|
||||||
Berkunjung Ke DiengMbak Mineke Bons dari Belanda menulis artikel tentang kunjungannya di Dieng dengan guru-guru dan beberapa teman. Selamat membaca! Senang sekali saya berkunjung ke Dieng Plateau dengan teman-teman dari PURI Indonesian Language Plus. Hari Sabtu, 5 September 1998, tiga orang Jerman – Olaf, Bernhard, Karl dan dua guru PURI Indonesian Language Plus – Sigit dan Lilik, dan sopir mobil PURI Indonesian Language Plus – Marno dan saya – Mineke Bons berangkat jam 6.30 pagi ke Dieng. Jalan ke Dieng lewat Magelang dan Wonosobo. Dieng Plateau terletak di Jawa Tengah. Daerah yang bagus sekali. Dari dalam mobil saya melihat tanaman tembakau, kopi dan teh. Saya berpikir tentang sejarah Belanda di sini: penjajahan Belanda. Saya mendengarkan orang Jerman bicara tentang penjajahan Belanda. Kadang-kadang saya harus berbicara juga karena saya orang Belanda. Saya mengerti mengapa kami – orang-orang Belanda – mau tinggal di kota seperti Magelang atau Semarang. Kota-kota itu tidak terlalu panas. Ketika saya di Belanda, saya membaca buku “Hieren van de Thee”. Buku ini tentang kota Magelang. Di pinggir jalan ada banyak tanda dengan tulisan DIJUAL TANAH Rp….. HUBUNGI TELEPON 55663. Seandainya saya orang kaya, saya akan membeli tanah yang besar dan bagus dengan pemandangan ke gunung di sini. Kami istirahat kira-kira jam 9.30. Saya makan makanan Jawa Tengah, lontong. Lontong itu tidak pedas. Sesudah istirahat, kami terus ke Dieng. Cuacanya baik, tidak panas. Di Dieng kami membeli tiket dan pergi ke candi. Saya sedikit kecewa karena candi tidak besar. Candi Prambanan lebih besar daripada candi-candi di Dieng. Orang-orang di sini memberi nama candi-candi itu. Pertama kami mengunjungi kompleks Candi Arjuna.
Keterangan:
Sigit juga bercerita tentang kompleks candi ini. Candi ini interpretasi dari candi Hindu. Candi Srikandi seperti Brahma. Candi Puntadewa seperti Shiwa. Candi Sembadra seperti Vishnu. Srikandi dan Sembadra adalah istri Arjuna. Candi itu tidak punya gambaran jelas seperti Prambanan. Sesudah kompleks Candi Arjuna, kami jalan kaki ke Candi Gatotkaca. Gatotkaca adalah anak Bima. Ada 5 bersaudara: Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Setelah itu, kami naik mobil ke Candi Bima. Candi Bima lebih besar daripada candi-candi di kompleks Arjuna dan Candi Gatotkaca. Sigit bilang bahwa ada 3 hal penting untuk candi. Candi harus punya air, peripih dan lingga-yoni. Lingga-yoni adalah simbol fertilitas atau kesuburan. Sesudah mengunjungi candi itu, kami naik mobil ke kawah Sikidang. Di sana berbau belerang, seperti telur busuk. Di sini menarik sekali. Air di sini panas. Saya membuat beberapa foto Wonderen der Natuur. Sigit bercerita bahwa di tempat ini juga dinamai sama dengan tempat yang penting di Mahabarata. Saya lupa cerita itu. Jadi, cerita itu tidak saya tulis di sini. Tetapi, di cerita itu ada yang terbakar. Saya tidak tahu apakah itu sesudah atau sebelum perang dengan Kurawa. Kami naik mobil lagi dan pergi ke Telaga Pengilon. Kami mengelilingi telaga. Telaga artinya danau kecil. Jalan kaki mengelilingi telaga itu bagus. Kemarin dulu saya belajar dari Sigit struktur semakin …… semakin ……, misalnya semakin tinggi semakin dingin. Tetapi, kalimat itu salah. Pada prakteknya, semakin tinggi, semakin panas. Tetapi, tidak apa-apa. Pemandangannya bagus. Dan turunnya lucu sekali, sedikit berbahaya, tetapi semua bahagia. Kami merasa seperti Indiana Jones. Kami pergi ke Gua Semar tetapi gua tutup. Kami kembali ke mobil. Semua capai dan tertidur. Kami makan siang di Wonosobo. Dari Wonosobo ke Yogya saya tidak melihat banyak. Perjalanan pulang terasa panjang. Di rumah keluarga Soemitro, Bapak dan Ibu Soemitro gembira karena kami pulang sehat. Dieng Plateau yang saya kunjungi bagus sekali. Saya senang bisa pergi ke Dieng Plateau dengan PURI dan teman-teman yang belajar di PURI Indonesian Language Plus. O,ya saya juga belajar kata-kata tentang Wonosobo. Wonosobo ASRI. A=aman, S=sehat, R=rapi, dan I=Indah. |
||||||
|
Copyright © 2012 Bulletin Online Alam Bahasa Indonesia - All Rights Reserved |
||||||
Popular Posts