahkan ada yang mengurungkan niatnya untuk mencoba. Apalagi, setelah melihat semua bahan diaduk di mangkuk sebelum disantap. Tapi lama-lama kuahnya mencair dan rasanya mirip-mirip mie rebus kok.

Mie ongklok akan terasa lebih nikmat bila dimakan bersama tempe kemul dan sate sapi. Penjual biasanya membuka warungnya dari jam empat sore sampai malam. Saat udara terasa dingin dan badan perlu penghangat, mie ongklok menjadi santapan pengisi perut. Yah, di daerah dingin kalo perut kosong bisa-bisa kita masuk angin. Kalo mau coba, silakan ke warung mie ongklok di Jalan Masjid di sebelah selatan Masjid Kauman Utara. Dengan uang delapan ribu, Anda sudah kenyang makan mie ongklok komplit dengan tempe kemul dan sate sapi.

Oleh-oleh

Ada banyak pilihan kalo kita membeli oleh-oleh. Yang rasanya asin dan yang sering dibeli adalah kripik jamur dan kacang dieng. Kripik jamur terasa asin, renyah, dan gurih. Rasanya mirip-mirip kripik paru. Kripik jamur dibuat dari jamur merang yang diiris tipis-tipis, dilumuri tepung, kemudian digoreng. Kacang dieng mirip kacang bogor. Bentuknya mirip tanda koma tapi gemuk, kira-kira panjangnya 1,5-2 cm, dan warnanya kuning kecoklatan.

Kacang ini memang tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng. Kedua makanan di atas memang rasanya asin. Jeleknya kalo sudah mulai makan kacang dieng dan kripik jamur, kita nggak bisa berhenti mengunyah sebelum semuanya tandas. Kalo tidak ada perubahan harga, ?? kilo kripik jamur Rp 7.500 dan ?? kilo kacang dieng Rp 6.000. Di Jakarta atau di tempat lain tentu harganya jauh lebih mahal.

Kalo mau yang seger-seger manis, belilah carica atau pepaya dieng. Bentuknya mirip belimbing tapi montok dan besar sedikitan. Tekstur kulitnya mirip pepaya biasa tapi warnanya kuning kehijauan. Pepaya itu dipotongi kecil-kecil kemudian direbus dengan air gula pasir. Anda bisa membeli botolan atau bahkan sekarang dikemas dalam gelas aqua. Sebelum diminum, masukkan dulu ke dalam kulkas supaya rasanya jadi lebih seger, gitu loh.

Oleh-oleh yang lain adalah opak. Opak adalah sejenis kripik dari ketela pohon. Ada banyak variasi bentuk dan rasanya. Untuk dimakan langsung belilah yang sudah digoreng, tapi kalo akan disimpan dulu belilah yang mentah.

Selain itu, ada sagon tipis, modifikasi sagon besar yang putih dan bulat. Sayangnya, kripik manis dengan sedikit rasa jeruk ini mulai langka di pasaran.

Kalo Anda penggemar jajanan, Anda bisa pergi ke sebelah timur Plaza ( taman kota dekat pasar kota ). Di sana ada beberapa toko menjual lumpia basah yang sengaja tidak digoreng, kue sus, citak ( kue merah berisi kacang hijau ), resoles, tahu goreng panir, dan banyak lagi lainnya.

Ada satu lagi yang spesial di Wonosobo yaitu jenang ireng. Warnanya memang hitam rasanya manis dan pedas merica. Jenang itu dilengkapi dengan santan kental. Jenang ireng ini dibungkus daun pisang.

Rasanya Anda langsung kenyang dengan cerita saya di atas. Sebetulnya masih ada banyak makanan yang lain seperti jangan gewos (oseng-oseng daun kobis tua), tapi silakan saja datang sendiri di Wonosobo. Selamat berpetualang sambil mencicipi makanan yang dijual di sana. Mungkin karena udara yang sejuk, atau karena orang cina yang kreatif dan pintar memasak sehingga makanan di sana terasa nikmat.

Catatan :

Kletak-kletuk: renyah tapi agak keras
Menceplus: Kata khusus untuk melahap lombok /cabai rawit
Lentrek-lentrek: Cairan yang kental

 

 

Nasi Goreng Vegetarian

Tempe Kering Madu

Resep: cara membuat kering tempe madu

  • Bahan:


  • 1 bungkus tempe

    – Bumbu A (bumbu tempe untuk tempe goreng)
    3 siung bawang putih, 1 sdt* ketumbar, 1,5 sdt garam, 250 ml air matang

    – Bumbu B
    2 siung bawang putih, 2 siung bawang merah, 2 buah cabe merah besar, 1 lembar daun salam, 3 biji asam jawa, 2 cm jahe, 50g gula jawa, 4 sdm** madu, ?? sdt garam, 100 ml
    (*Sdt: sendok teh ; **Sdm: sendok makan)

  • Cara masak:

  1. Haluskan bumbu A (bawang putih, ketumbar dan garam), larutkan dengan 250 ml air matang.
  2. Potong tempe menyerupai batang korek dan rendam dalam larutan bumbu A selama 30 menit.
  3. Goreng tempe yang sudah direndam dalam larutan bumbu A sampai kering dan tiriskan.
  4. Iris tipis bumbu B (bawang putih, bawang merah, cabe merah besar dan jahe).
  5. Tumis bumbu B yang sudah diiris tipis selama 3 menit dengan api kecil, tambahkan garam, gula jawa dan 100 ml air matang. Diamkan sampai gula jawa larut dan masukkan madu. Biarkan tumisan itu mendidih selama 3 menit.
  6. Pisahkan ampas tumisan dengan cairan gula yang mendidih.
  7. Masukkan tempe goreng sambil diaduk di atas api kecil, sampai mengering.
  8. Angkat dan taruh kering tempe yang sudah jadi di piring atau mangkuk.
  9. Kering tempe siap untuk disantap

Selamat mencoba…

Sendu

Andai Waktu Dapat Diputar

Andai waktu bisa diputar
Aku ingin memutarnya
Jauh ke masa yang lalu
Agar aku bisa mengenalmu sejak dulu


Andai aku bisa meminta
Aku ingin menjadi pohon
Agar kau bisa berteduh
Dan aku ingin menjadi semut
Agar bisa belajar berbagi denganmu
Adakah kau tau itu ?

Katrin 4876

Puisi tanpa judul ini ditulis oleh Katrin 4876 yang merupakan nama pena dari salah seorang guru bahasa Indonesia di Puri ILP.