Alam Bahasa Indonesia

Bulletin tentang budaya, alam, seni dan kehidupan Indonesia

Alam Bahasa Indonesia RSS Feed
 
 
 
 

Lomba Memasak Vegetarian

Alam Bahasa Indonesia

masakPada tanggal 19 Maret 2005 kami mengadakan lomba memasak vegetarian. Suasana di Alam Bahasa terasa lebih hangat dengan adanya 2 kelompok yang terdiri dari guru dan murid yang berlomba membuat makan siang vegetarian. Setelah menjelajahi pasar tradisional di dekat Alam Bahasa untuk mendapatkan semua bahan, semua anggota kelompok berusaha keras membuat kreasi yang paling enak dan unik.

Tidak sampai 3 jam semuanya sudah siap. Kelompok yang membuat sayur alam jogja, sup alam raya, jamur alam nikmat, dan buah alam segar menjadi pemenangnya. Namun, semua turut bergembira. Semua menu yang disajikan (yang tadi sudah disebutkan diatas dan kreasi kelompok lain: bola-bola tahu, bening ceria, dan melon cha cha cha) kami habiskan pada saat makan siang.

sayur=vegetable;
sup=soup;
jamur=mushroom;
buah=fruit;
bening=clear (in this context: clear soup; bola-bola tahu=tofu balls)

Padasan Yang Hampir Terlupakan

Alam Bahasa Indonesia

Sebelum tahun 1980-an, kalau Anda pergi ke mesjid, musola atau surau di desa-desa di daerah Yogyakarta dengan mudah Anda temukan sebuah benda dari gerabah berbentuk bulat besar berisi air. Warna dasarnya coklat kemerahan atau kehitam-hitaman, tetapi warna ini bisa berbeda-beda, tergantung umurnya. Benda yang berumur tua, cenderung berwarna hijau karena telah diselimuti lumut. Semakin banyak lumut, semakin dingin air di dalamnya. Itulah padasan, tempat penampungan air wudu yang digunakan untuk membersihkan diri oleh orang Muslim sebelum berdoa. Kegiatan membersihkan diri sebelum berdoa sesuai dengan ajaran Islam ini disebut berwudu

Padasan! Barangkali nama ini dalam beberapa waktu lagi akan dilupakan orang. Barangkali pula sekarang para pengrajin padasan semakin tidak tahu akan menjual hasil kerajinannya ke mana. Seiring dengan masuknya listrik ke desa-desa, banyak orang desa menghentikan kebiasaan lama mengambil air sumur dengan timba. Sekarang mereka lebih suka menggunakan pompa air listrik yang lebih praktis dan bisa memompa air dari sumur dalam jumlah besar dengan cepat. Sejalan dengan perubahan teknologi ini, padasan yang tadinya digunakan untuk menampung persediaan air wudu dari sumur dalam jumlah terbatas atau kecil, tidak lagi diperlukan. Akibatnya, kerajinan yang satu ini semakin kurang diminati. Daya tampungnya yang tidak banyak membuat orang lebih suka menggunakan bak penampungan air yang diberi kran. Dengan sedikit memutar kran, air akan mengucur deras. Orang tidak perlu lagi bersusah-susah menimba air sumur berulang kali untuk mengisi padasan sebagai tempat persediaan air wudu.

Padasan dibuat dari tanah liat. Bentuknya bulat, di bagian atas ada lubang besar untuk memasukkan air. Lubang bagian atas ini berdiameter sekitar 20 Cm dan besarnya sama dengan bagian dasar yang datar untuk dudukan. Bagian tengah merupakan lengkung yang paling besar, diameternya kurang-lebih 50 Cm. Di bagian bawah dekat dudukan terdapat sebuah lubang kecil tempat air keluar. Bila tidak diperlukan lubang kecil ini ditutup dengan sepotong kayu atau karet bekas sandal jepit sebagai sumbatnya. Kalau mau wudu, orang cukup mencabut sumbat itu dan air dingin segera mengucur keluar.

Untuk orang Muslim, air wudu harus bersih dan tidak boleh tersentuh badan. Karena itu ketika orang menimba air untuk mengisi padasan, orang harus berusaha agar air dari sumur tidak tersentuh tangan. Untuk menjaga air dari kotoran, biasanya lubang besar bagian atas padasan ditutup dengan cobek yaitu benda gerabah untuk membuat sambal yang bentuknya menyerupai mangkuk lebar.

Untuk membuat padasan diperlukan tanah liat, yaitu tanah khusus yang tidak terdapat di sembarang tempat. Secara tradisional, tanah liat yang sudah dibersihkan dari kerikil atau batu-batu ini dibuat lebih liat dan halus dengan cara diinjak-injak bersama pasir halus. Tanah yang sudah diolah selanjutnya dibentuk menjadi padasan atau produk kerajinan lain dengan alat yang bisa diputar (pengrajin biasanya menyebut puteran). Sesudah terbentuk, bagian dalam dan luarnya dipoles dengan tanah merah yang sudah dicampur dengan air. Selanjutnya, padasan mentah yang baru jadi dijemur supaya kering. Padasan mentah yang sudah dikreingkan ini siap dibakar dengan kayu, jerami, atau daun tebu kering di dalam tungku khusus.

Pemasarannya biasanya melalui pedagang perantara yang membeli benda-benda keramik dari pengrajin untuk dijual kembali. Bersama benda lain seperti cobek, tungku api, pot bunga, padasan dijual memakai sepeda atau digendong. Harga padasan juga bervariasi, tergantung besar kecilnya ukuran dan telah berapa jauh dagangan itu ditawarkan. Biasanya semakin jauh dagangan itu dijajakan, harganya pun akan semakin mahal.

Menurut seorang pengrajin dari Desa Semampir, Kalurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pemasaran padasan sekarang sudah sulit. Dibandingkan dengan benda-benda keramik yang lain, padasan lebih sulit terjual. Kadang-kadang pengrajin punya banyak stok menumpuk karena permintaan pasar sedikit.

Pada saat ini, padasan hanya dimiliki oleh orang-orang Muslim di desa yang tidak punya pompa air listrik di sumur-sumur mereka. Mesjid dan musola di desa pun kebanyakan tidak memanfaatkan padasan lagi sebagai tempat penampungan air wudu. Padasan sudah diganti dengan bak penampungan air yang bentuknya memanjang. Pada sisi memanjang itu terpasang beberapa kran yang dengan mudah akan mengalirkan air.

SMS, Siapa Takut?

Alam Bahasa Indonesia

Banyak cara untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia. Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakannya untuk menjalin komunikasi intensif dengan teman, rekan kerja, media masa maupun media elektronik. SMS (Short Massage Service) adalah salah satu cara berkomunikasi yang populer saat ini. Hampir semua orang sudah akrab dengan SMS yang menggunakan telepon seluler (HP) sebagai sarananya. Cara ini dipercaya lebih praktis, efisien, murah dan cepat. Bahkan keterbatasan jumlah huruf dalam sekali kirim tidaklah menjadi hambatan dalam ber-SMS. Ada banyak cara untuk mempersingkat pesan sehingga SMS tidak perlu dikirim berkali-kali. Penggunaan bahasa lain, seperti bahasa daerah dan bahasa Inggris untuk menyingkat pesan-pesan tersebut sering pula terjadi.
Menurut pengamatan penulis ada beberapa cara untuk mempersingkat pesan-pesan yang dikirim melalui SMS:

1. Memperpendek kata dengan menghilangkan semua atau sebagian vocal

Contoh: sdh (sudah), sby (Surabaya), jkt (Jakarta), yk (yogyakarta), jln (jalan), gmn (bagaimana), rmh (rumah), klo (kalau), smua (semua) dll.

  • bsk mlm km bs ke rmhku? (besok malam kamu bisa ke rumahku?)
  • jgn plg trlmbt lg, ya! (jangan pulang terlambat lagi, ya!)
  • smpkan slm untk bpk n ibu! (sampaikan salam untuk bapak dan ibu!)

2. Mengganti kata atau suku kata dengan huruf atau simbol tertentu

Contoh: 4 (untuk/for), t4 (tempat), I (saya), U (kamu), q (-ku), n (dan), b4 (sebelum/before), ñ (-nya), dll.

  • I tngg b4 jm 5 sr, ya! (saya tunggu sebelum jam 5 sore, ya!)
  • Kpn dtg ke yk? Mmpr ke rhm, ya! (Kapan datang ke Yogya? Mampir ke rumahku, ya! )

3. Menyingkat frasa yang terdiri dari beberapa kata

Contoh: cu (see you/sampai jumpa), tks (terima kasih), IMU (I miss You/ aku kangen kamu), IC (I see/saya tahu/ok), ILU (I love you/ aku sayang kamu), dll.

  • sdh lm kt tdk btemu, IMU (sudah lama kita tidak bertemu, aku kangen kamu.)
  • Tks atas undgnmu, bsk kt btemu di mall sj, cu. (Terima kasih atas undanganmu, besok kita bertemu di mall saja, sampai jumpa.)

4. Memakai simbol-simbol untuk mengungkapkan ekspresi

Contoh: :-) (tersenyum, senang), :-( (sedih, kecewa, tidak suka), :-p (meledek, bercanda), ;-p (iseng, bercanda), dll.

  • tks oleh2ñ ya, yg srg2 sj! :-) (terima kasih oleh-olehnya, ya, yang sering-sering saja! :-) )
  • jgn tlp n dtg ke rmhq lg! :-( (jangan telepon dan datang ke rumahku lagi :-( )
     

Lebih kurang seperti itulah cara ber-SMS yang singkat, padat dan jelas. Namun kadang-kadang orang punya kelompok SMS sendiri-sendiri, sehingga untuk menulis satu kata bisa sangat bervariasi modelnya. Sesungguhnya cara penulisan ini selain biasa dipakai dalam ber- SMS juga digunakan di dalam koran atau surat kabar pada pelbagai iklan singkat, antara lain pada iklan lowongan kerja, menyewakan atau menjual rumah, motor, mobil dan lain-lain. Selain untuk mengirim pesan atau beriklan, penyingkatan kata tersebut juga bisa dipakai untuk latihan berbahasa.

~ SLMT MCB!! ~

Tongseng PURI

Alam Bahasa Indonesia

Indonesia terkenal dengan masakan yang berbumbu dan pedas. Kali ini tim kursus memasak PURI Indonesian Language Plus menyajikan salah satu dari kumpulan resep kami untuk Anda. Tidak terlalu pedas, tetapi…..pasti enak! Selamat mencoba!

BUMBU - BUMBU:

  • 500 g beef
  • 3 cabbage leaves
  • 1 tomato
  • 4 shallots
  • 2 garlic
  • 3 cloves
  • 1 tsp pepper
  • Salt, as you like
  • Sweet soybean sauce, as you like
  • 1 tbs oil
  • 0.5 glass (100ml) water

CARA MEMASAK:

  • Boil beef until tender, and slice it in small pieces
  • Slice shallot, garlic, cabbage leaves and tomato
  • Sauté shallot dan garlic in 1 tbs oil
  • Add beef, water, salt, pepper, cloves, and sweet soybean sauce
  • Cook it until a little water left
  • Put in sliced cabbage leaves and tomato
  • Serve tongseng with rice

Kalau Anda vegetarian, Anda bisa pakai tahu goreng sebagai ganti daging sapi.

Silakan kirim email kepada kami dan bercerita tentang pengalaman Anda memasak Tongseng Puri.

Terima kasih, guru-guru dari kursus memasak PURI! Nah, kalau Anda tertarik belajar masakan lain, guru-guru siap membantu Anda.

Karya Amal Puri (KAP) - Tetap Beramal di Masa Krisis

Alam Bahasa Indonesia

Berawal dari perasaan rela dan perhatian kepada orang lain, PURI berencana untuk mengadakan aksi sosial, namanya KARYA AMAL PURI (KAP). Rencana ini semakin mantap dengan terjadinya krisis di Indonesia sekarang ini. Kami memberi tidak dari kelebihan kami. Kami memberi dari kekurangan kami. Kami berpikir, pasti banyak orang yang punya lebih banyak masalah daripada kami. Jadi, aksi sosial ini mulai dipikirkan dengan serius oleh semua karyawan PURI dan pada tanggal 1 Juli 1997, KAP resmi didirikan. Semua karyawan PURI menjadi donor untuk organisasi ini.

KAP menjadi orang tua asuh untuk anak-anak sekolah dari SD-SMK yang hidup dalam kekurangan, tetapi berprestasi di bidang akademik. Untuk itu, PURI mendatangi desa, rumah, atau sekolah. Pertama kali kami membiayai 19 anak SD. Krisis ekonomi tidak menghalangi KAP terus aktif. Kami memberikan kelebihan dari kekurangan kami, itu adalah motto kami. Bahkan KAP membantu lebih banyak anak sekolah, 35 orang anak sekolah, 25 anak sekolah SD dan 10 anak belajar di SMP dan SMK. Per bulannya PURI mengeluarkan biaya sebesar Rp 125.000,00 untuk anak SD, Rp 50.000,00 untuk anak SMP, dan Rp 75.000,00 untuk anak SMK. Semuanya sebesar Rp 250.000,00. Dana untuk keperluan ini didapat dari karyawan, kenalan dan murid-murid dalam keluarga besar PURI Indonesian Language Plus. Mereka dari keluarga Mbak Junko Higashi; Jepang; Ibu Gina van Vliet Laurens, Belanda; Mas Lucas von Zallinger, Jerman; dan teman-teman dan Mas Per Derefelt, Swedia. PURI mengucapkan banyak terima kasih kepada Anda semua.

KAP, dengan bantuan Mbak Julia Toringe dari Swedia, juga akan bekerja sama dengan yayasan di Swedia untuk membantu anak-anak cacat. Anda mau tahu lebih banyak tentang KAP dan ikut juga? Silakan mengirim e-mail kepada kami lewat puri@idola.net.id untuk keterangan lebih lanjut.

Bahasa Gado-Gado?

Alam Bahasa Indonesia

Apakah Anda termasuk orang yang suka makan makanan Indonesia yang satu ini: gado-gado? Di dalam makanan ini ada bermacam-macam sayuran dan bahan. Sebelum makan makanan ini, Anda harus mencampur semua bahan dan bumbunya agar rasanya lebih enak.

Pada kesempatan ini saya tidak ingin mengajak Anda untuk membicarakan makanan Indonesia. Saya akan mengajak Anda untuk melihat “bahasa gado-gado” yaitu gejala pemakaian suatu bahasa dengan mencampur bahasa itu (bahasa Indonesia) dengan bahasa asing

Ketika membuka inbox email, ada hal menarik yang saya temukan. Ada beberapa surat yang ditulis teman dan eks murid saya. Mereka sekarang masih bekerja di Indonesia atau ada yang sudah pulang ke negaranya. Untuk mengakhiri email-email itu ada yang menulis: “Selamat bekerja, dan stay coollah!, Ciao!, Balas emailku dan have a nice day “. Beberapa waktu lalu ketika saya bekerja di salah satu perusahaan asing, orang-orang perusahaan baik orang Indonesia maupun orang asing sangat biasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam tuturan mereka. Misalnya:” Besok pagi tidak ada induction., Silakan pakai seat belt !, Hasil rapat itu belum ada follow up-nya. Minggu ini tidak ada blasting. “.Kata-kata dari bahasa asing itu begitu dekat dan familiar dengan orang-orang di perusahaan dari orang-orang kantoran sampai pegawai rendahan (meskipun kadang-kadang pengucapannya kurang baik).

Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil kata atau istilah dari bahasa asing yang dipakai bersama-sama dalam satu tuturan bahasa Indonesia. Masih banyak kata atau istilah dari bahasa asing yang mewarnai bahasa Indonesia. Mencermati pemakaian bahasa yang demikian, pertanyaan yang muncul adalah kenapa mereka membuat tuturan seperti itu?

Kalau ditilik dari alasannya, ada banyak faktor yang membuat orang mencampur dua bahasa atau lebih dalam tuturannya. Ada yang berpikir bahwa dengan memakai bahasa seperti itu mereka lebih “keren” lebih “gaul” Gejala ini nampak sekali pada pemakaian bahasa anak-anak muda. Anak muda punya kecenderungan mudah menerima sesuatu yang baru baik dalam hal sesuatu yang bersifat fisik maupun yang non fisik termasuk istilah-istilah. Dalam hal istilah, mereka sering sekali menggunakan istilah seperti “cool, macho man!, sexy bo’, funky, dan be-te”. Istilah-istilah itu kadang-kadang pemakaiannya tidak pas dengan maksud bahasa asalnya. Misalnya istilah be-te yang dari bahasanya asalnya sebenarnya adalah bad tempered. Bad tempered mengacu pada karakter orang (orang yang mudah marah). Sebagai suatu karakter, sifatnya permanen. Istilah be-te dipakai untuk suatu suasana hati yang sedang kesal atau jengkel, jadi sifatnya sementara saja. Jadi terlihat bahwa istilah itu mengalami pembelokan maksud tapi karena istilah itu sudah banyak dipakai, orang tidak lagi memperhatikan benar tidaknya.

Di sisi lain, orang mencampur bahasa pertama (Indonesia) dengan bahasa asing karena dalam bahasa pertama orang tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat dan pas dengan rasa bahasa yang dimaksud. Contohnya orang Indonesia yang belajar bahasa asing. Di bahasa Indonesia, orang bisa mengekspresikan rasa marah dengan mengatakan (maaf) “Matamu!” Biasanya orang mengatakan demikian untuk hal-hal yang berhubungan dengan pengelihatan. Misalnya orang tua sudah bekerja keras untuk anaknya tetapi si anak tidak melihat (tidak mau tahu) atau tidak mengimbangi kerja keras itu dengan membantu orang tua atau belajar rajin. Alangkah lucunya kalau “Matamu!” dikatakan menjadi “Your eyes!” atau “Jouw ogen!” karena orang Inggris dan Belanda mempunyai istilah yang khas untuk mengungkapkan keadaan di atas atau barangkali mereka tidak punya istilah ini.

Lantas, apakah pencampuran seperti di atas dikatakan perbuatan berbahasa yang salah? Kita tidak bisa mengatakan demikian. Pencampuran seperti di atas bisa terjadi pada semua bahasa. Kalau memang suatu bahasa tidak bisa mewakili rasa bahasa yang lain, akan menjadi aneh kalau kita terlalu memaksakan diri untuk mengalihbahasakannya. Seperti “Have a nice day” dan Stay cool !” Orang Indonesia tidak bisa menemukan padanannya di bahasa Indonesia Kalaupun ada, kadang-kadang padanan itu tidak dipakai oleh masyarakat. Seperti pada seat belt, induction, dan blasting. Bahasa Indonesia punya padanan untuk istilah tersebut yaitu sabuk pengaman, pengenalan, dan peledakan. Meskipun demikian toh orang tidak bisa dipaksa untuk menggunakannya. Barangkali karena kata-kata itu tidak biasa dipakai dalam keseharian orang banyak di Indonesia. Meskipun di Indonesia ada banyak mobil, tidak banyak mobil Indonesia yang mempunyai sabuk pengaman. Kalau sabuk pengaman ada di setiap mobil Indonesia, ada kemungkinan istilah itu lebih diterima daripada seat belt.

Barangkali gejala itu merupakan salah satu cara bahasa Indonesia “bergaul” dengan bahasa lain. Dalam sejarahnya, sejak bahasa Melayu (asal bahasa Indonesia) belum menjadi bahasa nasional juga sudah mendapat banyak pengaruh dari bahasa-bahasa asing yang lain, seperti bahasa Arab, Sansekerta, Cina, dan Portugis. Apa lagi dengan berkembangnya teknologi yang makin cepat, pengaruh bahasa asing itu amat terasa di bahasa Indonesia. Jadi wajarlah kalau di sana sini bahasa Indonesia diwarnai istilah atau kata bahasa asing.

Holiday Blues

Swanny Hartono

Jumat malam hingga Sabtu malam merupakan saat yang paling menyenangkan bagi saya. Hari Minggu saya masih senang tetapi hanya sampai jam enam sore. Sesudah itu rasanya ada ketegangan tersendiri karena harus mulai memeriksa program kerja, merencanakan rapat, dan memikirkan strategi bisnis. Di akhir libur panjang saya merasa lebih kacau. Betapa enggannya saya kembali ke Yogya untuk bekerja lagi (oww, tolongg…) setelah beberapa hari menikmati kenyamanan suasana di kota kecil saya dan kehangatan keluarga. Bisa ditebak, pada hari pertama bekerja setelah berlibur sekian lama, saya agak canggung. Pernah juga saya justru jatuh sakit pada hari kerja kedua setelah cuti sebulan dan melakukan ‘estafet’ ke tiga kota yang berjauhan dalam seminggu terakhir masa cuti tersebut.

Nampaknya, saya bukan satu-satunya orang yang mengalami hambatan kerja setelah berlibur. Jennifer Johnston mengungkapkan di Sunday Herald Online Agustus 2004, 79% pria dan 74% wanita bekerja di UK merasa gelisah, tertekan dan bahkan ada yang mengalami depresi di akhir liburan mereka. Gejala yang marak dalam gaya hidup di abad ke-21 ini dijelaskan oleh Anthony Gleadell, seorang konsultan psikologi di UK, sebagai akibat dari kecenderungan orang untuk menjadikan liburan sebagai saat untuk melepaskan segala ketegangan. Kemudian, tanpa terasa liburan habis dan mereka harus kembali bekerja. Bayangan tentang kembali ke pekerjaan dengan segala permasalahannya menumbuhkan perasaan tertekan.

Sepuluh persen dari para karyawan yang mengalami sindroma tersebut menambahkah satu hari libur lagi. Ini sejalan dengan pendapat Gleadell. Menurut Gleadell, karyawan yang diberi waktu untuk menyesuaikan diri setelah berlibur akan lebih produktif dan ini akan menguntungkan perusahaan. Para pemimpin perusahaan tidak sependapat dengan Gleadell. “Memperpanjang liburan hingga karyawan siap bekerja merupakan langkah riskan. Di masa yang demikian penuh persaingan ini karyawan harus langsung siap bekerja setelah berlibur,” tukas Allan Hogarth dari Confederation of British Industry di Skotlandia. Hogarth pun memperkuat pendapatnya dengan menunjukkan bahwa liburan di UK lebih panjang daripada di Amerika Utara.

Jalan tengah muncul dari Sekjen Trades Union Congress (TUC), Brendan Barber, “Manusiawi jika karyawan sedikit tertekan pada akhir masa liburan, khususnya jika jeda antara liburan panjang sangat lama. TUC mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan tiga hari libur nasional tambahan, salah satunya pada musim gugur.” Pendapat ini tentunya didukung oleh Gleadell yang menganggap bahwa libur satu atau dua minggu per tahun tidak cukup. Sebagian hari libur dipakai untuk mengatur persiapan liburan, keberangkatan dan kepulangan ke dan dari tempat berlibur, sehingga tidak ada cukup hari dalam libur panjang tersebut untuk benar-benar bersantai.

Penelitian oleh Asosiasi Psikologi Amerika Serikat menunjukkan bahwa holiday blues –rasa tertekan pada hari libur– bisa dipicu oleh sejumlah faktor di luar pekerjaan, yaitu kelelahan, target liburan yang terlalu tinggi, godaan iklan konsumtif, dan kekecewaan karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Kesedihan pada tingkat ringan hingga depresi berat muncul dalam gejala sakit kepala, kecanduan minuman keras, makan berlebihan, atau tidak cukup makan, dan sulit tidur.

Bagaimana cara mencegah atau mengurangi holiday blues? Untuk mengurangi tekanan yang berkaitan dengan pekerjaan, menurut saya, cara-cara berikut ini dapat membantu:

  • Sebelum mulai cuti pastikan bahwa kita sudah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang dijadwalkan harus selesai sebelum cuti
  • Pastikan bahwa ada pendelegasian yang jelas kepada staf atau rekan kerja lain agar program kerja tetap berjalan meskipun kita cuti
  • Bayangkanlah betapa besar andil pekerjaan kita terhadap kelangsungan hidup kita. Seandainya tiba-tiba kita terancam kehilangan pekerjaan, tentu kita akan lebih memilih untuk bekerja mati-matian asalkan tidak kehilangan pekerjaan.
  • Pikirkanlah bahwa liburan baru akan terasa nikmat jika sudah didahului oleh kerja keras. Jika kita hanya bersantai sepanjang tahun, bukan tidak mungkin kita akan merasa bosan dan tidak menemukan kenikmatan dalam masa santai yang panjang itu.
  • Cukup tidur di Minggu malam akan membantu kita untuk lebih bersemangat di Senin pagi. Kadang-kadang kita begitu antusias dengan kegiatan-kegiatan akhir minggu dan baru tidur menjelang Sabtu pagi dan Minggu pagi. Pada hari Minggu malam kita masih segar dan baru pergi tidur setelah larut malam. Akibatnya, pada hari Senin kita bangun dengan perasaan berat dan malas bekerja.
  • Sarapan akan membantu konsentrasi dan suasana hati kita tetap terjaga.

Dalam kaitan dengan penyebab holiday blues di luar pekerjaan, Centers for Disease Control and Prevention, the American Psychological Association, the National Mental Health Association, and the Mental Health Association of Colorado menyarankan hal-hal berikut ini:

  • Tetapkan target yang realistis untuk liburan Anda. Sebaiknya Anda tidak menetapkan liburan sebagai masa penyembuhan luka masa lalu. Liburan tidak berarti Anda akan terbebas dari kesedihan maupun rasa kesepian.
  • Liburan tidak harus menjadi saat untuk berhura-hura, khususnya jika Anda baru saja mengalami kejadian yang cukup mengguncangkan emosi, misalnya kematian anggota keluarga atau putus cinta.
  • Tetapkan batas anggaran liburan Anda dan berusahalah untuk mentaatinya. Liburan tidak harus menjadi saat berbelanja atau berpesta tanpa batas. Carilah kegiatan yang tidak mengharuskan Anda merogoh kocek. Cuci mata di mal sambil menikmati keindahan dekorasi Natal atau Lebaran dapat menjadi hiburan yang murah meriah sekaligus memberikan inspirasi. Tinggal di rumah sambil mengerjakan hobi berkebun, memasak, atau membaca juga merupakan pilihan yang menyenangkan.
     

Semoga dengan langkah-langkah di atas holiday blues tidak lagi membayangi liburan kita.

Tips Membuat ME(N)~KAN & ME(N)~I

Thomas Wahyu Widiyono

Anda merasa sulit mengerti dan juga tidak bisa membuat kalimat dengan memakai kata kerja Me(N) ~ kan dan Me(N) ~ i ? Saya akan memberi tips dalam bentuk skema sederhana yang mudah Anda. ingat. Biasanya Me(N) ~ kan punya konteks

  1. kausatif yaitu membuat objek menjadi kata dasar. Kategori kata pada konteks ini adalah kata kerja intransitif (a) kata dasar, (b) kata kerja ber ~, (c) kata kerja me(N) ~ dan juga pada kata sifat bernuansa emosi,
  2. memakai preposisi TENTANG,
  3. transfer objek dan pekerjaan,
  4. benefaktif yaitu melakukan pekerjaan untuk orang lain dan
  5. membawa objek ke kata dasar.

 

Skema Me(N)~kan
 
 
skema me-kan 
 

Sedangkan kata kerja Me(N) ~ i, biasanya punya konteks :

  1. kausatif yaitu membuat objek menjadi kata dasar pada kata sifat bernuansa kondisi dan sedikit sekali. dengan kata sifat yang bernuansa rasa, warna dan emosi
  2. memakai preposisi yang lain, misalnya : kepada, dengan, untuk, di, ke, dari,
  3. repetisi atau melakukan aktivitas berkali-kali.
  4. Memberi

 

Skema Me(N)~i

skema me-i

Mari kita coba membuat kalimat : Kata DATANG biasanya perlu kata yang lain, yaitu preposisi di, dari. Jadi, Anda bisa langsung membuat kata itu dengan me(N)~i, menjadi MENDATANGI. Tetapi kalau Anda mau membuat orang datang kepada Anda (kausatif), Anda bisa membuatnya dengan me(N)~kan menjadi MENDATANGKAN. Sekarang Anda punya kata (BER)TANYA, Anda pasti perlu kata yang lain yaitu kepada atau tentang. Untuk konteks kepada, Anda bisa langsung pakai dengan bentuk MENANYAI. Untuk konteks tentang, Anda bisa langsung memakai MENANYAKAN

Makam Imogiri

Anting Jatiningtyas

Imogiri adalah makam raja-raja Jogjakarta dan Surakarta. Imogiri dibangun pada tahun 1645 Masehi. Pendiri komplek makam raja-raja di Imogiri adalah Sultan Agung. Yang boleh dimakamkan di sini adalah raja-raja Mataram, Surakarta dan Jogjakarta beserta keluarganya. Raja Jogjakarta terakhir yang dimakamkan di sana adalah Sultan Hamengkubuwana IX, pada tahun 1988. Raja Surakarta terakhir adalah Sunan Pakubuwana XII pada tahun 2004.

Makam ini dibangun di tempat yang tinggi karena merupakan simbol dari persatuan arwah dengan para leluhurnya serta para dewa (Tuhan). Tempat yang tinggi (puncak gunung) dipandang sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur dan para dewa.

Bukit Imogiri mempunyai arti khusus sehingga makam Imogiri dibangun di sana. Tempat ini dulu sering dikunjungi oleh Sultan Agung untuk bertapa (bermeditasi). Makam Sultan Agung terletak di puncak bukit Imogiri, tempat tertinggi pada komplek makam ini. Makam Sultan Agung adalah makam yang paling penting karena pada masa hidupnya Sultan Agung punya peranan besar dalam sejarah Mataram. Selain itu, beliau dianggap memiliki kekuatan supranatural yang paling besar dibandingkan raja-raja lain yang dimakamkan di sini.

Pintu masuk ke dalam cungkup Sultan Agung kecil dan ambang pintunya rendah. Pintu ini sengaja dibuat kecil sehingga orang hanya bisa masuk satu persatu ke dalam cungkup; ambang pintunya dibuat rendah supaya orang membungkuk jika mau masuk ke makam, sebagai tanda hormat kepada Sultan Agung yang dimakamkan di sana.

Komplek makam Imogiri terdiri dari delapan komplek makam, yang paling utama adalah komplek Kasultanagungan dan komplek Pakubuwanan, kedua komplek ini berisi makam leluhur Kerajaan Jogjakarta dan Surakarta. Kerajaan Jogjakarta memiliki tiga komplek makam lain yang terletak di sebelah kiri komplek Kasultagungan dan komplek makam Pakubuwanan, sedangkan kerajaan Surakarta juga memiliki tiga komplek makam lain yang terletak di sebelah kanan komplek Kasultanagungan dan Pakubuwanan.

Page 7 of 7« First...«34567