Our School

Alam Bahasa Indonesia

Tukar Isteri dan Salam

TUKAR ISTERI DAN SALAM…… Ternyata, kirim salam di Papua bukan hal sederhana. Namun, tukar isteri bukanlah hal yang tidak mungkin.

MAU IKUT “TUKAR ISTERI?”

Judul di atas tampaknya terlalu vulgar atau negatif untuk masyarakat Indonesia pada umumnya, tetapi tidak demikian untuk masyarakat suku Asmat di Papua. Berikut ini ada sedikit informasi dari penulis yang tinggal di Papua selama hampir 20 tahun tentang budaya Asmat itu. Di samping itu, ada juga dua hal budaya yang cukup menarik untuk diketahui, yaitu bahwa babi lebih bernilai daripada wanita di suku Dani, dan bahwa salam identik dengan cinta atau suka.

Upacara ritual “tukar isteri” ini bernama papijs. Ritual papijs bisa dilakukan secara pribadi atau massal. Ritual papijs dilakukan oleh minimal dua keluarga. Ritual ini bertujuan mendekatkan hubungan persahabatan antara kedua keluarga itu. Caranya cukup sederhana. Pertama, kedua suami dari kedua keluarga berdiskusi tentang rencana ritual papijs. Sesudah itu, keduanya menyampaikan hal ini kepada isteri masing-masing. Bagaimana kalau sang isteri menolak papijs? Sang suami bisa sangat marah, bahkan melakukan tindakan kekerasan kepada isterinya itu.

Sesudah istri-isteri mereka setuju, hari berikutnya mereka bertemu, minum -minum sambil makan-makan sampai malam. Di malam itu kedua suami itu melakukan hubungan seks dengan isteri sahabatnya. Paginya, para suami itu memberikan “hadiah” baju kepada partner papijsnya malam itu. Lalu, para isteri menyediakan makan pagi sebagai simbol terima kasih atas hadiah itu. Sesudah itu, para isteripun kembali kepada suami asli masing-masing.

Dilihat dari sudut pandang agama, aktivitas ini mungkin sangat dilarang! Tetapi, secara hukum adat di daerah tertentu, hal ini sah-sah saja. Dan, mungkin inilah yang membuat Papua menjadi daerah dengan angka HIV/AIDS terbesar di Indonesia.

BABI LEBIH BERNILAI DARI WANITA ?

Di suku Dani, pegunungan Jayawijaya, babi lebih bernilai daripada seorang seorang isteri atau wanita. Bagi suku ini, babi adalah binatang yang sakral. babi lebih sakral daripada binatang-binatang yang lainnya, bahkan lebih sakral daripada wanita. Informasi ini didapatkan oleh penulis ketika berlibur di Pegunungan Jayawijaya pada tahun 1988. Dengan naik helikopter, penulis dan beberapa teman tiba di satu desa. Kami mengunjungi seorang kepala adat di desa itu. Di perjalanan ada pemandangan yang menurut kami cukup aneh. Seorang ibu sedang menggendong seekor anak babi sambil menyusuinya, sedangkan anak perempuannya (kira-kira 3 tahun) dibiarkannya berlari-lari di dekatnya. Kami tidak berbincang-bincang dengannya karena memang tidak mengerti bahasa mereka. Ada kejadian lain yang cukup unik juga; seekor babi diperbolehkan tidur di dalam ‘honay’ sedangkan seorang wanita atau isteri tidak diperbolehkan. Seekor babi juga diperbolehkan mandi di tempat khusus pemandian sedangkan tempat ini tidak lazim untuk kaum isteri atau wanita. Kejadian-kejadian ini membuat penulis berkesimpulan bahwa nilai seekor babi lebih tinggi daripada seorang isteri atau wanita.

HATI-HATI DENGAN “SALAM”!

Ketika di SMA, saya mendapat salam dari seorang teman laki-laki. ” Ita, ada salam dari Jemmy” kata seorang teman lain. Rasanya jantung ini langsung berdebar-debar dan badan berkeringat dingin. Sungguh bahagia mendapat salam dari dia karena saya kebetulan juga menyukai dia. Mengapa saya begitu berbahagia hanya karena mendapat salam dari teman laki-laki saya itu? Karena, di daerah Papua, salam tidak bisa sembarangan diberikan kepada semua orang. Kalau kita memberikan salam kepada seseorang, itu berarti kita cinta atau suka kepada orang itu.

Hal ini mungkin berbeda dengan di Jawa, orang bisa sembarangan berkirim salam kepada siapa saja karena salam tidak punya arti cinta atau suka. Salam hanya untuk persahabatan. Pada tahun 1988, saya pindah ke Yogya. Suatu hari saya mendapat salam dari teman sekampus. Jantung saya langsung berdebar-debar dan saya tidak bisa tidur. Saya berpikir bahwa dia cinta kepada saya. Ketika saya bertemu dengan dia, saya merasa aneh. Saya melihat dia biasa-biasa saja terhadap saya. Dari kejadian tersebut saya sadar bahwa saat itu saya tinggal di Yogya. Yogya bukan Papua. Kalau saya ingat kejadian itu, geli rasanya.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>