Our School

Alam Bahasa Indonesia

Tempora Mutantur - Hidup di Indonesia dan Belanda

Tulisan di bawah ini adalah hasil tulisan murid-murid PURI selama/sesudah mereka belajar di PURI. Tulisan ini dimuat tanpa proses editing apa pun, selain judul dan beberapa tanda baca yang ditambahkan untuk memperjelas maksud tulisan. Pemuatan tulisan ini sudah mendapat izin dari yang bersangkutan.

Indonesia

Empat laki-laki duduk di pinggir jalan. Mereka sedang mengobrol dan merokok. Beberapa ayam berjalan-jalan, mungkin mencari makanan. Seorang lelaki muda bermain gitar, ada anak-anak di sekelilingnya. Kami tiba di Bangunjiwo, sebuah desa yang kecil dan tenang di daerah Kasongan.

“Kira-kira ada lima ratus pembeli sehari”, jawab perempuan yang sedang mengecat vas tera. Kalau menonton ribuan vas yang bersebaran, jelas dia bercanda saja. Sama dengan kakak perempuannya dia bekerja di perusahaan vas tera. Kedua wanita itu membuat vas-vas dan objek yang lain dari tera, sambil suaminya mencari tanah merah untuknya. Kakak itu adalah kepala perusahaannya dan tinggal di tempat itu. Adiknya tinggal di tempat lain tapi dekat, dan datang setiap hari untuk bekerja.

Sedikit terus seorang lelaki tua sedang mengecat vas tera. Rupanya beberapa penduduk desa ini bekerja di sektor yang sama. Lelaki itu tidak bergigi lagi, tapi diberkati dengan delapan cucu. Perlu tiga hari untuk membuat sebuah vas besar, katanya. Harga vas itu Rp. 25.000,00. Lelaki itu bekerja di depan rumahnya. Pintunya terbuka, dan dua wanita bersama beberapa anak kecil kelihatan. Mereka duduk di lantai, karena kursi tidak ada. Anak-anak kurang rapi, berpakaian kotor tapi tidak apa-apa, karena gembira dan tertawa.

Dekat tempat tera ini ada perusahaan wayang yang cukup ramai. Lima belas orang bekerja di sini. Seorang wanita, namanya Wartium, sudah bekerja sebelas tahun di perusahaan ini. Dia menceritakan beberapa orang ‘asli’ diperlukan untuk membuat boneka wayang itu. Satu orang menggunting bahan kulit untuk boneka. Seorang yang lain mengukir motif pada boneka itu. Kemudian, seorang menempelkan tanduk kerbau pada boneka itu. Tanduk itu berfungsi sebagai pemegang, dan dicat lewat tanduknya. Kira-kira dalam waktu seminggu boneka wayang itu bisa diselesaikan. Bonekanya tidak digunakan dalam wayang-performance, tapi dibuat untuk penjualan saja.

Umur pekerja kurang penting. Ada pekerja yang baru berumur sepuluh tahun, dan ada orang dewasa. Pekerja-pekerja itu terutama terdiri dari para tetangga. Pemimpin perusahaan dianggap pekerja sebagai seorang bapak. Suasana perusahaan wayang itu seperti keluarga besar.

Juga ada Pak Lurah di Bangunjiwo. Tempat pekerjaan lurah sepi sekali pada jam 14.30. Nyatanya kebanyakan orang sudah pulang. Hanya kaur (kepala urusan) umum yang masih ada. Dia seorang lelaki rapi dan ramah yang berpakaian seragam. Sudah lima tahun dia memenuhi tugas itu. Menurut dia, penduduk desa Bangunjiwo ada 18.000, tapi tidak tahu dengan pasti. Dekat dari kantor ini tinggal mahasiswa dari Swiss. Seorang perempuan muda yang meneliti wayang.

Ada satu hal yang kami tidak boleh tahu, jadi semacam rahasia: pendapatnya mengenai presiden dan wapres yang baru. Sebagai kaur umum dia harus netral, dan manut saja. Juga sebagai seorang pribadi dia tidak mau menceritakan pendapatnya.

Belanda

Di desa Belanda juga ada semacam pak lurah, namanya ‘burgermeester’ (tuan warga/penduduk). Tugasnya bisa dibandingkan dengan pak lurah Indonesia. Dulu juga ada perusahaan, tempat orang bekerja dengan tangan. Perusahaan begini disebut ‘hoeve’. Tetapi tempora mutantur. Sekarang tidak ada lagi ‘hoeves’ di Belanda. Kebanyakan pekerjaan dilakukan dengan komputer, secara otomatis. Perusahaan berpindah ke kota besar atau dibangun di tepi jalan raya, karena letaknya harus mudah. Toko-toko biasa, misalnya supermarket, ada di mana-mana, baik di kota, maupun di desa. Semua perusahaan kecil menjadi besar atau bekerja sama dengan perusahaan besar seperti multinationals. Proses itu disebut ‘fusering’. Bahkan sekolah (dan universitas) menjadi besar, sehingga murid merasa seperti belajar di sebuah pabrik belajar!

Apalagi ada komputer di setiap rumah, sekolah, toko dan perusahaan. Pendeknya, di mana-mana. Anak dibesarkan dengan komputer dan tv. Perkembangan itu dirasakan oleh guru. Anak tidak bisa memperhatikan atau berkonsentrasi lama di kelas, dan menjadi hiruk-pikuk.

‘Hoeves’ tidak ada lagi, tapi teknik modern masuk. Akibatnya, suasana di desa berubah. Dulu tetangga saling kenal, sekarang banyak orang sama sekali tidak tahu itu. Seperti perusahaan wayang itu, tak terbayangkan di Belanda. Orang mempunyai pendidikan yang berbeda, dan karena itu pekerjaan juga tak sama. Kadang-kadang mereka bekerja jauh dari tempat tinggal. Orang naik mobil untuk pergi ke kantor, lalu lintas seringkali macet dan orang menjadi kurang tenang, dapat stres. Negeri Belanda meninggalkan tingkat mikro, dan mengikut proses globalisasi. Semua harus cepat (kebudayaan ‘zap’, jobhopping, dsb), harus besar, harus bervariasi, dan individu yang paling penting. Karena itu ada orang yang ’stressed’, menjadi sakit mental.

Tentu saja cerita ini tidak berlaku untuk semua orang, karena saya menggeneralisasi. Juga ada orang yang mencoba melawan pengaruh komputer, automatisasi, desosialisasi dan globalisasi itu, yang mampu membuat dunia dingin.

Kesimpulan

Semua orang baik di Indonesia maupun di Belanda harus bekerja untuk membiayai makan, minum, tempat tinggal, pakaian, sekolah, dll., tetapi bagaimana sampai itu berbeda. Indonesia relatif tenang, santai, tapi berubah juga (suasana Jakarta tidak sama dengan Bangunjiwo). Di Belanda kebanyakan orang kaya, tetapi diganggu stress dan perasaan malang. Di bidang material semuanya baik, tetapi tidak di bidang mental.

Ygerne Ten Brinke

Murid Alam Bahasa Indonesia
Ygerne mulai belajar di Alam Bahasa Indonesia dengan materi kursus tingkat lanjut

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>