Alam Bahasa Indonesia

Bulletin tentang budaya, alam, seni dan kehidupan Indonesia

Alam Bahasa Indonesia RSS Feed
 
 
 
 

PAYAU

Yosefin Redguntari

PAYAU……. Yok, menambah pengetahuan tentang salah satu satwa di Kalimantan!

payau

Kata payau tentu tidak terlalu asing bagi telinga kita. Akan tetapi, payau yang ini bukan payau yang kita kenal sebagai campuran air sungai dan laut di pantai Bukan pula hutan yang ada di pantai. payau yang ini adalah sebutan orang Kalimantan untuk rusa. Mungkin karena mengeluarkan suara piu¡­piu¡­piu, maka dinamailah payau. Sepintas suaranya hampir mirip suara orang lho. Binatang ini hidup di Hutan Kalimantan, yang dewasa tingginya kira-kira 1 meter, beratnya bisa mencapai 60 kiloan, dan badannya berbulu coklat. Harga sekilo daging payau pada tahun 1993 sekitar empat ribu rupiah, sekarang bisa mencapai lima belas ribu rupiah. Lumayan kan kalau sekali berburu dapat 10 sampai 15 payau. Taruhlah dapat 10 payau berarti ada 9 juta di tangan. Eit¡­.tunggu dulu, itu masih dibagi lagi lho, karena biasanya pemburuan dilakukan berkelompok antara 3 sampai 5 orang. Waktu berburunya pun bisa sampai seminggu. Begitu dapat payau, pada hari itu juga langsung mereka bawa ke pasar terdekat. Lalu mereka kembali lagi ke hutan. Kalau sudah dapat 10-15 ekor barulah mereka pulang.

Pengen tahu gimana rasanya berburu payau di Hutan Batu Apar, Bengalon, Kabupaten Kutai Timur? Berikut ini adalah pengalaman Slamet seorang perantau kelahiran Rembang, Jawa Tengah, yang dituturkan kepada penulis.

Sebetulnya berburu payau bukanlah cita-citanya. Akan tetapi, sudah lama dia menggangur lantaran tidak punya pekerjaan. Akhirnya, tawaran beberapa pemuda Kutai untuk bercocok tanam di hutan pun diterimanya. Meskipun ada rasa heran dengan istilah “bercocok tanam” tetapi keheranannya dia simpan saja di dalam hati.

Dengan membawa perbekalan seperti beras, mie, dan ikan asin juga peralatan memasak seperti ketel dan ceret berangkatlah mereka ke Batu Ampar. Biasanya mereka pergi ketika musim tumbuhan bersemi karena payau-payau suka makan daun muda. Hutan Batu Ampar pada tahun 90-an masih perawan, pohon-pohonnya lebat dan tinggi. Di dalamnya bisa kita temukan danau dengan air yang sangat bening dan bersih. Begitu sampai di pondok mereka disambut gonggongan beberapa anjing. Itu bukan suatu gonggongan yang menakutkan tetapi ucapan selamat datang bagi tuannya. Mereka bisa membedakan antara tuannya atau bukan. Jadi, jangan coba-coba untuk mencuri anjing-anjing tersebut. Bisa-bisa kita terkena gigitan mautnya. Anjing itu bukan anjing biasa tetapi anjing kampung yang sudah terlatih keahlian berburunya. Harga satu anjing yang bisa diandalkan sekitar 700 ribu rupiah.

Sesudah beristirahat sebentar, segera saja mereka berangkat ke hutan dengan membawa tombak yang batangnya terbuat dari kayu ulin. Kayu khas Kalimantan yang sangat terkenal kuat dan tahan air. Oh, ternyata Slamet diajak berburu payau bukannya bercocok tanam beneran. Begitu mendengar suara piu¡­.piu¡­.piu si anjing-anjing itu langsung lari secepat kilat meninggalkan tuan-tuannya. Pemburu itu langsung menyebar ke segala arah untuk mencari anjing mereka. Biasanya anjing-anjing itu ditemukan di sekitar danau, di tempat itu pula biasanya payau yang kelelahan berada. Selain lelah kaki payau pun biasanya luka digigit anjing. payau itu langsung ditombak di bagian jantungnya. Supaya tepat sasaran, tombak diarahkan di bawah leher dan di antara kaki depan. Karena itu, kalau pemburu terlalu lama menemukan mereka, bisa saja payau yang sudah sehat kembali akan melihat kesempatan ini untuk melarikan diri secepatnya. Anjing-anjing itu sudah tidak punya tenaga lagi, jadi begitu lihat air langsung deh mereka minum sepuasnya. payau yang berhasil ditangkap mereka kuliti di hutan lalu mereka pikul untuk dipotongi dan dijual di pasar Bengalon.

Sayangnya si anjing tidak kebagian jatah hasil buruhannya. Bukannya pelit sih, tapi si anjing memang dilarang makan daging payau. Kalau sudah pernah makan, bakalan tidak mau diajak berburu payau lagi. Jadi, si anjing dikondisikan untuk penasaran terus. Sebagai gantinya si anjing dapat daging landak atau babi.

Pertama kali Slamet mendapat payau tidak dengan cara berburu tetapi dengan menjerat. Hasil jeratannya pun hanya seekor anak payau yang kecil. Jeritannya piu¡­piu¡­piu¡­. yang sangat lemah itu membikin Slamet kasihan dan ingin melepaskan saja si payau kecil itu. Begitu ingat tujuaannya mencari uang niat itu diurungkan lagi dan dia tombak juga payau itu.

Kalau mau memasang jeratan pun harus penuh strategi karena payau sangat tajam penciumannya. Sesudah memasang jeratan, pemburu harus jalan mundur dan tanah yang akan dipijak dialasi daun supaya bau manusia tidak tertinggal di lokasi penjeratan. Binatang yang terjerat akan tergantung di pohon. Karena itu, harus pilih pohon yang kuat, eh siapa tahu dapat payau besar. Tali yang biasanya mereka gunakan adalah nilon.

Pernah suatu saat mereka diserbu dua ekor banteng besar yang marah karena anaknya berhasil dibunuh Slamet. Karuan saja mereka lari terbirit-birit dan memanjat pohon yang terdekat. Banteng itu menyodok-nyodokkan tanduknya dengan kuat ke pohon yang mereka panjat. Untung saja pohon itu cukup besar dan kuat. Setelah setengah hari nangkring di pohon dengan ketakutan, mereka baru ingat petuah tetua Kutai. Mereka langsung mengetuk-ngetuk batang pohon pakai mandau (parang Kalimantan) dengan irama yang tetap tok¡­tok¡­.tok. Eh bener saja, banteng-banteng itu lalu gloyor masuk hutan, kemarahan segera saja lenyap entah ke mana. Akhirnya mereka bisa bernafas lega dan turun dari pohon.

Kadang mereka bertemu dengan orang hutan (bukan orangutan lho) yang masih bajunya dari kayu hutan. Langsung saja mereka petik ranting dan menanam kembali ke tanah. Itu sebagai sandi bahwa mereka tidak saling ganggu. Tempat beburunya pun bisa berpindah-pindah. Mereka bisa tidur di atas karung yang digantung 1 meter di atas tanah. Mau tahu caranya buat tempat tidur darurat ? Lubangi kedua ujung karung lalu masukkan tongkat di kiri dan kanannya. Sesudah itu, ikat keempat ujung tongkat dengan kayu yang sudah ditancapkan ke tanah. Cara masaknya pun mirip kalau kita sedang berkemah dengan menggantungkan ketel atau ceret di kayu.

Rasa daging payau mirip daging domba atau kambing. Bagi kaum laki-laki, ada mitos bahwa janin payau bisa dipakai sebagai obat kuat laki-laki. Janin mentah itu dicampur dengan bir lalu diteguk begitu saja.

Nah, kalau Anda suka berpetualang dan menikmati ketegangan yang mengasyikkan, silakan coba bergabung dengan pemuda Kutai yang sampai sekarang masih menekuni kegiatan berburu di hutan bersama anjing-anjing pintar. (Guntari)

Tukar Isteri dan Salam

Alam Bahasa Indonesia

TUKAR ISTERI DAN SALAM…… Ternyata, kirim salam di Papua bukan hal sederhana. Namun, tukar isteri bukanlah hal yang tidak mungkin.

MAU IKUT “TUKAR ISTERI?”

Judul di atas tampaknya terlalu vulgar atau negatif untuk masyarakat Indonesia pada umumnya, tetapi tidak demikian untuk masyarakat suku Asmat di Papua. Berikut ini ada sedikit informasi dari penulis yang tinggal di Papua selama hampir 20 tahun tentang budaya Asmat itu. Di samping itu, ada juga dua hal budaya yang cukup menarik untuk diketahui, yaitu bahwa babi lebih bernilai daripada wanita di suku Dani, dan bahwa salam identik dengan cinta atau suka.

Upacara ritual “tukar isteri” ini bernama papijs. Ritual papijs bisa dilakukan secara pribadi atau massal. Ritual papijs dilakukan oleh minimal dua keluarga. Ritual ini bertujuan mendekatkan hubungan persahabatan antara kedua keluarga itu. Caranya cukup sederhana. Pertama, kedua suami dari kedua keluarga berdiskusi tentang rencana ritual papijs. Sesudah itu, keduanya menyampaikan hal ini kepada isteri masing-masing. Bagaimana kalau sang isteri menolak papijs? Sang suami bisa sangat marah, bahkan melakukan tindakan kekerasan kepada isterinya itu.

Sesudah istri-isteri mereka setuju, hari berikutnya mereka bertemu, minum -minum sambil makan-makan sampai malam. Di malam itu kedua suami itu melakukan hubungan seks dengan isteri sahabatnya. Paginya, para suami itu memberikan “hadiah” baju kepada partner papijsnya malam itu. Lalu, para isteri menyediakan makan pagi sebagai simbol terima kasih atas hadiah itu. Sesudah itu, para isteripun kembali kepada suami asli masing-masing.

Dilihat dari sudut pandang agama, aktivitas ini mungkin sangat dilarang! Tetapi, secara hukum adat di daerah tertentu, hal ini sah-sah saja. Dan, mungkin inilah yang membuat Papua menjadi daerah dengan angka HIV/AIDS terbesar di Indonesia.

BABI LEBIH BERNILAI DARI WANITA ?

Di suku Dani, pegunungan Jayawijaya, babi lebih bernilai daripada seorang seorang isteri atau wanita. Bagi suku ini, babi adalah binatang yang sakral. babi lebih sakral daripada binatang-binatang yang lainnya, bahkan lebih sakral daripada wanita. Informasi ini didapatkan oleh penulis ketika berlibur di Pegunungan Jayawijaya pada tahun 1988. Dengan naik helikopter, penulis dan beberapa teman tiba di satu desa. Kami mengunjungi seorang kepala adat di desa itu. Di perjalanan ada pemandangan yang menurut kami cukup aneh. Seorang ibu sedang menggendong seekor anak babi sambil menyusuinya, sedangkan anak perempuannya (kira-kira 3 tahun) dibiarkannya berlari-lari di dekatnya. Kami tidak berbincang-bincang dengannya karena memang tidak mengerti bahasa mereka. Ada kejadian lain yang cukup unik juga; seekor babi diperbolehkan tidur di dalam ‘honay’ sedangkan seorang wanita atau isteri tidak diperbolehkan. Seekor babi juga diperbolehkan mandi di tempat khusus pemandian sedangkan tempat ini tidak lazim untuk kaum isteri atau wanita. Kejadian-kejadian ini membuat penulis berkesimpulan bahwa nilai seekor babi lebih tinggi daripada seorang isteri atau wanita.

HATI-HATI DENGAN “SALAM”!

Ketika di SMA, saya mendapat salam dari seorang teman laki-laki. ” Ita, ada salam dari Jemmy” kata seorang teman lain. Rasanya jantung ini langsung berdebar-debar dan badan berkeringat dingin. Sungguh bahagia mendapat salam dari dia karena saya kebetulan juga menyukai dia. Mengapa saya begitu berbahagia hanya karena mendapat salam dari teman laki-laki saya itu? Karena, di daerah Papua, salam tidak bisa sembarangan diberikan kepada semua orang. Kalau kita memberikan salam kepada seseorang, itu berarti kita cinta atau suka kepada orang itu.

Hal ini mungkin berbeda dengan di Jawa, orang bisa sembarangan berkirim salam kepada siapa saja karena salam tidak punya arti cinta atau suka. Salam hanya untuk persahabatan. Pada tahun 1988, saya pindah ke Yogya. Suatu hari saya mendapat salam dari teman sekampus. Jantung saya langsung berdebar-debar dan saya tidak bisa tidur. Saya berpikir bahwa dia cinta kepada saya. Ketika saya bertemu dengan dia, saya merasa aneh. Saya melihat dia biasa-biasa saja terhadap saya. Dari kejadian tersebut saya sadar bahwa saat itu saya tinggal di Yogya. Yogya bukan Papua. Kalau saya ingat kejadian itu, geli rasanya.

Becak oh! Becak

Alam Bahasa Indonesia

BECAK..OH BECAK… Anda pernah naik becak dan merasa terkesan, atau sebaliknya, kesal? Ada baiknya Anda menyimak artikel ini untuk lebih menyelami cara pandang penumpang dan tukang becak.

becak

Becak sebagai sarana transportasi yang berbau unik sering menjadi pilihan bagi turis asing alias wisman bila mereka berkunjung ke Yogya. Selain murah, becak yang bertenaga manusia ditanggung bebas polusi. Mata penumpang serasa dimanjakan, bebas memandang kehidupan Yogya yang berhati nyaman ( Moto Yogya : bersih, sehat, indah dan nyaman ). Tukang becaknya pun ramah-ramah siap membantu penumpangnya. Bahkan, ada turis asing yang berteman dekat dengan tukang becak. Kalau ke Yogya si turis akan mencari tukang becak langganannya. Kalau beruntung, si tukang becak bisa menjadi turis di mancanegara atas kebaikan si “bule” jalan-jalan ke negara asal si bule. Namun, sering juga ada turis yang enggan naik becak karena mereka merasa memperkuda tukang becak.

Bagi si tukang becak, bule dipandang sebagai sumber penghasilan. Lima ribu atau sepuluh rupiah tidaklah seberapa bagi turis asing namun sangat berarti bagi si tukang becak. Dengan uang segitu banyak mereka bisa membeli nasi sayur plus ayam goreng. Bisa juga untuk makan nasi dan ikan asin bersama anak istrinya, atau untuk membeli obat dan pisang satu atau dua buah untuk ibunya yang sedang tergolek sakit. Syukur-syukur, bisa untuk membiayai anaknya sekolah.

Karena itu, ketika ada turis yang mau naik becaknya langsung saja disabetnya, tidak peduli saat panas terik ataupun hujan petir. Meskipun tempat yang dituju penumpangnya terasa asing di telinga mereka, bahkan belum pernah mereka dengar, itu bukan masalah. Apalagi tukang becak di Yogya seabreg. Kalau mereka tidak gesit, wah bakalan perut kosong seharian. Bisa-bisa dimarahin istrinya karena pulang tanpa rupiah di tangan. Akibatnya, banyak tukang becak yang cepat-cepat “mengiyakan” atau menyetujui tawaran si calon penumpang sekalipun jalan yang menjadi tujuan belum jelas untuknya.

Laura, seorang sukarelawan asing, adalah salah seorang yang pernah mengalami hal tersebut di atas. Sesudah puas berjalan-jalan di Malioboro, Laura ingin pulang naik becak ke kostnya di Demangan Baru. Di seberang Malioboro Mall dia dipanggil , “Mari-mari, Mister-mister” oleh tukang becak dan ditawari untuk naik becaknya. Sesudah Laura menjelaskan tujuannya, mereka tawar-menawar, disepakati ongkosnya Rp 10.000,00. Aneh bin ajaib, belum 10 menit becak berjalan dan baru sampai di perempatan Hotel Melia Purosani (tepat di belakang Jalan Malioboro) , si tukang becak turun dan bertanya kepada orang-orang di pinggir jalan, ” Mas, Mbak, Pak, tahu Demangan Baru? ” Oo¡­ Laura baru menyadari bahwa si tukang becak belum tahu letak Demangan Baru.

Segera saja tanda tanya besar memenuhi kepala Laura dan kejengkelan berhembus kuat di dadanya. Bagaimana mungkin ngantar orang tanpa tahu tempatnya? Kok bisa mereka menentukan ongkosnya padahal mereka belum tahu jaraknya? Emangnya sulapan ala David Copperfield. Kok enggak malu ketahuan penumpangnya, bahwa dia tidak tahu arah tujuan.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Itu kata pepatah. Artinya, ada perbedaan antara orang tukang becak dan penumpangnya dalam melihat satu persoalan. Tidak tahu dengan pasti tempat tujuan turis itu bukan hal yang memalukan untuk tukang becak. Toh, di tengah jalan dia bisa dengan mudah bertanya kepada orang lain dan menemukan jawabannya. Yang penting, si turis sampai di tujuan dengan selamat. Akan tetapi, bagi turis asing hal itu sangat tidak profesional dan tidak rasional. Dalam pikiran turis, ketika si tukang becak bilang, ” Ya , mari, mari, ¡­ ” itu artinya mereka sudah pasti tahu tempatnya.

Yang dilakukan si tukang becak tersebut hanyalah usaha untuk mempertahankan hidup. Di zaman susah seperti sekarang ini, usaha apa pun akan dilakukan oleh orang Indonesia. Lebih-lebih untuk masyarakat kebanyakan yang mencari makan untuk hari ini dan terpaksa menghabiskannya pada hari ini juga. Besok tidak ada uang itu masalah besok. Yang penting, hari ini perut kenyang, hati i pun senang.

Semoga dengan tulisan ini keheranan dan kejengkelan turis asing sedikit terhapus. Meskipun demikian, bukan berarti si tukang becak boleh buta peta Yogya, lebih-lebih setelah banyak turis asing yang memilih Yogya ketimbang Bali karena takut terkena bom. Tukang becak harus sigap menghadapi perubahan situasi kalau tidak mau ketinggalan kereta. Kebiasaan suka cari yang gampang atau main terobos yang melekat pada mentalitas tukang becak memang sedikit sulit untuk segera dihapuskan karena sudah membudaya di masyarakat kita. Mungkin Dinas Pariwisata Yogya berminat membagikan peta Yogya dengan gratis kepada mereka atau mungkin ini sudah dilakukan? Jika demikian, Yogya pun akan nyaman bagi turis maupun orang asing yang menetap di sini.

Hawai Coco Ice

Alam Bahasa Indonesia

Hawai Coco Ice… the artificial coconut that you cannot tell what is artificial about it!

es kelapa

Ingredients:

  • 1 pack seaweed or gelatine
  • 500 cc coconut milk
  • 1 ltr coconut water or water
  • 1 tsp salt
  • 2 oz palm sugar
  • vanilla, as needed
  • ice cube, as needed

How to Make ‘Young Yoconut’:

  • Put seaweed in 500 cc of already-salted coconut milk. Boil it, and then remove the saucepan from the heat.
  • Pour it one spoon by one spoon over an ice cube. This will make the seaweed change its shape into a young coconut-like shape.

How to Make Syrup:

  • Heat up palm sugar until it dissolves and becomes syrup and add vanilla as needed.

How to Serve:

  • To serve, put about 5 tbsp of ‘ young coconut’ (made of seaweed) in a glass of coconut milk / water and then mix it with the syrup.

     

Nasi goreng Bali

Alam Bahasa Indonesia

nasi goreng bali

Nasi Goreng Bali… pilihan tepat untuk bersantap bersama teman-teman sambil berbagi cerita tentang liburan menyenangkan Anda di Bali!

Ingredients:

  • 2 plates rice
  • 1 oz chickens
  • 1 oz shrimps
  • 3 eggs
  • 6 slices cucumber
  • 4 slices tomatoes
  • 1 tbsp margarine
  • coconut oil (oil for deep-frying)

Spices:

  • 2 red cayenne chili
  • 7 cloves onion
  • 4 cloves garlic
  • 1 small piece of turmeric
  • 1 small piece of grated gallangal
  • 1 x 2 cm terasi (shrimp paste)
  • 1 tomato
  • salt, as needed
  • MSG, as needed

How to Prepare:

  1. Crush all the spices
  2. Fry 2 eggs.
  3. Stir fry the remaining egg.
  4. Saute the spices in the frying pan in the hot coconut oil for a few minutes.
  5. Put the chicken pieces and shrimp, then cook until done.
  6. Put rice and stir-fried egg, add MSG, then stir until well mixed over low heat. Remove the pan from the heat.

How to Serve:

  • Serve on an oval platter.
  • Put the fried egg on the rice.
  • Garnish the platter with sliced cucumber and tomato.

     

1965

Alam Bahasa Indonesia

Inspirasi untuk menulis sesuatu datang tiba-tiba. Untuk menulis ini, inspirasiku datang waktu bertemu dengan seorang laki-laki yang kecil dan kurus. Dengannya saya berbicara mengenai banyak hal, politik dan budaya Indonesia.

Orang ini sekarang orang yang terhormat. Dikenal banyak orang dan disukai banyak orang. Tetapi tidak selalu begitu. Mengapa? Karena orang ini seorang anak tapol. Riwayat hidup orang yang kurus dan banyak tertawa ini menarik sekali. Karena anak tapol, hidupnya kadang-kadang susah sekali. Tetapi dia menjadi orang kuat dan terhormat walaupun keluarga seperti keluarganya sendiri dikambinghitamkan bertahun-tahun. Menurut lelaki ini, itu justru terjadi karena dia anak tapol. Selalu dipojokkan jadi semangatnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan lebih dihargai orang lain, lebih kuat.

Tahun 1965 tahun penting dalam sejarah Indonesia. Selain sejarah juga penting untuk keluarga Indonesia, bahkan keluarga di luar negeri. Tahun ini banyak orang dibunuh, tertangkap, dibuang ke pulau yang jauh dari pulau Jawa. Yang barangkali paling menyedihkan adalah banyak keluarga kehilangan ibu, ayah, anak, saudara. Sebenarnya banyak keluarga dihancurkan pada tahun-tahun gelap itu. Orang (eks) tapol menjadi orang dengan status khusus. Di era Suharto tidak boleh memilih waktu pemilu. Tidak boleh bekerja di semua perusahaan. Bukunya terlarang, didiskriminasi. Itu juga terjadi dengan keluarganya, walaupun ada yang belum lahir pada tahun 1965 itu. Untuk bisa bertahan hidup, orang (eks) tapol dan juga anaknya harus kuat. Tetap berjuang untuk tidak dipojokkan lagi. Selain kuat, dengan cara itu mereka juga melawan apa yang terjadi padanya atau keluarganya. Dengan itu, mereka juga melawan kejahatan. Orangnya lebih kuat, sampai bisa keluar dari posisi yang menyedihkan itu. Dan itu berarti bahwa politik yang mengkambinghitamkan itu tidak sukses.

Dengan demikian, peristiwa yang sedih itu tidak akan dilupakan agar tidak diulang lagi.

Ken Setiawan

Murid Alam Bahasa Indonesia
mulai belajar di PURI dengan materi kursus tingkat lanjut
 

Tempora Mutantur - Hidup di Indonesia dan Belanda

Alam Bahasa Indonesia

Tulisan di bawah ini adalah hasil tulisan murid-murid PURI selama/sesudah mereka belajar di PURI. Tulisan ini dimuat tanpa proses editing apa pun, selain judul dan beberapa tanda baca yang ditambahkan untuk memperjelas maksud tulisan. Pemuatan tulisan ini sudah mendapat izin dari yang bersangkutan.

Indonesia

Empat laki-laki duduk di pinggir jalan. Mereka sedang mengobrol dan merokok. Beberapa ayam berjalan-jalan, mungkin mencari makanan. Seorang lelaki muda bermain gitar, ada anak-anak di sekelilingnya. Kami tiba di Bangunjiwo, sebuah desa yang kecil dan tenang di daerah Kasongan.

“Kira-kira ada lima ratus pembeli sehari”, jawab perempuan yang sedang mengecat vas tera. Kalau menonton ribuan vas yang bersebaran, jelas dia bercanda saja. Sama dengan kakak perempuannya dia bekerja di perusahaan vas tera. Kedua wanita itu membuat vas-vas dan objek yang lain dari tera, sambil suaminya mencari tanah merah untuknya. Kakak itu adalah kepala perusahaannya dan tinggal di tempat itu. Adiknya tinggal di tempat lain tapi dekat, dan datang setiap hari untuk bekerja.

Sedikit terus seorang lelaki tua sedang mengecat vas tera. Rupanya beberapa penduduk desa ini bekerja di sektor yang sama. Lelaki itu tidak bergigi lagi, tapi diberkati dengan delapan cucu. Perlu tiga hari untuk membuat sebuah vas besar, katanya. Harga vas itu Rp. 25.000,00. Lelaki itu bekerja di depan rumahnya. Pintunya terbuka, dan dua wanita bersama beberapa anak kecil kelihatan. Mereka duduk di lantai, karena kursi tidak ada. Anak-anak kurang rapi, berpakaian kotor tapi tidak apa-apa, karena gembira dan tertawa.

Dekat tempat tera ini ada perusahaan wayang yang cukup ramai. Lima belas orang bekerja di sini. Seorang wanita, namanya Wartium, sudah bekerja sebelas tahun di perusahaan ini. Dia menceritakan beberapa orang ‘asli’ diperlukan untuk membuat boneka wayang itu. Satu orang menggunting bahan kulit untuk boneka. Seorang yang lain mengukir motif pada boneka itu. Kemudian, seorang menempelkan tanduk kerbau pada boneka itu. Tanduk itu berfungsi sebagai pemegang, dan dicat lewat tanduknya. Kira-kira dalam waktu seminggu boneka wayang itu bisa diselesaikan. Bonekanya tidak digunakan dalam wayang-performance, tapi dibuat untuk penjualan saja.

Umur pekerja kurang penting. Ada pekerja yang baru berumur sepuluh tahun, dan ada orang dewasa. Pekerja-pekerja itu terutama terdiri dari para tetangga. Pemimpin perusahaan dianggap pekerja sebagai seorang bapak. Suasana perusahaan wayang itu seperti keluarga besar.

Juga ada Pak Lurah di Bangunjiwo. Tempat pekerjaan lurah sepi sekali pada jam 14.30. Nyatanya kebanyakan orang sudah pulang. Hanya kaur (kepala urusan) umum yang masih ada. Dia seorang lelaki rapi dan ramah yang berpakaian seragam. Sudah lima tahun dia memenuhi tugas itu. Menurut dia, penduduk desa Bangunjiwo ada 18.000, tapi tidak tahu dengan pasti. Dekat dari kantor ini tinggal mahasiswa dari Swiss. Seorang perempuan muda yang meneliti wayang.

Ada satu hal yang kami tidak boleh tahu, jadi semacam rahasia: pendapatnya mengenai presiden dan wapres yang baru. Sebagai kaur umum dia harus netral, dan manut saja. Juga sebagai seorang pribadi dia tidak mau menceritakan pendapatnya.

Belanda

Di desa Belanda juga ada semacam pak lurah, namanya ‘burgermeester’ (tuan warga/penduduk). Tugasnya bisa dibandingkan dengan pak lurah Indonesia. Dulu juga ada perusahaan, tempat orang bekerja dengan tangan. Perusahaan begini disebut ‘hoeve’. Tetapi tempora mutantur. Sekarang tidak ada lagi ‘hoeves’ di Belanda. Kebanyakan pekerjaan dilakukan dengan komputer, secara otomatis. Perusahaan berpindah ke kota besar atau dibangun di tepi jalan raya, karena letaknya harus mudah. Toko-toko biasa, misalnya supermarket, ada di mana-mana, baik di kota, maupun di desa. Semua perusahaan kecil menjadi besar atau bekerja sama dengan perusahaan besar seperti multinationals. Proses itu disebut ‘fusering’. Bahkan sekolah (dan universitas) menjadi besar, sehingga murid merasa seperti belajar di sebuah pabrik belajar!

Apalagi ada komputer di setiap rumah, sekolah, toko dan perusahaan. Pendeknya, di mana-mana. Anak dibesarkan dengan komputer dan tv. Perkembangan itu dirasakan oleh guru. Anak tidak bisa memperhatikan atau berkonsentrasi lama di kelas, dan menjadi hiruk-pikuk.

‘Hoeves’ tidak ada lagi, tapi teknik modern masuk. Akibatnya, suasana di desa berubah. Dulu tetangga saling kenal, sekarang banyak orang sama sekali tidak tahu itu. Seperti perusahaan wayang itu, tak terbayangkan di Belanda. Orang mempunyai pendidikan yang berbeda, dan karena itu pekerjaan juga tak sama. Kadang-kadang mereka bekerja jauh dari tempat tinggal. Orang naik mobil untuk pergi ke kantor, lalu lintas seringkali macet dan orang menjadi kurang tenang, dapat stres. Negeri Belanda meninggalkan tingkat mikro, dan mengikut proses globalisasi. Semua harus cepat (kebudayaan ‘zap’, jobhopping, dsb), harus besar, harus bervariasi, dan individu yang paling penting. Karena itu ada orang yang ’stressed’, menjadi sakit mental.

Tentu saja cerita ini tidak berlaku untuk semua orang, karena saya menggeneralisasi. Juga ada orang yang mencoba melawan pengaruh komputer, automatisasi, desosialisasi dan globalisasi itu, yang mampu membuat dunia dingin.

Kesimpulan

Semua orang baik di Indonesia maupun di Belanda harus bekerja untuk membiayai makan, minum, tempat tinggal, pakaian, sekolah, dll., tetapi bagaimana sampai itu berbeda. Indonesia relatif tenang, santai, tapi berubah juga (suasana Jakarta tidak sama dengan Bangunjiwo). Di Belanda kebanyakan orang kaya, tetapi diganggu stress dan perasaan malang. Di bidang material semuanya baik, tetapi tidak di bidang mental.

Ygerne Ten Brinke

Murid Alam Bahasa Indonesia
Ygerne mulai belajar di Alam Bahasa Indonesia dengan materi kursus tingkat lanjut

Pengalaman Saya di PURI

Alam Bahasa Indonesia

Nama saya Michiel van Loo. Sekarang saya berumur 23 tahun. Saya mahasiswa dari Belanda. Saya belajar antropologi di Universitas Leiden. Semua mahasiswa antropologi yang belajar budaya Indonesia harus meneliti di Indonesia (setelah penelitian, menulis skripsi). Sebelum riset itu harus belajar bahasa Indonesia dulu. Pada tahun 2000 ada kerja sama antara PURI di Yogya dan Universitas Leiden, maka semua mahasiswa antropologi belajar di PURI. Saya belajar di PURI tahun 2000 sepanjang bulan July. Sebelum belajar di Indonesia saya lulus kursus bahasa Indonesia untuk pemula di Universitas Leiden tapi pada saat saya di Indonesia payah banget berbahasa Indonesia! Jadi cuma ada 1 bulan untuk perbaiki bahasa Indonesia sebelum riset. Saya takut 1 bulan nggak cukup! Ternyata dengan kualitas pelajaran PURI, satu bulan cukup. Kebanyakan dosen PURI masih muda dan hebat berbahasa Inggris. Mereka sudah terbiasa bergaul dengan orang barat dan makanya mereka sabar banget untuk mengajar mahasiswa Belanda bahasa Indonesia. Saya kira orang barat payah diajar. Setelah riset aku kembali ke Yogya satu minggu untuk berlibur. Saya melihat mahasiswa Belanda baru sedang belajar bahasa Indonesia. Lucu banget! Mereka berbahasa Indonesia dengan aksen Belanda yang berat banget! Tapi saya tahu bahwa saya begitu juga waktu pemula…. Juga ada beberapa ekskursi misalnya ke beberapa candi di daerah Yogya. Biasanya ekskursi itu asyik banget dan juga menarik. Akhirnya menurut saya kursus bahasa Indonesia di PURI yang terbaik. Kalau saya pernah kembali ke Indonesia dan mau memperbaiki bahasa Indonesia lagi pasti kembali ke PURI.
Sudah ya…

Michiel Van Loo

Murid Alam Bahasa Indonesia
Michiel mulai belajar di PURI dengan materi kursus tingkat menengah

Humor

Alam Bahasa Indonesia

MASIH HANGAT-HANGATNYA
Seorang laki-laki dan istrinya bertamu ke rumah Kepala Desa untuk memperkenalkan diri. Baru tiga hari mereka tinggal di rumah baru mereka di daerah tersebut. Kebetulan Bapak Kepala Desa ada di rumah. Mereka langsung dipersilakan masuk. Setelah beramah-tamah dan memperkenalkan diri, istri tamu tersebut memberikan oleh-oleh bakpia kepada istri kepala desa. Beberapa saat kemudian, istri Kepala Desa masuk. Mereka lalu melanjutkan omong-omong dengan Kepala Desa. Pasangan tersebut bercerita kalau mereka baru saja menikah. Tiba-tiba dari ruang sebelah, yang hanya dibatasi partisi, terdengar suara yang cukup mengejutkan.
“Wah, masih hangat-hangatnya.”
“Iya, masih baru. Nanti kalau sudah lama juga dingin.”
“Manis ya.”
“Dari kota besar, sih.”
Kontan saja muka suami istri itu menjadi merah padam. Rupanya Kepala Desa juga kaget. Kemudian dia menyahut, “Oleh-oleh itu dari Pak Anton! Makan saja tak usah banyak bicara!”

PERAMAL CUACA
Banyak hal dalam kehidupan manusia yang tergantung pada cuaca. Begitu pula dalam industri perfilman. Seorang sutradara tentu tidak akan sembarangan untuk memulai syuting jika cuaca tidak memungkinkan.Bahkan peramal cuaca pun kadang-kadang diperlukan. Dalam syuting film di gurun pasir Tengger, seorang tetua desa datang tergopoh-gopoh menemui sutradara. Tetua desa itu bilang kalau nanti siang akan terjadi badai. Ternyata badai memang menelikung lokasi syuting. Hari kedua dan ketiga, tetua desa kembali mengingatkan sutradara tentang cuaca yang akan terjadi. Sang sutradara berpikir untuk merekrut tetua desa sebagai peramal cuaca karena selama tiga hari ramalannya selalu tepat. Hari keempat tetua desa itu tidak datang ke lokasi syuting. Hal ini cukup merepotkan sutradara. Kemudian sutradara pergi ke rumah tetua desa. Disana dia beratnya tentang cuaca siang nanti, “Bagaimana cuaca siang nanti pak Tetua?”
Setelah terdiam cukup lama, tetua desa menjawab,” Aku tidak tahu!”
Dengan penasaran sutradara kembali bertanya,”Apakah ada yang menghalangi Pak Tetua?”
Dengan polosnya tetua desa menyahut,”Ya, radioku rusak sejak kemarin malam.”

MUSLIHAT PEJUDI
Ada empat pejudi yang sedang berkumpul. Mereka mau berjudi dengan bermain poker, tetapi tidak ada tempat yang dirasa aman. Setelah berembug cukup lama, mereka memutuskan untuk bermain kartu di atap gedung bertingkat delapan yang baru dibangun. Setelah berjuang keras naik ke tingkat delapan, mereka segera berjudi. Uang taruhan yang mereka pasang tidak main-main, Rp 500.000,00 per orang per putaran. Setelah baermain sepuluh putaran, seorang pejudi yang berbadan gendut kehabisan modal. Wajah orang itu menjadi pucat pasi. Setelah permainan selesai mereka berempat bermaksud turun, tetapi si Gendut tiba-tiba ambruk, pingsan. Kontan saja ketiga temannya kalang-kabut. Mau ditinggal atau dibawa turun. Karena kasihan ketiga teman si Gendut menggotongnya turun tangga. Dengan berjalan tertatih-tatih keberatan, ketiganya bergantian menggendong si Gendut turun. Akhirnya sampai juga mereka di anak tangga terakhir lantai dasar. Begitu kaki penggendong menapak lantai dasar, si Gendut bersuara,”Sudah, aku jalan sendiri saja.”
Mengetahui akal-akalan si Gendut, ketiga temannya uring-uringan. Dengan santai si Gendut menyahut,”Masa sudah kalah jutaan rupiah masih harus jalan kaki menuruni tangga.”

SELAMAT WISUDA
Tiga orang wisudawan yang baru saja selesai mengikuti upacara wisuda di UGM bermaksud pulang ke tempat kost mereka. Kali ini ketiganya tidak mau berdesakan dalam bis kota. Mereka mau pulang dengan taksi. Kebetulan sebuah taksi yang setiap hari mencari penumpang di sekitar kampus mendekat. Di dalam taksi, dengan bangga, ketiganya membicarkan sesi-sesi upacara wisuda. Mereka juga membicarakan jumlah peserta wisuda yang mayoritas satu fakultas dengan mereka, Fakultas Teknik. Tanpa disangka-sangka sopir taksi itu bertanya, “Anda baru diwisuda dari Fakultas Teknik UGM?”
Salah satu dari mereka menjawab dengan mantap, “Ya, Pak. Teknik Mesin angkatan 1996.”
Kemudian sopir taksi itu menyahut, “Kenalkan, saya angkatan 1963.”

~ || ~

JOGJA: Never Ending Asia

Alam Bahasa Indonesia

Yogyakarta kini memiliki identitas baru, Jogja: Never Ending Asia. Identitas baru ini merupakan bagian dari usaha serius Yogyakarta untuk memasarkan dirinya. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah mennyebabkan ketidakpastian politik, ekonomi, dan sosial. Sehubungan dengan itu, citra Indonesia memburuk sehingga trade, tourism, and investment (TTI) enggan masuk ke berbagai daerah di Indonesia. Di tengah ketidakpastian itu, Jogja mampu membuktikan diri sebagai kawasan yang aman dan damai. Kondisi positif inilah yang dimanfaatkan sebagai awal untuk membangun citra Jogja.

Pertama-tama Mark Plus & Co., perusahaan yang terlibat di dalam pembuatan nama baru Yogyakarta, mengadakan survey terhadap sekitar 60 responden dengan kategori orang Yogyakarta asli, orang luar yang tinggal di Yogyakarta, dan orang yang memiliki kenangan terhadap Yogyakarta. Survei ini membuktikan bahwa responden, khususnya orang asing, merasa sulit menyebutkan nama Yogyakarta. Jadi, dipilih nama Jogja yang lebih mudah diucapkan. Penulisan kata Jogja pada logo Jogja: Never Ending Asia berdasarkan tulisan tangan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Huruf J yang panjang digambarkan sebagai simbol payung atau perlindungan bagi masyarakat Yogyakarta. Huruf O menggambarkan wajah anak kecil dengan tatapan mata menerawang jauh, mengharapkan Jogja baru yang lebih baik. Citra “Never Ending Asia” dipilih karena mudah diingat, sederhana, dan memiliki kesan kuat.

Kata “Asia” dipakai (bukan Jawa atau Indonesia) untuk memberikan motivasi kepada Jogja untuk bersaing secara serius tidak hanya secara nasional tetapi juga regional. Diharapkan, Jogja dpat menjadi salah satu anggota klub asia seperti Singapura (Singapore: New Asia) dan Malaysia (Malaysia: Truly Asia).
Selain itu, Jogja juga memiliki kredibilitas secara budaya karena mempunyai tempat-tempat suci dan bersejarah dari agama-agama besar yang berkembang di Asia, seperti Kerajaan Mataram (Islam), Candi Borobudur (Budha), Candi Prambanan (Hindu), dan Gua Sendangsono (Katolik). Bahkan, di Jogja juga sedang dibangun sebuah mega projek keagamaan, yaitu Perkampungan Islam Internasional yang didukung oleh sejumlah donator luar negeri.

Identitas baru Jogja  diharapkan dapat memudahkan Jogja memasuki kancah dunia, terutama di bidang pariwisata, perdagangan, dan investasi, sehingga dapat menunjang otonomi daerah yang telah diberlakukan.

Jogja: Never Ending Asia hanyalah titik awal dalam pengembangan identitas Jogja. Identitas baru ini harus terus-menerus disebarluaskan kepada seluruh stakeholder Jogja, baik internal maupun eksternal. Secara internal, kalangan pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat luas harus ikut mewujudkan identitas tersebut. Secara eksternal, harus diusahakan supaya stakeholder luar seperti pelaku pasar, wisatawan, dan investor paham dan bersikap positif terhadap identitas baru tersebut. Kemampuan sumber daya manusia dan pembangunan fasilitas diperlukan supaya Jogja bisa unggul dalam kompetisi dan Jogja: Never Ending Asia akan benar-benar menjadi aset yang sangat berarti. Event-event pariwisata internasional yang diadakan di Jogja: EATOF (East Asia Interregional Tourism Forum), September 2001 dan ATF (Asean Tourism Forum), Januari 2002, menjadi bukti keberhasilan Jogja dalam mendapatkan kepercayaan dunia internasional ketika kota-kota lain seakan tak ramah lagi terhadap kehadiran orang asing.
 


Sumber: Petunjuk Telepon Yogyakarta
TELKOM  2001 -2002
 

Page 4 of 7« First...«23456»...Last »