Our School

Alam Bahasa Indonesia

Holiday Blues

Jumat malam hingga Sabtu malam merupakan saat yang paling menyenangkan bagi saya. Hari Minggu saya masih senang tetapi hanya sampai jam enam sore. Sesudah itu rasanya ada ketegangan tersendiri karena harus mulai memeriksa program kerja, merencanakan rapat, dan memikirkan strategi bisnis. Di akhir libur panjang saya merasa lebih kacau. Betapa enggannya saya kembali ke Yogya untuk bekerja lagi (oww, tolongg…) setelah beberapa hari menikmati kenyamanan suasana di kota kecil saya dan kehangatan keluarga. Bisa ditebak, pada hari pertama bekerja setelah berlibur sekian lama, saya agak canggung. Pernah juga saya justru jatuh sakit pada hari kerja kedua setelah cuti sebulan dan melakukan ‘estafet’ ke tiga kota yang berjauhan dalam seminggu terakhir masa cuti tersebut.

Nampaknya, saya bukan satu-satunya orang yang mengalami hambatan kerja setelah berlibur. Jennifer Johnston mengungkapkan di Sunday Herald Online Agustus 2004, 79% pria dan 74% wanita bekerja di UK merasa gelisah, tertekan dan bahkan ada yang mengalami depresi di akhir liburan mereka. Gejala yang marak dalam gaya hidup di abad ke-21 ini dijelaskan oleh Anthony Gleadell, seorang konsultan psikologi di UK, sebagai akibat dari kecenderungan orang untuk menjadikan liburan sebagai saat untuk melepaskan segala ketegangan. Kemudian, tanpa terasa liburan habis dan mereka harus kembali bekerja. Bayangan tentang kembali ke pekerjaan dengan segala permasalahannya menumbuhkan perasaan tertekan.

Sepuluh persen dari para karyawan yang mengalami sindroma tersebut menambahkah satu hari libur lagi. Ini sejalan dengan pendapat Gleadell. Menurut Gleadell, karyawan yang diberi waktu untuk menyesuaikan diri setelah berlibur akan lebih produktif dan ini akan menguntungkan perusahaan. Para pemimpin perusahaan tidak sependapat dengan Gleadell. “Memperpanjang liburan hingga karyawan siap bekerja merupakan langkah riskan. Di masa yang demikian penuh persaingan ini karyawan harus langsung siap bekerja setelah berlibur,” tukas Allan Hogarth dari Confederation of British Industry di Skotlandia. Hogarth pun memperkuat pendapatnya dengan menunjukkan bahwa liburan di UK lebih panjang daripada di Amerika Utara.

Jalan tengah muncul dari Sekjen Trades Union Congress (TUC), Brendan Barber, “Manusiawi jika karyawan sedikit tertekan pada akhir masa liburan, khususnya jika jeda antara liburan panjang sangat lama. TUC mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan tiga hari libur nasional tambahan, salah satunya pada musim gugur.” Pendapat ini tentunya didukung oleh Gleadell yang menganggap bahwa libur satu atau dua minggu per tahun tidak cukup. Sebagian hari libur dipakai untuk mengatur persiapan liburan, keberangkatan dan kepulangan ke dan dari tempat berlibur, sehingga tidak ada cukup hari dalam libur panjang tersebut untuk benar-benar bersantai.

Penelitian oleh Asosiasi Psikologi Amerika Serikat menunjukkan bahwa holiday blues –rasa tertekan pada hari libur– bisa dipicu oleh sejumlah faktor di luar pekerjaan, yaitu kelelahan, target liburan yang terlalu tinggi, godaan iklan konsumtif, dan kekecewaan karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Kesedihan pada tingkat ringan hingga depresi berat muncul dalam gejala sakit kepala, kecanduan minuman keras, makan berlebihan, atau tidak cukup makan, dan sulit tidur.

Bagaimana cara mencegah atau mengurangi holiday blues? Untuk mengurangi tekanan yang berkaitan dengan pekerjaan, menurut saya, cara-cara berikut ini dapat membantu:

  • Sebelum mulai cuti pastikan bahwa kita sudah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang dijadwalkan harus selesai sebelum cuti
  • Pastikan bahwa ada pendelegasian yang jelas kepada staf atau rekan kerja lain agar program kerja tetap berjalan meskipun kita cuti
  • Bayangkanlah betapa besar andil pekerjaan kita terhadap kelangsungan hidup kita. Seandainya tiba-tiba kita terancam kehilangan pekerjaan, tentu kita akan lebih memilih untuk bekerja mati-matian asalkan tidak kehilangan pekerjaan.
  • Pikirkanlah bahwa liburan baru akan terasa nikmat jika sudah didahului oleh kerja keras. Jika kita hanya bersantai sepanjang tahun, bukan tidak mungkin kita akan merasa bosan dan tidak menemukan kenikmatan dalam masa santai yang panjang itu.
  • Cukup tidur di Minggu malam akan membantu kita untuk lebih bersemangat di Senin pagi. Kadang-kadang kita begitu antusias dengan kegiatan-kegiatan akhir minggu dan baru tidur menjelang Sabtu pagi dan Minggu pagi. Pada hari Minggu malam kita masih segar dan baru pergi tidur setelah larut malam. Akibatnya, pada hari Senin kita bangun dengan perasaan berat dan malas bekerja.
  • Sarapan akan membantu konsentrasi dan suasana hati kita tetap terjaga.

Dalam kaitan dengan penyebab holiday blues di luar pekerjaan, Centers for Disease Control and Prevention, the American Psychological Association, the National Mental Health Association, and the Mental Health Association of Colorado menyarankan hal-hal berikut ini:

  • Tetapkan target yang realistis untuk liburan Anda. Sebaiknya Anda tidak menetapkan liburan sebagai masa penyembuhan luka masa lalu. Liburan tidak berarti Anda akan terbebas dari kesedihan maupun rasa kesepian.
  • Liburan tidak harus menjadi saat untuk berhura-hura, khususnya jika Anda baru saja mengalami kejadian yang cukup mengguncangkan emosi, misalnya kematian anggota keluarga atau putus cinta.
  • Tetapkan batas anggaran liburan Anda dan berusahalah untuk mentaatinya. Liburan tidak harus menjadi saat berbelanja atau berpesta tanpa batas. Carilah kegiatan yang tidak mengharuskan Anda merogoh kocek. Cuci mata di mal sambil menikmati keindahan dekorasi Natal atau Lebaran dapat menjadi hiburan yang murah meriah sekaligus memberikan inspirasi. Tinggal di rumah sambil mengerjakan hobi berkebun, memasak, atau membaca juga merupakan pilihan yang menyenangkan.
     

Semoga dengan langkah-langkah di atas holiday blues tidak lagi membayangi liburan kita.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>