Our School

Alam Bahasa Indonesia

Nikmatnya olahan “Sea food” di Pantai Depok Parangtritis

Di Pantai Depok di dekat Parangtritis kita tidak hanya bisa menikmati pemandangan indah dan suasana khas pantai. Di sana ada pasar ikan yang menjual ikan dan hasil tangkapan dari laut yang masih segar. Selain itu, kita bisa membeli ikan langsung dari nelayan. Harga dan kesegaran ikan di sana tentu lebih bagus dibandingkan ikan yang kita beli di kota. Kita pun bisa langsung menikmati ikan yang kita beli karena ada warung-warung yang bisa memasakkan ikan tersebut. Warung-warung itu pun menyediakan nasi dan lalapan yang sangat cocok untuk teman makan ikan.

jembatan kretek pos retribusi pantai parangtritis pintu masuk pantai depok pos retribusi pantai parangtritis
pasar ikan pantai depok beli ikan dipasar bermain dipantai

Setiap orang yang datang ke Yogyakarta untuk berlibur, pasti tidak pernah lupa singgah di pantai-pantainya yang mengesankan. Khusus bagi penggemar sea food, ada nilai plus bila bisa menikmati sea food sambil ditemani deburan ombak dan angin sepoi-sepoi. Tidak terasa hidangan yang dipesan bisa habis dalam sekejap! Ada beberapa pantai di Yogya yang menyuguhkan olahan sea food yang nikmat, lezat dan tidak menguras kantong. Tentu saja bahan-bahannya masih segar, karena baik ikan maupun hasil laut yang lain didapat langsung dari para nelayan. Fenomena inilah yang ditampilkan beberapa pantai di Yogya, seperti Pantai Baron yang terkenal dengan sup ikan kakapnya atau Pantai Depok-Parangtritis yang terkenal dengan ikan bakarnya. Pengalaman manis kami sekeluarga di Pantai Depok mungkin menarik untuk Anda ikuti. Suatu pagi di hari Sabtu, saya dan keluarga (terdiri dari suami dan anak) sudah bersiap-siap untuk memanjakan mata dan perut. Memang biasanya setiap 2 minggu sekali kami pergi ke Pantai Depok, selain untuk refreshing juga untuk melengkapi terapi /pengobatan anak saya. Kata dokter yang merawatnya, udara pagi di pantai bisa menyehatkan paru-parunya. Meskipun sekarang dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, kebiasaan itu tetap kami lakukan karena kami sudah jatuh cinta pada keindahan Pantai Depok.

Biasanya kami berangkat jam 06.00 pagi dengan harapan masih bisa menikmati udara pagi di pantai selama kurang lebih 3 atau 4 jam. Dari rumah kami yang terletak di Yogya utara perjalanan ini makan waktu kurang lebih 1 jam tergantung rute mana yang kami pilih. Kalau lewat ‘tengah kota’ Yogyakarta artinya kami harus rela menghirup udara berpolusi dan mengalami padatnya lalu lintas pagi hari. Kemungkinan lain lewat jalan lingkar yang biasanya sedikit memutar tapi tidak banyak polusi dan lapang. Alternatif kedua inilah yang biasanya kami pilih, mengingat kami masih sayang pada paru-paru ! Kelegaan itu muncul setelah melewati jalan Parangtritis di sebelah selatan jalan lingkar, lalu lintas di sini sudah tidak sepadat sebelumnya. Pelan-pelan kami lewati café dan restoran Pyramid, ISI lalu restoran Numani. Sampai di sini masih banyak kendaraan yang lalu lalang. Kemudian sampailah kami di pertigaan Tembi yang mulai menyuguhkan pemandangan Bantul ‘asli’. Banyak sepeda melintasi jalan ini. Lalu pandangan kami tertambat pada tulisan “Pasar Seni Gabusan” yang menjadi pusat seni dan tempat menjual hasil pertanian dari Bantul.

Mobil kami terus berjalan melewati perempatan Manding, kemudian terus ke perempatan Jetis. Inilah jalan yang paling kami sukai karena di kanan-kirinya terhampar sawah-sawah yang hijau, dikelilingi bukit-bukit yang indah dan sejuk. Sesekali kami melempar senyum kepada bapak dan ibu tani yang sedang bekerja di sawah. Pemandangan ini mendorong saya merekam aktivitas mereka dengan kamera saya. Tidak terasa jembatan Kretek sudah di depan mata, di bawahnya air kali Opak yang hijau kebiru-biruan mengalir pelan. Kira-kira 150 meter dari jembatan itu tampak Pos Retribusi Pantai Parangtritis. Kurang lebih 25 meter sebelum pos retribusi tersebut, kami harus belok kanan melewati jalan desa yang beraspal mulus. Beberapa meter kemudian sesudah belok kanan, mata kita akan dimanjakan oleh kebun bawang merah yang terhampar luas di kiri jalan sedangkan di kanan jalan ada gedung SMP 2 Kretek Bantul yang berdiri megah. Desa yang kami lewati ini merupakan sentra bawang merah di Kabupaten Bantul.Setelah lima menit sampailah kami di Pos Retribusi Pantai Depok. Kami membayar sebesar Rp 4.000,00 (tanda masuk untuk mobil 500; untuk pengunjung 1.500 per orang) anak saya tidak dihitung karena masih kecil !. Hanya beberapa meter dari pos retribusi di kanan jalan, kami bisa melihat Satuan Polisi Air Daerah Istimewa Yogyakarta (Satpol Air DIY) dan di kiri jalan kami melihat kantor TVRI stasiun Yogyakarta unit transmisi Parangtritis. Lucunya tahun lalu gedung Satpol Air DIY belum berpagar, sedangkan awal tahun ini gedung itu sudah berpagar dan punya beberapa rumah dinas. Dari tempat ini kami bisa melihat gelombang laut seolah menyapa kami. Karena hari masih pagi, kami bermain, duduk-duduk dan berlari-lari di tepi pantai selama kira-kira 2 jam. Lalu kami menunggu sampai pasar ikan buka sekitar jam 09.00 pagi. Di pantai Depok ada 2 cara membeli ikan. Yang pertama di pasar ikan dan yang kedua langsung dari nelayan. Kami lebih suka membeli di pasar ikan karena biasanya nelayan datang lebih siang kira-kira jam 10.00 atau 11.00

Memang kalau kita membeli ikan langsung dari nelayan harganya lebih murah tetapi kami tidak bisa memilih ikan yang sesuai dengan selera kami. Selain itu kami juga harus membeli dalam jumlah besar karena sistem jualnya borongan. Harga-harga ikan di pasar ikan masih di bawah harga di kota. Sebagai gambaran per kilogram ikan Bawal Rp 16.000,00; ikan Cakalang Rp 9.500,00 ; Cumi-cumi Rp 23.000,00 : Udang Windu Rp 36.000,00. Dengan catatan satu dollar Amerika saat itu sama dengan Rp 9.300,00 Harga-harga ini juga tergantung musim. Sebagai contoh harga akan lebih tinggi bila purnama tiba.

Di pasar ikan, kami bisa pilih ikan yang kami sukai, dan juga kami sudah punya langganan tetap di sana. Ketika membeli hasil laut di kios Bu Supar, kami selalu mendapatkan ikan, udang atau cumi-cumi dengan kualitas yang baik. Setelah membeli ikan kakap putih dan cumi-cumi, kami selalu pergi ke warung Ibu Nakidi yang bernama “Sedyo Rukun”. Warung Ibu Nakidi sudah menjadi langganan tetap kami, lokasi warungnya strategis karena langsung menghadap ke laut dan tepat di belakang tempat kapal-kapal menepi. Dan yang utama hasil masakannya enak. Coba bayangkan makan sambil menikmati deburan ombak dan terpaan angin laut. Anda bisa mendapatkan sensasi ini di warung “Sedyo Rukun”. Nah di warung Ibu Nakidi ini, Anda bisa memasakkan ikan atau udang yang Anda beli sendiri, dengan harga seperti di bawah ini:

 

  • Bakar Rp 2.500,00 per kg
  • Goreng Rp 2.500,00 per kg
  • Goreng tepung Rp 3000,00 per kg
  • Asam pedas/manis Rp 3.500,00 per kg
  • Bumbu kuning Rp 3.500,00 per kg
  • Rebus Rp 2.000,00 per kg
  • es jeruk/teh Rp 1.000,00
  • Kelapa muda Rp 3.500,00
  • Fanta/Sprite Rp 2.500,00
  • Teh botol Sosro Rp 2.000,00
  • Kopi/coffeemix Rp 1.500,00
  • Nasi + lalapan Rp 10.000,00

Jadi di warung ini Anda bayar untuk ongkos memasak, minum, nasi dan lalapannya. Tidak terlalu mahal kan? Oh iya yang paling enak masakan bakar dan goreng tepungnya.

Di warung “Sedyo Rukun” juga tersedia kamar mandi dan WC, tentu saja pemakainya wajib membayar sekedarnya. Kita harus maklum juga bahwa mencari air tawar di daerah pantai tidak mudah, karena itu wajar saja kalau harus membayar untuk jasa yang satu ini. Setelah menyerahkan ikan kakap dan cumi-cumi untuk dimasakkan, kami menunggu beberapa saat sebelum hidangan siap disantap. Lamanya menunggu tergantung dari banyaknya tamu yang datang. Biasanya semakin siang, semakin banyak orang orang yang datang. Artinya kami juga tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Meskipun ada banyak tempat untuk duduk dan lesehan, kami juga harus tahu diri untuk bergantian dengan yang lain.

Akhirnya waktu sudah menunjukkan jam 12.00, kami bersiap-siap untuk pulang. Kami tinggalkan tempat yang menawan ini, sambil melepas pandangan ke Selatan yang berupa pantai indah dan lautan lepas. Dan di sebelah Utaranya terlihat Perbukitan Kretek yang memanjang sampai ke Panggang Gunung Kidul. Fenomena alam yang fantastis!

Sambil membawa tas berisi baju-baju kotor bekas terkena air laut dan pasir, kami berjalan santai melewati pasar ikan. Ibu Supar kembali dengan ramahnya menawari saya untuk membeli ikan segar sebagai oleh-oleh. Saya menolak dengan halus karena perut sudah kenyang dan sudah cukup banyak makan ikan. Biasanya kami membeli gula kacang atau ampyang untuk makanan kecil di jalan dan juga untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Kami rasa gula kacang made in Depok rasanya lebih gurih, legit dan beraroma jahe. Hmmmm enak dan nikmat. Satu plastik Rp 5.000,00 berisi 10 buah, cukup murahkan?

Setelah membayar Rp 3.000,00 untuk ongkos parkir mobil, pelan-pelan kami tinggalkan pantai Depok dengan harapan beberapa minggu lagi kami akan kembali. Dari parkiran kami belok ke kanan menyusuri jalan aspal yang panjang dan sedikit berbatu menuju Pantai Parangkusumo. Jalan ini bukan jalan utama yang mulus melainkan jalur alternatif yang berakhir di Pantai Parangkusumo. Di kanan dan kiri jalan dipenuhi tanaman pandan duri, dan gunung pasir. Sesekali kami lihat juga losmen ‘tradisional’ milik penduduk setempat yang menyewakan kamar untuk tamu-tamu yang singgah. Deburan ombak di kanan jalan seolah-olah mengikuti kami.

Semakin banyaknya losmen-losmen yang terlihat menunjukkan bahwa sebentar lagi kami sampai di pantai Parangkusumo. Pantai ini sekarang juga dipadati losmen-losmen. Berbeda sekali dengan pantai Parangkusumo tahun 90-an yang sering kami kunjungi untuk berlatih beladiri silat dan berolah raga. Dari jalan alternatif kami belok kiri menuju ke pintu keluar pantai, dan menyusuri jalan itu. Kurang dari lima menit kemudian kami sudah sampai di pintu keluar Pantai Parangtritis. Ketika pulang kami menyusuri jalan di tepi Sungai Opak yang indah menuju Siluk Imogiri. Kami pilih jalan ini supaya ada pemandangan yang berbeda, selain karena jalan ini tidak terlalu padat untuk dilalui. Setelah lelah bermain dan berlari di pantai, anak saya tidur nyenyak dalam perjalanan pulang. Inilah sekilas perjalanan dan pengalaman kami di pantai Depok. Bagaimana? Anda tertarik? silakan berkunjung ke sana.

~ || ~

6 comments to Nikmatnya olahan “Sea food” di Pantai Depok Parangtritis

  • Tio

    Kalau dr Malioboro ke pantai Depok, apa ada angkutan umum?.

    Reply

  • lisa

    kalu kita membeli dikios bukan dipasar bisa tidak?

    Reply

  • Yuni

    Klo saya membawa rombongan sekitar 50 orang apkh memungkinkan u/ parkir bis disana (kami dari Bandung)? Apakah kita bisa memesan tempat dulu untuk 50 orang itu jadi tidak perlu menunggu lama, bagaimana caranya ?

    Reply

  • awan

    tio: tidak ada jalur angkut umum, berhenti aja diloket masuk karcis pantai parangtritis, habis itu naek ojek.
    lisa: bisa beli dikios makan langsung. tapi lebih asyik nyari sendiri habis itu disurh memasakkan….lebih murah..
    Yuni: Untuk bus besar agak susah masuk, baik lewat parangtritis habis itu sebelum lokasi belok kanan menuju pantai parangkusumo?pantai depok pas di depan makam maulana magribi…. bisa pesan dulu…bisa saya bantu lewat email:lintangtimur281210@gmail.com
    maaf untuk pembayaran silahkan mbayar sendiri ke warung, nanti untuk urusan pemesanan saya bantu. heee

    Reply

  • Jojo

    Saya Dan keluarga Atas rekomendasi salah seorang teman kami, kalau ke Pantai Depok , mencari rumah makan namanya ‘DEPOK RESTO’.selain masakannya enak, tempatnya nyaman Dan Luas. Tgl 16 September 2012, kami Dan keluarga Pergi ke Pantai Depok, Dan mencari ‘ DEPOK RESTO . Benar apa yang dikatakan teman saya,
    Ternyata tempatnya Bersih, Luas Dan Nyaman. DEPOK RESTO terletak di selatan Pasar Ikan Segar Depok, kebarat Kira Kira 50 meter. DEPOK RESTO mempunyai 2 bangunan utama berbentuk Limasan, Dan juga Ada Gazebo. Menurut pernyataan salah satu karyawan DEPOK RESTO, kapasitas untuk 150 orang. Fasilitas Lainnya Ada Mushola, Kamar Mandi Dan WC, Parkir Luas. Setelah kami parkir mobil kami, kami berjalan kaki menuju ke Pasar Ikan Segar Depok. Saat itu kami beli Ikan Tuna, Udang Dan Cumi. Kemudian Kami balik ke DEPOK RESTO . Setelah saya lihat Daftar Menu Dan Harganya, Ternyata MURAH. Contoh : Untuk jasa masak baik itu Goreng, Bakar maupun jenis masakan lain Rp 8.000 / kg. Harga minumanpun murah, misal es jeruk Rp 3000. Tidak Seperti Warung Yang lain yang selama ini saya kunjungi , Dapur di DEPOK RESTO saya nilai paling bersih, itu terlihat ketika saya mau ke Kamar mandi setelah kami bermain air di Pantai. Kamar Mandi di DEPOK RESTO pun bersih. Setelah masakan dihidangkan, Dan kami santap, memang eunak sekali. Kalau boleh meniru Pak Bondan, Masakan di Depok Resto ” Mak Nyuss”. Saat itu banyak juga rombongan keluarga yang lain. Di Bangunan Lainnya saat itu saya lihat penuh dari rombongan salah satu club motor. Di Gazebo juga Ada rombongan muda mudi bersendagurau sambil menikmati hidangan. Mungkin ini sekelumit pengalaman kami di DEPOK RESTO Pantai Depok, dengan masakan yang ‘ Mak Nyuss’, pelayanan yang ramah, tempat yang Nyaman, Dan Fasilitas yang Komplit Dan Bersih. SEMOGA BERMANFAAT BUAT TEMAN TEMAN.

    Reply

  • Hello there, only turn into attentive to your own blog site by means of Yahoo and google, determined that it is really beneficial. I’m just just going to be mindful with regard to the city. I am going to love if you continue on this kind of later on. Several some others is often taken advantage of a person’s creating. Cheers!

    Reply

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>