Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Pada tanggal 28 Mei 2002, Sri Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putri sulungnya, GKR Pembayun. Acara pernikahan tersebut diselenggarakan sesuai dengan adat dan prosedur keraton yang telah dipegang selama berabad-abad.
photo: Femina
 |
 |
Sebetulnya, prosesi pernikahan itu diawali sejak sehari sebelumnya dengan acara Siraman Putri. Dalam acara Siraman Putri ini, yang diizinkan masuk hanyalah para gusti putri atau bendara putri. Acara Siraman Putri ini diakhiri dengan pengangkatan kendhi oleh GKR Hemas, ibu dari pengantin putri, sambil mengucapkan doa. Kendhi yang berisi air dari tujuh mata air tersebut dihiasi dengan bunga melati. Sesudah diangkat, kendhi itu kemudian dipecah.
Setelah siraman, ada upacara potong rambut dan ngerik. Sesudah itu, dengan selembar kain putih, GKR Hemas menutup kepala GKR Pembayun dan kemudian ngratus rambut putri sulungnya.
Sementara itu, di Ksatriyan para abdidalem memasang tawuhan komplit, yang terdiri dari bermacam-macam hasil panen orang. Tawuhan dipasang di Regol Ksatriyan dan juga di pintu Gedung Pompa, lokasi siraman calon pengantin laki-laki. GKR Hemas dan calon besannya juga mendatangi Ksatriyan, begitu selesai dengan acara Siraman Putri.
Malam harinya, dilaksanakan upacara tantingan. Pada saat tantingan inilah, Sri Sultan HB X sebagai Raja ataupun sebagai orangtua menanyakan kesediaan putrinya untuk dinikahkan. Setelah sultan nanting putrinya, doa puji syukur kepada Tuhan pun dipanjatkan bersama-sama. Acara dilanjutkan dengan penyelesaian urusan administrasi oleh Petugas KUA (Kantor Urusan Agama).
Keesokan harinya, di Masjid Penepen, dilaksanakan prosesi ijab kabul. Prosesi ini hanya diikuti para laki-laki termasuk ayah calon pengantin pria. Prosesi tersebut terdiri dari khutbah nikah, ijab kabul oleh Sri Sultan HB X, dan penyelesaian administrasi oleh petugas KUA.
Siangnya merupakan puncak dari upacara pernikahan yang diawali dengan upacara panggih. Upacara panggih terdiri dari edan-edanan, balang-balangan gantal, mijiki, mecah telur dan kemudian diakhiri dengan pondhongan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat yang dilaksanakan di Emper Bangsal Prabayeksa.
Pengantin dan besan Dalem kemudian menuju Kagungan Dalem Ksatriyan untuk melaksanakan upacara tampa kaya dan kemudian menuju Gadri Ksatriyan untuk melaksanakan upacara dhahar klimah. Sore harinya acara dilanjutkan dengan Kirab Mubeng Beteng.
Pada malam harinya dilaksanakan resepsi pernikahan di Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Dalam acara tersebut dipergelarkan dua tarian, yaitu Bedhaya Manten dan Beksan Lawung Ageng.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Di suatu senja, dua anak laki-laki mencuri apel dari sebuah kebun. Sayang sekali, mereka ketahuan dan dikejar oleh pemilik kebun apel. Karena dikejar-kejar, dua anak itu berlari terus dan sebelum hari menjadi gelap, mereka sampai di satu kuburan.
Mereka bersembunyi di balik satu batu nisan. Satu dari dua anak itu kemudian menaruh semua apelnya di tanah, tetapi ada dua apel menggelinding ke pintu gerbang kuburan. “Tidak apa-apa. Kita akan mengambil dua apel itu nanti, ketika kita pulang,” katanya. “Sementara menunggu hari menjadi lebih gelap, yuk kita bagi apel-apelnya di sini!”.
Ketika itu, seorang wanita setengah baya melewati daerah kuburan itu. Tiba-tiba, ia mendengar suara lirih di balik batu nisan. “Satu untuk saya, satu untuk kamu. Satu lagi untuk saya, satu lagi untuk kamu”.
Mendengar itu, wanita itu merasa takut sekali dan lari. Di luar kuburan, dia bertemu dengan dengan seorang laki-laki. “Tolong,” katanya, “Di kuburan sana, di balik batu nisan, ada hantu yang sedang membagi-bagi tubuh manusia.” Meskipun laki-laki itu merasa tidak yakin, dia masuk ke kuburan bersama wanita itu. Ketika mereka sampai di pintu gerbang, mereka mendengar lagi suara bisik-bisik. “Nah, terakhir, satu untuk kamu, dan satu untuk saya. Dan jangan lupa, ada dua lagi di dekat pintu gerbang”.
Dan larilah wanita dan laki-laki itu.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Upaya sejumlah kalangan Indonesia untuk menggusur K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi kepresidenan pada waktu itu merupakan berita menarik, bahkan di dusun-dusun yang kecil. Di kampung Benang, Manggarai, Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur, misalnya, penduduk justru gembira bila Gus Dur digusur.
Mengapa? Ternyata mereka bingung untuk membedakan antara Gus Dur dan Abdurrahman Wahid. Menurut pemahanan mereka selama ini Indonesia dipimpin oleh 2 presiden yang berbeda yakni Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Gus Dur. Mereka lebih senang bila Indonesia dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid daripada “Presiden Gus Dur”.
Bagi penduduk kampung Benang, nama Abdurrahman Wahid sudah tidak asing lagi. Mereka mengenalnya sejak dia menjadi ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama). Sementara itu, nama Gus Dur mereka kenal baru setahun terakhir, sejak Abdurrahman Wahid menjadi Presiden.
Pemahaman itu muncul karena tradisi pemberian nama di NTT agak berbeda dengan di Jawa. Di NTT orang bernama Abdurrahman Wahid akan dipanggil Abdur atau Rahman. Nama belakang “Wahid” tidak boleh menjadi nama panggilan.
Khusus tentang panggilan Gus Dur, nama panggilan memang terasa aneh bagi masyarakat NTT (Manggarai). Gus artinya usir, Dur artinya tolak. Gus Dur artinya diusir dan ditolak. Inilah alasan mengapa mereka tidak keberatan Gus Dur digusur. Mereka lebih mencintai Presiden Abdurrahman Wahid daripada Presiden Gus Dur.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Di jaman dulu di Lombok ada satu kerajaan. Namanya Kuripan. Raja Kuripan adalah seorang yang sangat bijaksana. Ia punya seorang putri, namanya Mandalika. Dia cantik sekali sehingga banyak pangeran ingin memperistrinya. Karena terlalu banyak pangeran mau memperistri Mandalika, raja Kuripan membuat satu sayembara. Dia mengundang semua pangeran yang ingin memperistri Mandalika untuk mengikuti sayembara memanah. Siapa yang dapat memanah paling baik, akan menjadi suami Putri Mandalika.
Pada hari yang ditentukan, pangeran-pangeran itu memanah dan mereka semua memanah dengan baik sekali. Sulit untuk memilih satu di antara mereka. Pangeran-pangeran itu menjadi marah dan mereka berkelahi. Mereka saling pukul dan bunuh. Putri Mandalika sangat sedih dan bingung. Dia putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin orang-orang saling bunuh karena dia. Dia menganggap bahwa dirinya adalah sumber masalah. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk pergi ke laut dan menjatuhkan dirinya ke dalam air laut. Akhirnya dia mati di laut selatan Lombok. Raja dan semua pangeran merasa sedih dan sangat bersalah. Mereka menyesal dan berhenti berkelahi.
Sampai sekarang, satu hari dalam setahun, biasanya di bulan Februari atau Maret, orang-orang pergi ke laut tempat Putri Mandalika meninggal. Di hari itu, banyak cacing akan keluar dari laut. Cacing-cacing ini disebut nyale oleh orang Lombok, dan upacara mengambil nyale dari laut ini disebut bao nyale. Orang percaya bahwa cacing-cacing itu adalah rambut Mandalika, putri yang mereka cintai.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Kehadiran anak yang sudah lama ditunggu-tunggu tentu saja sangat membahagiakan kami. Bisa mengikuti perkembangan fisik dan pertumbuhan mentalnya merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh menakjubkan. Setiap hari kami tersenyum karena tingkah lakunya yang menggelikan. Semakin lama, kemampuan bahasanya juga semakin baik.
Banyu Gunung (artinya air gunung.) adalah nama anak kami. Sekarang dia sudah berumur 15 bulan. Sejak berumur 2 bulan, dia sudah menunjukkan gejala “cerewet”. Di usia itu dia suka sekali mengoceh. Banyak orang bilang bahwa dia akan cepat bisa bicara karena ayahnya dan saya, ibunya, banyak bicara. Teman-teman saya di kantor pun memberi predikat “cerewet” kepada saya. Itu karena saya memang selalu banyak bicara.
Sejak usia 2 bulan, Gunung sudah biasa saya bacakan cerita (dari buku cerita) sambil melihat gambar-gambarnya. Dia mendengarkan cerita yang saya baca sambil menggerak-gerakkan badannya dan mengoceh tidak karuan seolah-olah dia mengerti apa yang saya bacakan.
Tanpa berpikir apakah dia mengerti atau tidak, setiap hari saya mencoba berbicara dengannya. Saya yakin bahwa dia akan bisa menangkap kata-kata yang saya ucapkan kalau saya sering berkomunikasi dengannya. Seringnya dia saya ajak berkomunikasi akan membantu mengasah otaknya untuk bisa merekam kata-kata yang dia dengar. Saya selalu menjelaskan kepadanya apa yang sedang saya lakukan. Tanpa saya sadari bunyi-bunyi bahasa itu terekam dalam ingatannya dan akhirnya pada umur 9 bulan dia bisa mengerti kalimat-kalimat perintah sederhana.
Ketika dia masih di dalam kandungan saya, saya suka mendengarkan musik. Sekarang Gunung sulit tidur kalau tidak ada musik. Ternyata tanpa saya sadari, kebiasaan itu sangat bermanfaat untuk dia. Pada umur 7 bulan dia sudah bisa mengikuti lagu anak-anak dengan ikut mengucapkan bunyi-bunyi akhirnya. Semakin lama, semakin banyak kata yang dikuasainya. Kini, dalam usia 15 bulan, dia bisa mengikuti dan menyanyikan 6 lagu anak-anak yang sering saya nyanyikan.
Kalau saya perhatikan, dia belajar bahasa dengan menirukan ucapan orang-orang di sekitarnya. Gurunya di playgroup juga mengatakan bahwa dia bisa dengan cepat menirukan ucapan gurunya.
Saya yakin, penting bagi para orang tua untuk selalu mengajak anak-anak mereka berkomunikasi , baik dengan berbicara maupun menggunakan ekspresi-ekspresi gerakan badan. Kita juga perlu menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan anak-anak mendengar orang bicara dan kemudian menirukan apa yang dia dengarkan. Hal itu akan mempermudah pemerolehan bahasa bagi anak.
May 13th, 2008 | Tags: anak, bahasa | Category: Aneka Ragam | Leave a comment
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Satu kata bisa berarti banyak, lho. Setiap kata dalam suatu bahasa seringkali memiliki lebih dari satu makna. Perbedaan makna terjadi ketika satu kata berada dalam susunan kalimat yang berbeda atau diikuti oleh kata-kata yang berbeda. Perbedaan makna juga akan terjadi apabila kata-kata tersebut dipakai dalam bidang yang berbeda. Perbedaan makna perlu diperhatikan ketika orang sedang mempelajari suatu bahasa supaya pembelajar bisa menggunakan kata-kata dalam bahasa yang dipelajarinya dengan baik dan benar.
Salah satu contoh kata dengan makna yang berbeda-beda adalah sayang. Berikut adalah beberapa makna dari kata sayang yang sering digunakan:
1. Kata sayang mempunyai makna yang sama dengan kata cinta, contoh:
- Setiap orang tua pasti sayang kepada anak-anaknya.
- ‘Saya sayang kamu.’ kata Haris kepada istrinya.
2. Kata sayang dipakai sebagai kata sapaan, yaitu memanggil orang yang dicintai atau disayangi, contoh:
- ‘Sayang, di mana kamu?’
- ‘Apa kabar, Sayang?’
3. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa kasihan, contoh:
- Sayang, mereka tidak bisa melanjutkan sekolah.
- ‘Aduh sayang, sakit ya?’ kata ibu kepada anaknya yang baru saja terjatuh.
4. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa menyesal, contoh:
- ‘Sayang sekali, saya tidak bisa datang ke pesta pernikahan Anda.’
- Marina adalah gadis yang cantik dan baik. Sayangnya, dia sering bergaul dengan anak-anak berandalan.
- Sayang, korban-korban bencana alam itu belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Kata sayang di sini bisa diikuti oleh kata lain seperti: sayang sekali, sayang benar dan sayangnya.
5. Kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa rugi (tidak rela), contoh:
- Ayam ini sayang kalau disembelih. Kita bisa menjualnya ke pasar dan mendapatkan uang.
- Sayang kalau kamu tidak melanjutkan sekolah. Zaman sekarang ini, sekolah sangat penting untuk mengembangkan kemampuan kamu.
Kata kalau di dalam kalimat di atas biasanya dipakai dalam makna ini.
Perbedaan makna pada kata sayang sangat dipengaruhi oleh emosi seseorang. Penggunaan intonasi dan gaya bahasa juga dapat menimbulkan perbedaan makna, terutama ketika kata sayang dipakai untuk mengungkapkan rasa kasihan dan menyesal. Hal ini dipengaruhi oleh hubungan antara pengguna bahasa (pembicara dan yang diajak bicara), apakah hubungan emosinya dekat atau tidak, sangat menentukan makna kata itu.
Oleh karena itu, hendaknya pembelajar bahasa memperhatikan juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut, bukan hanya mengartikan bahasa berdasarkan padanan katanya di bahasa lain atau berdasarkan struktur kalimatnya saja.
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Istilah-istilah ini diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Istilah Agama Islam dan informasi tambahan dari penulis yang berdasarkan fakta dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya istilah yang seringkali dipakai oleh orang Islam Indonesia ini tidak semuanya berasal dari Islam atau bahasa Arab secara langsung. Sebagian besar telah mengalami pencampuran kebudayaan Indonesia terutama budaya Jawa.
Berikut beberapa istilah untuk pemuka agama dalam Islam yang sangat sering kita dengar:
Da’i: orang yang mendakwahkan agama Islam, atau orang yang mengajak umat Islam untuk kembali ke jalan Allah.
Imam: 1. Pemimpin, penguasa atau ketua dari kelompok tertentu atau suatu aliran (mazhab), juga merupakan sebutan atau gelar bagi seseorang, contoh: Imam Bonjol (pemimpin dari kelompok perjuangan kemerdekaan), Imam Hambali (salah satu pemimpin mazhab dalam Islam); 2. Seorang pemimpin dalam shalat berjamaah.
Kyai/Nyai: kiai (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Ada beberapa pemahaman tentang istilah kiai. Dulu istilah ini dipakai sebagai sebutan untuk orang-orang yang ditakuti, disegani atau yang memiliki kemampuan ghaib yang tinggi (kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya), contoh: dukun, mpu atau guru dalam perguruan keagamaan atau persilatan.
Istilah kiai juga dipakai untuk mengawali nama benda-benda yang dianggap bertuah atau mempunyai kekuatan ghaib, seperti: senjata, keris, kereta raja, gamelan dll.
Kata kiai juga digunakan sebagai nama samaran untuk harimau apabila seseorang akan melewati hutan. Harimau dianggap sebagai binatang yang berkuasa di hutan dan sangat ditakuti. Karena orang takut menyebut namanya bila melewati hutan, mereka sering memakai kata kiai sebagai pengganti sebutan harimau.
Saat ini istilah kiai sering digunakan untuk menyebut orang-orang yang pandai dalam ilmu agama Islam atau alim ulama, disamping itu mereka juga dianggap memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan orang biasa. Lebih khusus lagi, kiai adalah sebutan bagi seorang pemimpin pondok pesantren terutama yang tradisional (NU). Jadi, istilah ini sesungguhnya bukan istilah dari agama Islam melainkan dari budaya Jawa. Dalam kelompok agama Islam yang modern tidak dikenal adanya istilah kiai ini.
Ustad/ustadzah: guru yang mengajarkan agama Islam. Dalam sebuah pesantren dia membantu kiai mengajarkan ajaran Islam kepada santri-santrinya. Ustad/ustadzah dipilih dan dipercaya oleh kiai untuk mengajar di kelas. Istilah ini digunakan pula untuk memanggil orang yang mengelola masjid di suatu wilayah. Selain merawat masjid biasanya mereka juga mengajar anak-anak di lingkungan masjid membaca Al-Qur’an atau hukum-hukum dalam Islam.
Sebutan ustad/ustadzah ini juga dipakai untuk orang yang berdakwah atau menyampaikan ajaran Islam di mana pun, seperti di televisi, pengajian-pengajian, majalah dll. (bukan dari bahasa Arab)
Syekh: 1. Sebutan kepada orang Arab terutama dari keturunan Nabi; 2. Sebutan orang Arab yang berasal dari Hadramaut; 3. Sebutan bagi alim ulama, hampir sama dengan kiai; 4. Pemimpin orang-orang yang naik haji.
Wali: 1. pelindung, penolong, penguasa; orang yang dekat jiwanya kepada Allah SWT. Ada sembilan ulama yang merupakan pelopor dan pejuang pengembangan Islam (islamisasi) di pulau Jawa pada abad ke lima belas (masa kesultanan Demak) yang biasa disebut Wali Songo. 2. Pada masa sekarang kata wali juga diartikan sebagai wakil orang tua atau orang yang ditunjuk sebagai wakil orang tua seorang anak/murid
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Di dalam tulisan ini ditampilkan beberapa contoh kesulitan yang dialami murid bahasa Indonesia di PURI Bahasa ketika membaca artikel dari media cetak. Tentu saja, dibahas juga bagaimana mengatasi masalah ini.
Banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia sulit menggunakan atau memahami kalimat pasif. Padahal, kalimat pasif sangat banyak digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari.
Berikut ini ada contoh kesulitan yang dialami pembelajar bahasa Indonesia di PURI ketika membaca artikel dari koran.
Pola kalimat pasif di- yang dipelajari murid sebagai berikut:
| Handoyo |
menulis |
surat. |
(ACTIVE SENTENCE) |
| Surat |
ditulis |
oleh Handoyo. |
(PASSIVE SENTENCE) |
Kalau kalimat aktif memakai me - kan, otomatis pasifnya di - kan dan me - i berubah menjadi di - i.
Membaca atau mendengarkan pemakaian kalimat pasif yang sederhana seperti di atas, biasanya tidak ada kesulitan. Tetapi, ketika mulai membaca atau mendengarkan artikel atau tuturan yang kompleks, murid sering mengalami kesulitan memahaminya. Kesulitan ini disebabkan ada banyak pelesapan objek dalam artikel yang panjang atau tuturan yang kompleks.
Contoh - contoh di bawah ini diambil oleh penulis dari koran:
- Rendahnya jumlah perempuan dalam mengambil kebijakan dapat dilihat dari sedikitnya jumlah utusan rakyat perempuan.
- Lombok tak pernah habis dibicarakan.
Murid yang terbiasa dengan struktur pasif di- yang lengkap bingung ketika membaca kalimat di atas. Murid mempertanyakan keberadaan objek sesudah kata kerja dengan di-. Tidak ditulisnya objek sesudah pasif di- di atas karena konteks pembicaraannya sudah jelas atau sudah pernah disebutkan dalam kalimat sebelumnya.
Kalau ditulis lengkap, kalimat di atas akan menjadi sebagai berikut:
- Rendahnya jumlah perempuan dalam mengambil kebijakan dapat dilihat oleh masyarakat (atau pembaca) dari sedikitnya jumlah utusan rakyat perempuan.
- Lombok tak pernah habis dibicarakan oleh masyarakat.
Seringkali pembaca harus menguasai konteks untuk mengetahui objek yang dilesapkan oleh penulis artikel. Salah satu caranya adalah dengan sering berlatih membaca artikel dan mengenali bentuk pasif yang ada. Ada baiknya membaca artikel-artikel tentang bidang yang sama sehingga kata - kata baru bisa sedikit terkurangi. Kalau kata - kata dalam bidang tertentu sudah terkuasai, akan mudah bagi pembaca untuk memahami konteks wacana tersebut.
Thomas Wahyu Widiyono
closeAuthor: Thomas Wahyu Widiyono
Name: Thomas Wahyu Widiyono
Email: thomjun@yahoo.com
Site:
About: Indonesian Language Teacher of Alam Bahasa IndonesiaSee Authors Posts (2) Awalan dan akhiran apa saja yang dapat dipasangkan dengan kata sifat untuk membuat kata bentukan? Apa arti dari kata-kata bentukan tersebut? Temukan jawabannya di artikel ini.
Membuat kata dengan prefiks dan sufiks dari kata sifat tidak sulit kalau kita tahu strateginya. Kata sifat tidak memiliki banyak variasi. Hanya ada dua kategori kata sifat yaitu:
1. emosional (perasaan)
Contoh : marah, sedih, senang, takut, kecewa, bahagia, bingung, dan lain-lain
2. non-emosional. ( warna, ukuran, dll.)
Contoh : panjang, pendek, besar, kecil, dalam, luas, cantik, jelek, panas, dingin, dll.
Mari kita lihat tabel (1) untuk kata sifat emosional dan tabel (2) untuk kata sifat non-emosional
1. KATA SIFAT EMOSIONAL ( perasaan)
|
|
PREFIKS (DAN SUFIKS)
|
ARTI
|
|
| kata kerja |
ber~ |
ekspresi karakter
|
sedih, gembira, bahagia, ( 3 saja) |
| me(N) ~ kan |
kausatif (membuat objek menjadi) |
sedih, takut, kecewa, bingung |
| me(N) ~ i |
kata dasar kepada objek |
cinta, percaya, marah, |
| memper~ |
membuat menjadi lebih |
marah, sedih, |
| memper ~ kan |
kausatif (membuat objek menjadi) |
malu, |
| kata benda
|
pen(N)~
|
orang yang punya karakter
|
marah, sedih, malu, malas, |
| ke ~ an |
hal / kondisi( bisa dengan ~ness di bhs. Inggris) |
marah, sedih, bingung, panik, ragu, takut, (malu tidak bisa) |
| ~nya |
kondisi |
marah, sedih, cinta, bahagia, |
| adverbia
|
se ~ |
sama |
semua emosi |
| se~nya reduplikasi |
meskipun |
semua emosi |
2. KATA SIFAT NON-EMOSIONAL ( warna, ukuran, dll. )
|
|
PREFIKS (DAN SUFIKS) |
ARTI |
CONTOH
|
kata kerja
|
me(N) ~
|
menjadi (proses internal dan natural)
|
panas, panjang, kecil |
| me(N) ~ kan |
kausatif, objek dinamis |
dingin, kurus, mahal, |
| me(N) ~ i |
kausatif, objek statis |
panas, jauh, dekat, |
| memper ~ |
kausatif |
panjang, keras, lembut |
| memper~i |
kausatif |
baik, baru, lengkap ( 3 saja ) |
| kata benda |
pen(N)~
|
alat
|
panas, dingin, keras, manis, merah |
| per ~ |
alat |
? |
| pe(N) ~ an |
proses |
keras, dekat, besar, kecil |
| per ~ an |
hal / kondisi |
baik, lengkap, luas, panjang, |
| ke ~ an |
kondisi abstrak (~ness di bhs Inggris) |
baik, jelek, tajam, indah,
(warna tidak masuk kategori ini) |
| ~ nya |
ukuran, (ada numeralia, optional) |
panjangnya ( 25 m ) |
|
adverbia
|
se ~
|
sama
|
cantik, panjang, tinggi, merah |
| se~nya reduplikasi |
se ~adj ~ mungkin (tidak ada limit) |
cepat, pelan, kuat, banyak |
| se~nya bukan reduplikasi |
se ~ adj ~ mungkin (ada batas dan
ada numeralia di belakangnya |
cepat, pelan, banyak, tinggi,
(ct: secepat-cepatnya 50 km/jam) |
Alam Bahasa Indonesia
closeAuthor: Alam Bahasa Indonesia
Name: Alam Bahasa Indonesia
Email: learn@alambahasa.com
Site: http://www.alambahasa.com
About: We started our Indonesian language (bahasa Indonesia) course, Puri Indonesian Language Plus in April 1995. In a homelike atmosphere we welcomed every student to be part of our Indonesian family, accompanied them to practice Indonesian language (bahasa Indonesia) and touch the culture. Puri (literally means a palace) referred to a beautiful house whose homelike atmosphere accommodated the language learning process in family hospitality.
The ‘house’ has rapidly developed into a real “education center” since then. We have become a multi language center where foreigners can learn Indonesian language (bahasa Indonesia) as well as its culture and local language in the homelike atmosphere, and where Indonesian nationals can learn foreign languages in the same atmosphere. We are moving fast with our business which is not just limited to the language training but culture and traveling. We have a new soul, a new spirit for the new challenge. Everything is the same: the owners, teachers, and staff but the name and spirit.
Now we are introducing the new spirit. It means everything is plus, much more than just marginal. The atmosphere is not just like a home but as rich as Indonesian nature (nature = alam-Ind). The opportunity is there to experience (mengalami-Ind) the culture instead of just to touch it.
We have spread our wings to the nature and no house walls can stop us
to go bigger, higher, and faster.See Authors Posts (53) Mungkin Anda pernah terbolak-balik dalam memakai kata-kata di bahasa Indonesia. Misalnya, mau mengatakan ‘enam’ tetapi yang diucapkan ‘empat’ atau maksud hati ingin mengatakan ‘murah’ tetapi yang muncul malah ‘merah’. Untuk mengatasi kesulitan ini, simaklah tips dalam artikel ini.
Bagi orang yang baru belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, ketiga dan seterusnya sering timbul kesulitan untuk mengingat kata-kata yang bunyinya mirip. Akibatnya, lain yang dimaksud, lain pula yang diucapkan. Dengan kata lain, keluarnya kata dalam percakapan bisa terbalik-balik, misalnya mau mengatakan ‘enam’ tetapi yang diucapkan ‘empat’ atau maksud hati ingin mengatakan ‘murah’ tetapi yang muncul malah ‘merah’.
Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa cara yang dapat dicoba. Cara pertama khusus bagi yang sering terbalik mengucapkan angka-angka yang berbunyi mirip. Tekniknya, mereka dapat menghafalkan angka-angka tersebut dalam bentuk gabungan dimulai dari angka yang terkecil, misalnya 46 (empat enam) atau 89 (delapan sembilan). Melalui cara ini diharapkan kemungkinan terbaliknya ucapan pada saat berkomunikasi dapat dihilangkan karena di dalam ingatan, urutan angka tersebut telah terstruktur.
Cara kedua ialah dengan menghafalkan kata-kata yang mirip bunyinya dalam sebuah kalimat yang bermakna, misalnya ‘baju merah itu murah’; ‘kalau marah, mukanya merah’ atau ‘ kepalaku bukan kelapa’ dan ‘perawat naik pesawat’.
Cara yang ketiga lebih memacu kreativitas -ketimbang kedua cara terdahulu- karena kata-kata yang berbunyi mirip terlebih dahulu harus dirangkaikan dalam bait puisi atau lagu, baru kemudian dinyanyikan sambil dihafalkan, tentunya setelah diberi notasi sederhana yang bisa diciptakan sendiri. Contohnya:
Sumirah, gadis muda
Ramah dan tidak mudah marah
Kalau malu wajahnya merah
Sumirah punya buku merah
Bahasanya mudah, harganya murah.
Lewat jalan mendendangkannya secara rutin, hubungan antara bunyi dan makna benar-benar melekat di benak seseorang. Dengan demikian, kemungkinan simpang siurnya kata-kata yang berbunyi mirip ketika akan diucapkan mudah-mudahan tidak terjadi lagi
Bagaimana ???, mau coba???, atau Anda punya cara yang lain lagi.
Page 3 of 7«12345»...Last »