Our School

Alam Bahasa Indonesia

Categories

  • No categories

Andai Waktu Dapat Diputar

Andai waktu bisa diputar
Aku ingin memutarnya
Jauh ke masa yang lalu
Agar aku bisa mengenalmu sejak dulu


Andai aku bisa meminta
Aku ingin menjadi pohon
Agar kau bisa berteduh
Dan aku ingin menjadi semut
Agar bisa belajar berbagi denganmu
Adakah kau tau itu ?

Katrin 4876

Puisi tanpa judul ini ditulis oleh Katrin 4876 yang merupakan nama pena dari salah seorang guru bahasa Indonesia di Puri ILP.

Andai

Bunga Mawar

Bunga mawar tumbuh sendirian,
Ingin berkembang di dunia lain,
Di mana air terjun membasahkannya,
Tempat burung merpati bermain.

Bulan terang terbit tanpa peringatan,
Menyibak kegelapan dengan cahaya,
Kesepian mengelilingi penderitaan,
Kelihatannya malam ini berbahaya.

Ketika salat subuh terdengar,
Malaikat menangis di atas kubur,
Hendak kembali ke surga,
Tempat bunga mawar menyubur


R.M.A. Van Der Schaar

Murid Alam Bahasa Indonesia
Penulis adalah mahasiswa universitas Leiden yang belajar bahasa Indonesia (mulai dari kelas madya) dan berlatih bicara bahasa Jawa di PURI ILP, tanggal 13 Juni-29 Juli 2005


Asa

Kala ku punya sayap
Kan ku belah angkasa
Kan ku hantar sebuah tanya
Adakah asa di sana?

Kala ku bisa terbang
Kan ku gapai nirwana
Kan ku untai sebuah doa
Akankah bahagia ku dapat?

Kala ku capai bahana
Kan ku sua sang surya
Kan ku lontar sebuah asa
Bilakah sang surya berpijar ceria?

Kala ku hadap sang pencipta
Akankah asa dan doa terjawab?

Jalan – Jalan ke Candi sambisari

Suatu sore di Candi Sambisari

jalan jalan jalan jalan

 
Hari Jumat tanggal 12 Agustus, semua guru dan murid Alam Bahasa pergi jalan-jalan ke candi Sambisari. Di Candi ini kami belajar tentang sejarah Candi Sambisari. Selain belajar, kami juga bermain dan bertukar budaya. Menari tarian Jepang dan Belanda, juga bermain permainan tradisonal anak-anak Jawa.

Sejarah Candi Sambisari

Candi SambisariCandi Sambisari terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, kecamatan Kalasan, kabupaten Sleman, Yogyakarta, ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang penduduk dan selesai dipugar / direnovasi pada tahun 1997. Sebelum ditemukan, candi ini tertimbun tanah sedalam 6,5 meter. Candi ini tertimbun tanah karena adanya bencana letusan gunung Merapi pada tahun 1006 M.

Candi Sambisari adalah candi Hindu Siwaistis. Candi ini berfungsi sebagai monumen dan tempat pemujaan, sampai sekarang candi ini juga masih dipakai sebagai tempat pemujaan atau berdoa dan tempat penyelenggaraan upacara keagamaan bagi pemeluk agama Hindu. Candi Sambisari yang terbuat dari batu andesit ini merupakan kompleks percandian yang mempunyai 1 candi induk dan 3 buah candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke barat. Candi ini tidak punya kaki candi. Alas candi juga berfungsi sebagai kaki candi. Di bagian badan candi terdapat relung-relung. Di atas relung-relung tersebut terdapat hiasan kepala Kala di atasnya. Di dalam setiap relung terdapat sebuah patung. Kompleks candi Sambisari ini dikelilingi batu putih berukuran 50 x 48 meter. Di teras candi terdapat 12 batu ( 8 batu persegi dan 4 batu bulat ) di sekeliling bilik pemujaan.

Ada apa di Candi Sambisari?

Patung Agasya

patung agastyaPatung Agastya ( di relung selatan ). Patung ini digambarkan berbentuk orang tua dalam posisi berdiri, berlengan dua, berkumis, berjanggut lebat dan berperut buncit. Patung Agastya yang terdapat di candi Sambisari ini bertasbih ( Aksamala ) yang dikalungkan di lehernya, di bahu kirinya ada camara ( penghalau lalat ).

 

 

Patung Durga Mahissasuramardini

patung durga mahissasuramardiniPatung Durga Mahissasuramardini ada di relung utara. Patung Durga yang ada di candi ini mempunyai 8 lengan, 4 lengan kanannya memegang cakra, anak panah, pedang dan trisula, sedangkan 4 lengan kirinya memegang busur, gada, perisai dan camara. Patung Durga ini merupakan simbol dari pertarungan gelap ( kejahatan ) melawan terang ( kebaikan ).

 

Patung Ganeca

patung ganecaPatung Ganesha ada di relung timur. Ganesha adalah anak dari dewa Siwa dan Parwati. Ganesha ini digambarkan sebgai manusia yang berkepala gajah dan merupakan simbol dari dewa pengetahuan dan penolak rintangan. Patung ini sering ditempatkan di tempat-tempat yang berbahaya. Patung Ganesha di candi Sambisari ini ada dalam posisi duduk di atas padmasana, berkalung Kastanya (Upawita) berbentuk ular naga (Nagapasa), kedua telapak kakinya bertemu, berlengan 4. Kedua lengan kanannya memegang Aksamala dan taring yang patah, sedangkan kedua tangan kirinya memegang mangkok dan Parashu (kapak). Belalainya menjulur menyedot isi mangkok. Hal ini merupakan simbol kehausan akan ilmu pengetahuan.

Selain patung Durga, Agastya dan Ganesha, di kiri ¨C kanan pintu masuk dulu juga terdapat 2 patung penjaga pintu candi, yaitu Mahakala dan Nandiswara, tapi sekarang sudah hilang dicuri.
Candi Sambisari ini punya satu bilik kecil. Di dalam bilik itu terdapat Lingga dan Yoni. Lingga merupakan perwujudan dari dewa Siwa, sedangkan Yoni merupakan perwujudan dari sakti ( istri ) dewa Siwa. Kesatuan Lingga dan Yoni ini adalah simbol dari totalitas dan juga kesuburan.

Bagaimana Cara Memakai -nya?

Mengunjungi Wakil Ratyat

Pergi ke Desa

PURI Peduli

Selama tiga tahun terakhir, permintaan beasiswa semakin banyak dikirimkan kepada PURI PEDULI. Untuk menanggapi hal tersebut, pada tahun ajaran 2002/2003 ini kami menambah jumlah beasiswa. Sebelumnya, kami memberikan beasiswa untuk 26 siswa. Pada tahun ajaran 2002/2003, kami memberikan beasiswa untuk 53 siswa. Jadi, ada penambahan 27 siswa. Mudah-mudahan dengan adanya penambahan ini, kami diberi lebih banyak kemudahan dan kami mendapat lebih banyak dukungan dari banyak pihak.

TERIMA KASIH KAMI

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami. Di edisi ini, kami mengucapkan terima kasih kepada yang baru-baru ini memberi bantuan kepada kami, yaitu:

  • Elizabeth and Kartini (Holilaart, Belgium)
  • Joyce Fredriksz (The Netherlands)

Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta

Pada tanggal 28 Mei 2002, Sri Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putri sulungnya, GKR Pembayun. Acara pernikahan tersebut diselenggarakan sesuai dengan adat dan prosedur keraton yang telah dipegang selama berabad-abad.

photo: Femina
keraton keraton

Sebetulnya, prosesi pernikahan itu diawali sejak sehari sebelumnya dengan acara Siraman Putri. Dalam acara Siraman Putri ini, yang diizinkan masuk hanyalah para gusti putri atau bendara putri. Acara Siraman Putri ini diakhiri dengan pengangkatan kendhi oleh GKR Hemas, ibu dari pengantin putri, sambil mengucapkan doa. Kendhi yang berisi air dari tujuh mata air tersebut dihiasi dengan bunga melati. Sesudah diangkat, kendhi itu kemudian dipecah.

Setelah siraman, ada upacara potong rambut dan ngerik. Sesudah itu, dengan selembar kain putih, GKR Hemas menutup kepala GKR Pembayun dan kemudian ngratus rambut putri sulungnya.

Sementara itu, di Ksatriyan para abdidalem memasang tawuhan komplit, yang terdiri dari bermacam-macam hasil panen orang. Tawuhan dipasang di Regol Ksatriyan dan juga di pintu Gedung Pompa, lokasi siraman calon pengantin laki-laki. GKR Hemas dan calon besannya juga mendatangi Ksatriyan, begitu selesai dengan acara Siraman Putri.

Malam harinya, dilaksanakan upacara tantingan. Pada saat tantingan inilah, Sri Sultan HB X sebagai Raja ataupun sebagai orangtua menanyakan kesediaan putrinya untuk dinikahkan. Setelah sultan nanting putrinya, doa puji syukur kepada Tuhan pun dipanjatkan bersama-sama. Acara dilanjutkan dengan penyelesaian urusan administrasi oleh Petugas KUA (Kantor Urusan Agama).

Keesokan harinya, di Masjid Penepen, dilaksanakan prosesi ijab kabul. Prosesi ini hanya diikuti para laki-laki termasuk ayah calon pengantin pria. Prosesi tersebut terdiri dari khutbah nikah, ijab kabul oleh Sri Sultan HB X, dan penyelesaian administrasi oleh petugas KUA.

Siangnya merupakan puncak dari upacara pernikahan yang diawali dengan upacara panggih. Upacara panggih terdiri dari edan-edanan, balang-balangan gantal, mijiki, mecah telur dan kemudian diakhiri dengan pondhongan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat yang dilaksanakan di Emper Bangsal Prabayeksa.

Pengantin dan besan Dalem kemudian menuju Kagungan Dalem Ksatriyan untuk melaksanakan upacara tampa kaya dan kemudian menuju Gadri Ksatriyan untuk melaksanakan upacara dhahar klimah. Sore harinya acara dilanjutkan dengan Kirab Mubeng Beteng.

Pada malam harinya dilaksanakan resepsi pernikahan di Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Dalam acara tersebut dipergelarkan dua tarian, yaitu Bedhaya Manten dan Beksan Lawung Ageng.

disarikan dari Kedaulatan Rakyat
Tanggal 28 Mei 2002