Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53)
Berjalan-jalan ke monumen peninggalan masa Hindu-Buddha, pertama kali memasuki jalan masuk utama kita akan berjumpa dengan sepasang makhluk berwajah menyeramkan. Itulah dvarapala, arca penjaga bangunan suci.
Di mana pun, dvarapala adalah sosok yang menyeramkan dan tampak ganas. Dua matanya melotot tajam menatap penuh curiga pada setiap orang yang memasuki candi. Taring-taringnya yang runcing, khas milik raksasa, mencuat keluar membuat orang bergidik. Apalagi badannya tinggi besar, bahkan ada yang setinggi 3,70 m seperti yang dijumpai di Candi Singosari, Malang.
dvarapala juga disebut yaksha. Sebelum dewa-dewa Hindu dan Buddha muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha merupakan makhluk gaib yang dipuja oleh orang India sebagai sumber kehidupan karena melindungi pertanian. Setelah pantheon dewa muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha dimasukkan ke dalam golongan setingkat di bawah dewa.
Pada perkembangan berikutnya, yaksha menjadi pendamping Sang Buddha. Makhluk ini menghiasi stupa bersama makhluk lain seperti yang terdapat di stupa Bharhut, India pada abad I Masehi. Di Sanchi, masih di India, yaksha seakan-akan melindungi dan menjaga bangunan suci di Puncak Torana. Tugas yaksha sebagai pelindung itulah yang kemudian berkembang di Indonesia menjadi dvarapala.
dvarapala selalu ditempatkan di depan pintu atau di gerbang menuju candi. Dia memiliki kekuasaan untuk melindungi bangunan suci dari berbagai serangan kekuatan jahat. Selain wajah yang menyeramkan, dvarapala masih dilengkapi dengan berbagai senjata dan atribut lain. Itu memang disengaja untuk menciptakan kesan menakutkan.
Sebagian besar dvarapala memang memegang gada. Alat pemukul itu dianggap sebagai lambang penghancur sekaligus lambang keperkasaan dan kekuasaan. Senjata itu juga dipercaya sebagai tongkat hukuman atau kematian. Atribut lain umumnya adalah ular atau naga. Dua satwa itu perlambang kehidupan air (water spirit) yang dapat mendatangkan hujan.
dvarapala penjaga Candi Plaosan di daerah Prambanan Jawa Tengah menggunakan tali jerat (pasa) berbentuk ular sebagai senjata untuk menjerat dan menangkap musuh khususnya makhluk-makhluk jahat. Senjata andalan lainnya adalah golok atau pisau belati. Untuk menambah kesan gagah dan garang penampilannya, dvarapala diperlengkapi dengan kelat bahu, sabuk, samur, subang, kalung, gelang kaki (binggel), gelang tangan serta ikat kepala untuk mengikat rambut ikalnya. Dari bentuk fisiknya, dvarapala punya sifat destruktif. Namun dalam hubungannya dengan peribadahan, aspek destruktif itu harus dipandang mulia. Dalam hal ini yang dianggap sebagai musuh-musuh jahat dari luar yang harus dihancurkan adalah ajaran-ajaran yang melawan agama.
Tidak semua arca dvarapala yang ditemukan punya wajah yang menyeramkan. Juga tidak semuanya memiliki atribut yang sama. dvarapala dari Jawa Timur lebih bervariasi baik ekspresi maupun penampilannya. Ada yang dalam posisi berdiri maupun jongkok. Ada pula dvarapala perempuan yang menggandeng anaknya. Tentu, meski bayi, penampilannya tetap saja garang.
Penampilan dvarapala yang fisiknya kelihatan sangar tetapi ekspresinya tenang ternyata dilandasi oleh suatu filosofi. Menurut para ahli, dvarapala juga berperan serupa dengan dharmapala atau “Pelindung Dharma” seperti dikenal dalam Buddhisme di Tibet. Sebagaimana dharmapala, meski dvarapala berwujud menyeramkan, namun perannya tidak jahat. Pemahaman itu rupa-rupanya mengilhami para seniman Jawa untuk menggambarkan makhluk ini secara tidak terlalu menakutkan. Perhatikan mulutnya, sering digambarkan ekspresi mulut yang “tersenyum”.
Di lereng selatan Gunung Semeru sepasang dvarapala mungil sudah tidak terpajang lagi di tempatnya. Kini dvarapala itu terpuruk di ruang sempit rumah penduduk. Tugasnya dinyatakan selesai. Nasib malang tidak hanya menimpa dvarapala dari Gunung Semeru. dvarapala-dvarapala lainnya mengalami nasib hampir serupa. dvarapala turun pangkat. Bila dulu mereka menjadi penjaga bangunan suci dan pendamping Buddha, kini dvarapala banyak dipasang di hotel, kantor dan bahkan di rumah mewah pribadi.
Apa pun sebutannya, apakah Thothok Kerot di Jawa Timur atau Reco Gupolo di Prambanan dan sekitarnya, kini tampaknya dvarapala sudah kehilangan makna…
(Disarikan dari Majalah Intisari Edisi November 2000)
foto: dvarapala, vihara di dekat Thuparama dagaba, Srilanka
Sumber: http://www.slnews.net/html/historicalcities/anuradhapura.htm
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Di Inggris dan Wales ada sekolah negeri dan sekolah swasta. Sekolah negeri gratis karena pemerintah membayar biaya belajar. Di sekolah swasta orang tua harus membayar biaya pendidikan. Biasanya, fasilitas sekolah swasta lebih banyak daripada fasilitas sekolah negeri.
Anak-anak mulai bersekolah pada umur 3 tahun. Mereka masuk ke taman kanak-kanak (TK). Di TK mereka melakukan aktivitas edukatif, antara lain menari, menyanyi, dan seni. Mereka juga berinteraksi dengan anak-anak yang lain. Mereka diperkenalkan kepada membaca dan menulis.
Pada umur 5 tahun anak-anak masuk ke sekolah dasar. Di sekolah dasar murid-murid diajar oleh guru kelas. Mereka belajar antara lain: matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa Inggris, olah raga, dan agama.
Sekolah lanjutan mulai ketika anak-anak berumur 11 tahun. Mereka belajar di sekolah lanjutan sampai umur 16 tahun. Di sekolah lanjutan murid-murid belajar lebih banyak bidang studi daripada di sekolah dasar. Biasanya, setiap bidang studi diajarkan oleh satu guru khusus. Murid harus belajar bidang studi, yaitu matematika, bahasa Inggris, bahasa Perancis, teknologi, biologi, kimia, fisika, olah raga, agama, geografi, dan lain-lain.
Setiap tahun biasanya ada pengelompokan murid-murid menurut kemampuan. Kelompok 3 terdiri dari murid-murid dengan kemampuan rendah. Kelompok 2 untuk murid-murid berkemampuan sedang. Kelompok 1 terdiri dari murid-murid yang paling pintar.
Setiap tahun murid-murid harus ikut ujian. Hasil ujian dipakai untuk pengelompokan ketika murid-murid berumur 16 tahun dan ada ujian khusus.
Sesudah ujian murid-murid bisa meninggalkan sekolah atau tetap belajar di level A (advanced) supaya bisa masuk universitas. Kalau sekolah tidak punya fasilitas seperti itu murid-murid bisa masuk ke college (SMK). Biasanya murid-murid mengambil 3 bidang studi di level A - yang cocok dengan bidang studi yang ada di universitas.
Kebanyakan sekolah punya murid-murid yang bermasalah. Mungkin, masalah kelakuan atau murid yang cacat badannya, atau murid yang sulit membaca atau menulis. Biasanya, ada guru khusus untuk murid-murid itu, namanya guru pembantu. Guru ini masuk ke kelas dan membantu murid-murid itu menulis, membantu, dan menjelaskan pelajaran lain. Ada latihan khusus untuk murid-murid itu dengan banyak gambar dan kata-kata yang mudah.
Saya mengajar di dua sekolah. Sekolah yang pertama di desa. Sekolah itu bagus sekali dengan banyak fasilitas, antara lain, komputer dan alat-alat praktikum. Murid-murid tinggal jauh dari sekolah itu dan mereka naik bis sekolah setiap hari. Sekolah itu memakai system bilingual. Untuk setiap bidang studi ada dua guru. Satu guru mengajar di bahasa Inggris dan satu guru di bahasa Wales. Kebanyakan murid di sekolah mempunyai rasa hormat kepada guru. Ada juga beberapa murid nakal, tetapi kebanyakan murid bagus sekali.
Sekolah yang kedua tempat saya mengajar ada di Inggris utara. Sekolah itu terletak di dekat kota Grimsby. Ada banyak masalah sosial ekonomi di sana dan ada banyak orang tidak punya pekerjaan. Sekolah itu punya 600 murid dan 35 guru.
Sekolah ini tidak ada banyak fasilitasnya. Banyak murid tidak mau belajar dan tidak punya disiplin. Banyak murid selalu terlambat masuk kelas dan mereka tidak menurut kepada guru dan sekolah. Beberapa murid lain tidak pergi ke sekolah. Mereka membolos.
Tidak ada hukuman fisik di sekoah Inggris dan Wales. Kalau murid-murid nakal sekali, misalnya, saling memukul di kelas atau mengeluarkan kata-kata kasar kepada guru, guru menelepon “kepala tahunan”. Kepala tahunan akan membawa murid-murid ini ke ruang lain. Kalau murid-murid itu terlalu nakal, mereka dimasukkan ke ruang isolasi selama satu hari. Atau, murid-murid itu tidak boleh bersekolah selama satu minggu.
Kalau murid-murid itu tidak memperbaiki kelakuan mereka, kepala sekolah dan pemerintah memasukkan murid itu ke sekolah khusus untuk rehabilitasi.
Written and presented by JANE SMITH, a VSO (Voluntary Service Overseas) volunteer
(after learning in PURI programs: Communicative Beginner, Fluent Communicator, and Natural Communicator)
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Selain menjalankan kegiatan belajar dan mengajar, Alam Bahasa Indonesia juga mempunyai kegiatan lain dibidang sosial yang bernama PURI PEDULI. Kegiatan sampingan yang sudah berlangsung selama lima tahun ini bertujuan untuk membantu siswa-siswi sekolah di lingkungan Jogjakarta mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU/K). Bantuan yang kami berikan ini berupa pemberian beasiswa kepada siswa-siswi yang keluarganya termasuk dalam golongan ekonomi lemah.
Untuk tahun ajaran 2001-2002 ini, PURI Peduli telah memberikan beasiswa kepada 22 orang siswa sekolah dengan perincian sebagai berikut:
- 15 siswa dari 6 Sekolah Dasar, antara lain: SD Terban Taman II, SD Bopkri Turen, SD Depok Stan, SD Kanisius Wirobrajan I, II dan SD Muhamadyah Blunyah.
- 3 siswa dari SMP Bopkri 4
- 3 siswa dari SMK YPKK dan SMK Sedayu
Di samping sekolah-sekolah tersebut di atas, beasiswa juga diberikan untuk biaya operasional SD Totogan di Prambanan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) “Bina Siwi” di desa Sendangsari Pajangan Bantul. Profil SLB “Bina Siwi” ini akan kami tampilkan di bawah ini.
PROFIL SLB “BINA SIWI”
DESA SENDANGSARI PAJANGAN BANTUL
Sekolah Luar Biasa “Bina Siwi” ini dikelola oleh Yayasan Ngudiraharjo dan dipimpin oleh Ibu Jumilah sebagai kepala sekolahnya. SLB yang dikelola secara swasta murni ini memiliki siswa sejumlah 40 anak. Siswa-siswi yang belajar di sekolah khusus anak-anak cacat ini berasal dari desa Sendangsari sendiri dan sekitarnya. Sebagian besar dari mereka memiliki cacat mental (tuna grahita), tuna daksa, tuna rungu dan wicara.
SLB ini berlokasi di komplek Balai Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul sekitar 25 km arah selatan kota Jogjakarta. Sekolah yang luasnya hanya 200 m² ini terdiri dari dua buah ruang besar yang disekat-sekat menjadi beberapa ruang kelas dan kantor untuk guru dan kepala sekolah, serta halaman yang digunakan untuk ruang usaha sekolah.
Saat ini SLB “Bina Siwi” sedang merencanakan pembangunan panti yang digunakan sebagai tempat siswa-siswa yang rumahnya jauh dari sekolah karena sekolah tidak mempunyai ruang tidur untuk mereka. Ada 17 siswa yang saat ini tinggal di sekolah. Selama ini mereka menggunakan ruang kelas untuk tempat tidur, jadi pada pagi hari ruang itu untuk kegiatan belajar mengajar dan malam harinya mereka menggeser bangku dan meja untuk tempat tidur.
Untuk menyokong operasional sekolah yang tidak sedikit, pengurus SLB Bina Siwi yang berjumlah tiga orang ini mengusahakan beberapa kegiatan diluar belajar siswa, antara lain dengan membuka sebuah warung kecil dan menjalin kerja sama dengan pengusaha emping mlinjo dan kayu bubut. Meskipun kegiatan sampingan ini tidak menghasilkan pendapatan yang besar, namun hasil itu cukup membatu SLB “Bina Siwi” sebagai sumber dana operasional dan mencari lapangan pekerjaan bagi siswa-siswi SLB tersebut. Untuk itu pihak sekolah masih mengharapkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain.
Sekolah Luar Biasa “Bina Siwi” memang bukan sekolah yang besar. Namun pihak sekolah mempunyai komitmen yang cukup tinggi utuk tetap menjalankan dan mengusahakan sekolah ini menjadi sekolah yang lebih baik, yang bermanfaat bagi anak-anak cacat yang memang membutuhkan pelayanan pendidikan yang bermanfaat untuk masa depan mereka.
Adapun sumber dana tetap yang mendukung berlangsungnya aksi sosial ini berasal dari sumbangan PURI Indonesian Language sebagai lembaga dan sumbangan para guru serta staff karyawan PURI setiap bulannya. Namun kami tidak menutup kemungkinan bagi para donatur di luar PURI untuk memberikan sumbangannya, PURI Peduli akan menyalurkannya kepada pihak yang berhak menerima. Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi kami.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53)
Sorry, the Indonesian version is still not available for this article
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53)
Sorry, the Indonesian version is still not available for this article
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Mbak Mineke Bons dari Belanda menulis artikel tentang kunjungannya di Dieng dengan guru-guru dan beberapa teman. Selamat membaca!
Senang sekali saya berkunjung ke Dieng Plateau dengan teman-teman dari PURI Indonesian Language Plus.
Hari Sabtu, 5 September 1998, tiga orang Jerman - Olaf, Bernhard, Karl dan dua guru PURI Indonesian Language Plus - Sigit dan Lilik, dan sopir mobil PURI Indonesian Language Plus - Marno dan saya - Mineke Bons berangkat jam 6.30 pagi ke Dieng. Jalan ke Dieng lewat Magelang dan Wonosobo. Dieng Plateau terletak di Jawa Tengah. Daerah yang bagus sekali. Dari dalam mobil saya melihat tanaman tembakau, kopi dan teh.
Saya berpikir tentang sejarah Belanda di sini: penjajahan Belanda. Saya mendengarkan orang Jerman bicara tentang penjajahan Belanda. Kadang-kadang saya harus berbicara juga karena saya orang Belanda. Saya mengerti mengapa kami - orang-orang Belanda - mau tinggal di kota seperti Magelang atau Semarang. Kota-kota itu tidak terlalu panas. Ketika saya di Belanda, saya membaca buku “Hieren van de Thee”. Buku ini tentang kota Magelang.
Di pinggir jalan ada banyak tanda dengan tulisan DIJUAL TANAH Rp….. HUBUNGI TELEPON 55663. Seandainya saya orang kaya, saya akan membeli tanah yang besar dan bagus dengan pemandangan ke gunung di sini. Kami istirahat kira-kira jam 9.30. Saya makan makanan Jawa Tengah, lontong. Lontong itu tidak pedas. Sesudah istirahat, kami terus ke Dieng. Cuacanya baik, tidak panas. Di Dieng kami membeli tiket dan pergi ke candi. Saya sedikit kecewa karena candi tidak besar. Candi Prambanan lebih besar daripada candi-candi di Dieng. Orang-orang di sini memberi nama candi-candi itu.
Pertama kami mengunjungi kompleks Candi Arjuna.

Keterangan:
- Candi Semar
- Candi Arjuna
- Batu, biasanya di atas Candi Arjuna
- Candi Srikandi
- Candi Puntadewa
- Candi Sembadra
Sigit juga bercerita tentang kompleks candi ini. Candi ini interpretasi dari candi Hindu. Candi Srikandi seperti Brahma. Candi Puntadewa seperti Shiwa. Candi Sembadra seperti Vishnu. Srikandi dan Sembadra adalah istri Arjuna. Candi itu tidak punya gambaran jelas seperti Prambanan. Sesudah kompleks Candi Arjuna, kami jalan kaki ke Candi Gatotkaca. Gatotkaca adalah anak Bima. Ada 5 bersaudara: Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Setelah itu, kami naik mobil ke Candi Bima. Candi Bima lebih besar daripada candi-candi di kompleks Arjuna dan Candi Gatotkaca. Sigit bilang bahwa ada 3 hal penting untuk candi. Candi harus punya air, peripih dan lingga-yoni. Lingga-yoni adalah simbol fertilitas atau kesuburan. Sesudah mengunjungi candi itu, kami naik mobil ke kawah Sikidang. Di sana berbau belerang, seperti telur busuk. Di sini menarik sekali. Air di sini panas. Saya membuat beberapa foto Wonderen der Natuur. Sigit bercerita bahwa di tempat ini juga dinamai sama dengan tempat yang penting di Mahabarata. Saya lupa cerita itu. Jadi, cerita itu tidak saya tulis di sini. Tetapi, di cerita itu ada yang terbakar. Saya tidak tahu apakah itu sesudah atau sebelum perang dengan Kurawa.
Kami naik mobil lagi dan pergi ke Telaga Pengilon. Kami mengelilingi telaga. Telaga artinya danau kecil. Jalan kaki mengelilingi telaga itu bagus. Kemarin dulu saya belajar dari Sigit struktur semakin …… semakin ……, misalnya semakin tinggi semakin dingin. Tetapi, kalimat itu salah. Pada prakteknya, semakin tinggi, semakin panas. Tetapi, tidak apa-apa. Pemandangannya bagus. Dan turunnya lucu sekali, sedikit berbahaya, tetapi semua bahagia. Kami merasa seperti Indiana Jones. Kami pergi ke Gua Semar tetapi gua tutup. Kami kembali ke mobil. Semua capai dan tertidur. Kami makan siang di Wonosobo. Dari Wonosobo ke Yogya saya tidak melihat banyak. Perjalanan pulang terasa panjang. Di rumah keluarga Soemitro, Bapak dan Ibu Soemitro gembira karena kami pulang sehat.
Dieng Plateau yang saya kunjungi bagus sekali. Saya senang bisa pergi ke Dieng Plateau dengan PURI dan teman-teman yang belajar di PURI Indonesian Language Plus. O,ya saya juga belajar kata-kata tentang Wonosobo. Wonosobo ASRI. A=aman, S=sehat, R=rapi, dan I=Indah.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa orang-orang menyukai Yogyakarta
|
1. Yogya menyediakan fasilitas yang ada sangat memadai untuk mengembangkan kemampuan dan minat saya dalam bidang IT.
|
|
2. Letak Yogya sangat ‘central’, mudah untuk bepergian ke tempat-tempat lain, apalagi fasilitas transportasinya untuk antarkota antarpropinsi sangat mendukung. Dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia Yogya lebih santai. Saya masih bisa bersepeda santai ke daerah-daerah yang alami dan hijau.
|
|
3. Suasana kota pelajarnya paling tepat untuk pendidikan anak-anak. Selain itu, tempat keluarga kami tinggal (sebuah desa di timur Yogya), merupakan lingkungan yang sangat bagus untuk perkembangan anak-anak kami .
|
|
4. Yogya suasananya asyik banget. Apa-apa murah (terutama makanannya), maklum, anak kost ;). Cuacanya nggak panas, nggak dingin, so, enjoy buat berkegiatan. Budaya aslli masih lumayan kental, tidak membosankan. Ada banyak tempat wisata yang berdekatan sehingga kita nggak perlu keluar kota.
|
|
5. Ada banyak antusiasme untuk mengadakan kegiatan kreatif, misalnya mahasiswa mengadakan pantomim di atrium kampus, pentas band, dll. Demonstrasi yang di tempat lain berkesan “ngeri” di Yogya malah nampak “akademis”.
|
|
6. Yogya kotanya nyaman dan bersih, meskipun sayangnya sekarang mulai padat dan berpolusi. Orangnya ramah-ramah!
|
|
7. Yogya sangat akomodatif bagi ketertarikan saya terhadap budaya Jawa. Sejak 1989 saya sering berkunjung ke Yogya sebagai tour leader yang mengantarkan rombongan wisatawan Jerman (3-4 kali setahun). Saya sering memperpanjang masa tinggal saya di Yogya karena ada banyak teman yang saya kenal dan masih terus kontak sampai sekarang. Di Yogya saya sudah belajar menari Jawa klasik, belajar main gamelan, dan kuliah selama satu semester di jurusan arkeologi dan sastra Jawa di UGM. Ketertarikan ini begitu melekat sehingga saya ikut membentuk grup gamelan di kota saya di Jerman.
|
|
8. Yogya memberikan tahapan berharga bagi perkembangan wawasan saya. Ketika kuliah dulu saya tertarik dengan mata kuliah cross-cultural understanding, yang membukakan mata saya terhadap nilai-nilai bangsa lain. Kemudian, pekerjaan saya di kursus bahasa Indonesia memberikan kesempatan kontak dengan banyak orang asing dan mengenali pandangan-pandangan mereka. Pengalaman-pengalaman ini benar-benar membantu saya untuk menghormati perbedaan pendapat, mengenali berbagai stereotip tanpa harus menghakimi orang berdasarkan stereotip, mengasah empati, dan … tetap jadi orang Indonesia.
|
|
9. Yogya punya suasana & warna yang berbeda dengan kota-kota lain. Gak terlalu metropolis, juga gak terlalu “kuno”. Pokoknya pas. Yogya gue bangettt…
|
|
10. Yogya suasana santai, apa-apa murah, juga banyak kegiatan-kegiatan anakmuda yang asik-asik
|
|
11. Tinggal di Yogya memang enak. Bayangin… aku bisa jadi turis setiap hari karena tinggal di sini nggak perlu nunggu musim liburan tetap bisa “berlibur” sendiri (atau sekeluarga) sesudah bekerja. Mau ke pameran seni? atawa ke festival budaya? Mampir ke Kraton atau Candi seputar Yogya? atau sekedar jalan-jalan santai di Malioboro sambil cuci mulut dan mata, semua bisaaa…
|
|
12. Bagiku Yogya adalah tempat yang paling tepat untuk mengembangkan diri, karena suasananya yang tidak ramai, bersahabat, dan menyenangkan
|
|
13. Wah… Yogya tuh sulit dilupakan, terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan alias terlalu indah untuk dikenang hehehe pokoknya cleguk !
|
|
14. Untukku kota Yogya adalah kota yang paling sip diantara kota-kota di jawa yang lain (ini karena aku lahir di kota ini). Mau cari apa aja ok, apalagi makan. Kapan nih teman – teman yang belum ke Yogya singgah kesini!!
|
|
15. Yogya adalah desa yang besar, buka kota kecil yang sibuk. Orang – orang masih bisa bicara dengan hati seperti umumnya orang desa.
|
|
16. Yogya adalah kota sip dan nyaman karena Yogya adalah kota pelajar dan banyak budaya jawa yang disukai kalangan kecil sampai kalangan besar, sampai dari mancanegara. Pokoknya Yogya Never Ending Asia.
|
|
17. Yogya banyak tempat untuk jalan-jalan, kota yang gak pernah tidur, dan orangnya ramah-ramah, smile melulu and n’geh melulu…
|
|
18. Di Yogya banyak mahasiswa, jadi dagangan laku terus, cepat kaya gitu lho… !! hehehe :))
|
|
19. di Yogya, aku paling suka jalan ke daerah malioboro, belanja batik atau barang – barang kerajinan di bringharjo atau sepanjang jalan malioboro, atau beli buku-buku murah di shooping. Oh ya, di sepanjang malioboro banyak tukang bikin tattoo temporary, aku suka tattoo disana, biasanya cuma tahan seminggu, lumayanlah jadi gaul, hehehe
|
|
20. Aku suka kegiatan alam, aku menemukan itu di sini. Di Yogya banyak klub-klub penjelajahan alam seperti MAPALA, di Yogya juga banyak tempat untuk shopping, atau sekedar jalan-jalan untuk cuci mata. Untuk para pencinta alam atau budaya, kamu harus ke Yogya…
|
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Salah satu puisi dari murid bernama Ruth Schafer.
Dari jauh orang kenali
Hello mister!
Mereka tidak bisa tahu
bahasa Inggris alat saja
bahasaku kucinta
Rindu akan kata teman
Tidak harus ramah
Kata yang bisa aku mengerti
dipakai Allah
penuh masa kanak
Aku tidak kehilangan roti saja
atau air minum
yang tidak harus dibeli
Orang perlu kesabaran
kalau berbicara kepadaku
Kata-kata tepat belum merajai jiwa
kata layak ? kata cocok ? kata pantas ?
mengira-ngira aku coba
Merasa capai jatuh miskin
tanpa nada konotasi nuansa
Dan tidak mau keindonesia-indonesiaan
Bukan orang Indonesia
Aku tetap orang asing, tetap aku
Hanya terpenjara
antara hati dan lidah
May 4th, 2008 | Tags: puisi | Category: Tulisan Murid | Leave a comment
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Menurut ajaran agama Islam, jilbab adalah kain penutup kepala dan rambut yang dipakai oleh wanita muslim. Muslimah yang taat (wanita muslim yang patuh dalam menjalankan peraturan agama) demikianlah biasanya label yang biasa diberikan kepada kaum perempuan yang memakai jilbab sebagai atribut dirinya dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
Di tahun 80-an, belum begitu banyak perempuan muslim Yogyakarta yang memakai jilbab. Sebagian besar yang memakainya hanya mereka yang belajar di pesantren atau sekolah khusus yang mengajarkan agama Islam atau mereka yang sudah lulus dari sana. Banyak faktor yang melatarbelakangi kurangnya keinginan para muslimah pada waktu itu untuk segera memakai jilbab karena sesungguhnya tidak mudah bagi mereka ketika harus memantapkan niat untuk berjilbab.
Selain karena kondisi lingkungan sosial yang kurang mendukung, pemahaman calon pemakai sendiri tentang jilbab juga mempengaruhi pengambilan keputusan itu, misalnya takut tidak bisa mempertahankan atau mendapat pekerjaan, tidak diijinkan oleh orang tua, tidak dapat segera memperoleh jodoh, kurang luwes dalam pergaulan atau masih banyak lagi alasan-alasan lainnya yang menghantui pikiran mereka. Larangan pemerintah bagi para siswi di sekolah umum untuk berjilbab juga menjadi salah satu factor penentu pengambilan keputusan tersebut.
Model dan gaya busana muslim ketika itu pun juga tidak banyak diminati oleh kaum perempuan, terutama para remaja putri. Pakaian itu terkesan monoton, tidak praktis, tidak fleksibel, tidak modis, kampungan dan kurang bisa menampilkan kepercayaan diri pemakainya, itulah kira-kira kesan sosial yang mereka khawatirkan. Busana muslim pada masa itu modelnya tidak jauh beda dengan busana orang Melayu. Rok panjang berbahan tebal sampai menutupi mata kaki, baju kurung berlengan panjang, dan jilbab dari kain polos tebal yang menutup seluruh rambut hingga sebatas dada.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, fenomena jilbab sudah berkembang diluar dari perkiraan. Pada periode tahun 1990-2000 sudah semakin banyak perempuan Yogyakarta yang berani memutuskan untuk segera berjilbab. Keputusan ini diambil justru untuk menunjukkan identitas dirinya, yaitu sebagai kaum muslimah yang punya hak dan kebebasan memilih. Mereka sudah tidak takut lagi dilarang oleh orang tuanya, bahkan kini banyak orang tua yang mendukung keinginan anak- anaknya untuk berjilbab atau menyekolahkan mereka di sekolah Islam.
Para pemakai jilbab tidak takut lagi kalau harus keluar atau tidak mendapat pekerjaan. Mereka percaya bahwa rezeki datang dari Tuhan sehingga mereka tidak perlu takut untuk bersaing dengan perempuan-perempuan lain yang tidak berjilbab. Takut punya pergaulan yang terbatas pun juga bukan alasan yang tepat lagi untuk menunda berjilbab, belakangan perempuan berjilbab sudah lebih leluasa untuk aktif di berbagai bidang, misalnya bidang pendidikan, kesehatan, hukum, politik, sosial, budaya, seni dan lainnya. Justru dengan berjilbab mereka ingin menunjukkan bahwa sebagai perempuan, mereka berhak mendapat kesempatan yang sama dalam berkarya dan beraktivitas.
Rupanya perkembangan di dunia busana pun tidak mau ketinggalan. Dewasa ini beragam gaya dan model busana muslim semakin berkibar. Toko-toko khusus busana muslim semakin mudah dijumpai. Keadaan ini semakin memanjakan para muslimah untuk tampil lebih modis, cantik dan modern. Yang tak kalah menariknya adalah model jilbab zaman sekarang. Warna, corak, bahan dan motifnya sudah sangat bervariasi. Ada yang bermotif batik, bunga-bunga maupun kotak-kotak. Selain itu juga ada jilbab instant, yang bisa langsung dipakai, ada jilbab Marshanda, jilbab Cece Kirani, Inneke Koesherawati dan masih banyak lagi nama jilbab yang diambil dari nama-nama artis Indonesia yang pertama kali mempopulerkan model-model jilbab tersebut.
Ada rekan dari Perancis yang sangat terkejut melihat fenomena perempuan berjilbab di Yogyakarta. Dia tidak pernah membayangkan bahwa gaya busana muslimah berjilbab di sini jauh berbeda dengan yang pernah dilihatnya di Arab Saudi, Turki, Maroko atau negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Gaya pakaian wanita muslim di sana lebih konvensional, monoton dan menutup hampir seluruh bagian tubuh kecuali mata, sementara kaum muslimah Indonesia bisa tampil lebih modis dalam berbagai corak jilbab dan busana muslim.
Sesungguhnya fenomena ini tidak hanya terjadi di Yogyakarta saja. Hampir di seluruh Indonesia nampak gejala yang sama. Namun demikian masih cukup banyak muslimah yang tetap mempertahankan gaya dan model bajunya seperti pada era tahun 80-an. Terlepas dari itu semua, yang penting juga untuk diperhatikan, adalah kita tidak bisa menilai kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang hanya dari model dan gaya busananya saja. Selain itu ada satu hal penting yang perlu dijadikan pegangan bersama oleh kaum wanita, baik yang berkebaya, berjilbab ataupun yang tidak, bahwa mereka punya hak hidup yang sama satu dengan lainnya.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Itu adalah bunyi dalam salah satu tayangan iklan di televisi. Ungkapan itu juga akan dilontarkan oleh orang-orang di sekitar kita dengan maksud menyindir siapa saja yang sampai hari gini belum punya HP.
Coba tengok ke belakang, kita telusuri kembali awal mula keberadaan HP. Waktu itu orang yang akan berkomunikasi jarak jauh secara langsung hanya bisa melalui telepon rumah atau wartel (warung telekomunikasi). Ketika orang yang kita tuju tidak ada di rumah, berarti kita harus meninggalkan pesan atau harus menelepon lagi. Itu berarti informasi yang akan kita sampaikan tidak segera tersampaikan. Belum lagi kalau orang yang kita titipi pesan lupa menyampaikannya. Padahal informasi itu mungkin sangat penting. Dari situasi ini kita bisa melihat bahwa orang membutuhkan sarana komunikasi yang cepat dan tepat. Artinya, dengan sarana komunikasi yang memadai kita bisa menyampaikan informasi secara cepat dan diterima oleh orang yang tepat.
Dari adanya kebutuhan itu diciptakanlah hand phone atau telepon genggam yang biasa disingkat HP. Dengan HP informasi atau pesan yang akan disampaikan dapat segera dikirim dan diterima oleh orang yang dituju. Pada awalnya HP hanya dimiliki oleh orang-orang yang berduit saja karena harganya masih selangit. Tapi lama kelamaan dengan berkembangnya teknologi, HP pun mengalami perkembangan. Dari yang sekedar untuk menelepon saja akhirnya bisa juga untuk bersms atau bahkan berinternet. Dan harganya pun semakin lama semakin terjangkau. Dengan demikian tidak hanya orang-orang dari golongan mampu saja yang bisa memiliki HP, orang-orang dari golongan menengah ke bawah pun dengan mudah bisa memilikinya.
Dengan memiliki HP orang serasa semakin mudah dan cepat dalam melakukan apa saja. Ambil contoh ketika kita akan melakukan transaksi perbankan, kita tidak harus pergi ke bank tapi cukup melakukan transaksi lewat HP, hanya dengan memasukkan PIN dan nomor rekening tertentu yang dituju. Bahkan bagi para mahasiswa yang ingin mengetahui nilai ujiannya pun tidak perlu repot-repot mendatangi kampus tapi cukup mengirimkan SMS ke nomor tertentu dan jawabannya pun sudah bisa didapatkan dalam hitungan detik.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kemajuan tersebut bisa dirasakan bukan hanya oleh golongan tertentu saja tetapi juga memberikan dampak atau pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Kalau dulu sebelum ada HP, orang harus meluangkan waktu khusus untuk saling berkunjung guna mengucapkan selamat ulang tahun atau memberi ucapan selamat pada hari raya keagamaan, sekarang orang cukup mengucapkannya lewat SMS atau mengirim MMS. Kalau dulu orang-orang di desa biasa mendengarkan siaran radio secara bersama-sama dengan tetangganya, sekarang mereka bisa menikmatinya sendiri di rumah karena ada fasilitas radio di HP mereka.
Kondisi ini tak lepas dari apa yang oleh Castells 1989, Sassen 1991, Portes & Stepick 1993 yang dikutip oleh Gereffi dalam The Handbook of Economic Sociology yang berjudul The International Economy & Economy Development disebut sebagai revolusi teknologi informasi. Di sana dikatakan Revolusi di dalam teknologi informasi sangat mendasari reorganisasi ekonomi dan sosial yang terjadi di kota-kota besar, negara-negara dan blok-blok regional di dalam ekonomi global. Dengan adanya revolusi teknologi informasi hampir semua dapat diraih dalam “genggaman tangan”. Situasi ini sungguh memudahkan hidup orang. Oleh karena itu orang yang tidak punya atau belum punya HP di jaman sekarang ini dianggap “gap – tek” alias gagap teknologi atau ketinggalan jaman. Kalau kita perhatikan misalnya, di jalan-jalan, di rumah makan, di stasiun atau di mana saja hampir semua orang punya HP dan mereka pun sibuk dengan HP mereka, entah sedang menelepon, ber-sms atau memainkan game. Orang-orang yang memiliki HP tidak hanya terbatas pada kalangan orang tua atau anak muda, anak-anak sekolah dasar pun ikut memiliki HP. Tentu saja hal ini tak lepas dari orang tua yang tidak mau anaknya disebut “gap – tek” dan ketinggalan jaman atau memang orang tua mau memantau keberadaan anaknya melalui HP. Situasi seperti ini mengakibatkan pengeluaran para orang tua bertambah, sebab harus membelikan pulsa HP anak-anaknya.
Kalau dulu, kira-kira 15 tahun yang lalu, kebutuhan para pelajar atau mahasiswa hanya untuk membayar uang sekolah atau SPP, makan, transportasi serta kos, sekarang orang tua juga harus memberi uang ekstra untuk membeli pulsa.
Oleh karena dianggap sudah merupakan sebuah gaya hidup, mau tidak mau orang yang belum punya HP akan dikategorikan sebagai orang yang tidak bisa mengikuti jaman. Sebetulnya hal ini cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak ? Fungsi HP yang sebenarnya alat komunikasi biasa lama kelamaan beralih fungsi menjadi sebuah “alat” simbolis dari kemajuan atau gaya hidup modern yang harus dimiliki orang di jaman sekarang.
Akhirnya HP tidak hanya dimiliki oleh orang yang berduit saja. Tukang becak, tukang bangunan bahkan para pengangguran pun tidak ketinggalan memiliki HP. Kalau kita biasa memanggil taksi melalui telepon, Kini, para tukang becak pun tak ketinggalan menerima panggilan melalui HP. Dengan demikian para tukang becak itu tidak harus mangkal di jalan-jalan menunggu penumpang, tapi mereka bisa melakukan pekerjaan yang lain, misalnya membuka warung di rumah atau menjadi buruh membersihkan rumah, seperti yang dilakukan oleh Pak Paijan, tukang becak yang dulunya sering mangkal di daerah Sapen Jogja. Menurutnya, waktu dia tidak terbuang sia-sia hanya untuk menunggu penumpang yang tak tentu kapan datangnya.
Situasi ini tentu saja merupakan peluang bisnis yang sangat menguntungkan bagi para pedagang HP. Situasi ini juga yang mendorong orang untuk membuka konter atau toko HP karena konsumennya tidak sebatas pada kalangan orang yang berduit tebal saja. Para pedagang ini kelihatannya siap untuk saling bersaing. Hal ini terbukti dengan menjamurnya toko-toko dan konter HP yang letaknya berderet-deret dan saling berdekatan. Kita bisa melihatnya di sepanjang Jalan Gejayan, yang merupakan salah satu jalan utama di Jogjakarta.
Tak hanya itu, di Jogja pun banyak didirikan pusat perdagangan HP antara lain di Gedung Hartono bekas gedung BDNI di Jalan Sudirman, Borobudur Plaza di Jalan Magelang dan di Toko Ramai lantai IV di Jalan Malioboro. Para pedagang di tempat-tempat ini menawarkan HP dengan berbagai merek dan harga. Bahkan Toko Buku “Tiga Serangkai” yang berlokasi di pojok barat perempatan ring road jalan Gejayan pun mengalihfungsikan salah satu lantainya menjadi sentra HP.
Demikian juga halnya dengan para pedagang pulsa. Mereka menjadi kepanjangan tangan para provider yang berusaha menjangkau kalangan menengah ke bawah dengan menyediakan harga pulsa yang murah dan masih ditambah berbagai bonus. Mereka berjualan pulsa mulai dari kaki lima di pinggir jalan dengan hanya memakai lemari kaca kecil yang dinaungi payung sampai menyewa konter- konter berkelas yang ber-AC.
Pusat perdagangan HP bekas juga marak terlihat di sepanjang Jalan Mangkubumi Jogja. Situasi malam hari di sepanjang jalan ini berubah menjadi semacam pasar malam. Orang yang tidak berkantong tebal bisa mencari HP dengan model dan fasilitas yang bermacam-macam di tempat ini. Tak hanya itu para konsumen juga dibuat tergiur oleh berbagai macam aksesoris yang bisa mempercantik penampilan HP. Warna dan desain aksesoris HP yang menawan selalu berganti dari waktu ke waktu. Para konsumen dibuat ketagihan untuk selalu bisa mengikuti tren atau model aksesoris yang terbaru. Selain itu para konsumen juga ditawari berbagai fasilitas yang membuat pemakainya merasa semakin “nyaman” ber-HP.
Sekarang keadaan demikianlah yang banyak kita lihat di sepanjang jalan-jalan kota Jogjakarta. Orang-orang terlihat lebih banyak mendatangi konter-konter HP daripada mengunjungi toko buku. Kebanyakan kios dan ruko ataupun rumah toko yang disewakan habis disewa untuk berdagang HP. Para pedagang HP bisa dijumpai mulai dari sepanjang jalan-jalan utama sampai jalan-jalan kecil di pinggir kota. Bahkan di dalam lingkungan perumahan pun kita bisa menjumpai pedagang HP maupun pulsa.
Akhirnya para pelajar dan mahasiswa lebih mementingkan membeli pulsa daripada membayar SPP atau foto kopi diktat kuliah. Sebagaimana disampaikan Intan (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi semester akhir sebuah universitas swasta di Jogjakarta yang mengaku lebih mendahulukan membeli pulsa daripada membayar foto kopi diktat kuliah dari dosennya. Pilihan ini diambilnya supaya tidak diejek teman-temannya karena kehabisan pulsa. Toh, untuk urusan diktat kuliah dia bisa meminjamnya dari teman atau kakak kelas. Tapi kalau pilihannya di antara harus beli pulsa atau membayar uang semesteran, tentu saja dia pilih membayar uang kuliahnya karena tidak mau dimarahi oleh orang tuanya.
Apakah situasi ini membuat sebutan Jogja sebagai kota pelajar pantas diganti dengan sebutan Jogja sebagai kota HP yang bersemboyan ”Hari gini nggak punya handphone?!?” “Enggak lah yauw!!”
May 4th, 2008 | Category: Aneka Ragam | Leave a comment
Page 5 of 7« First...«34567»