|
||||||
Becak oh! BecakBECAK..OH BECAK… Anda pernah naik becak dan merasa terkesan, atau sebaliknya, kesal? Ada baiknya Anda menyimak artikel ini untuk lebih menyelami cara pandang penumpang dan tukang becak.
Becak sebagai sarana transportasi yang berbau unik sering menjadi pilihan bagi turis asing alias wisman bila mereka berkunjung ke Yogya. Selain murah, becak yang bertenaga manusia ditanggung bebas polusi. Mata penumpang serasa dimanjakan, bebas memandang kehidupan Yogya yang berhati nyaman ( Moto Yogya : bersih, sehat, indah dan nyaman ). Tukang becaknya pun ramah-ramah siap membantu penumpangnya. Bahkan, ada turis asing yang berteman dekat dengan tukang becak. Kalau ke Yogya si turis akan mencari tukang becak langganannya. Kalau beruntung, si tukang becak bisa menjadi turis di mancanegara atas kebaikan si “bule” jalan-jalan ke negara asal si bule. Namun, sering juga ada turis yang enggan naik becak karena mereka merasa memperkuda tukang becak. Bagi si tukang becak, bule dipandang sebagai sumber penghasilan. Lima ribu atau sepuluh rupiah tidaklah seberapa bagi turis asing namun sangat berarti bagi si tukang becak. Dengan uang segitu banyak mereka bisa membeli nasi sayur plus ayam goreng. Bisa juga untuk makan nasi dan ikan asin bersama anak istrinya, atau untuk membeli obat dan pisang satu atau dua buah untuk ibunya yang sedang tergolek sakit. Syukur-syukur, bisa untuk membiayai anaknya sekolah. Karena itu, ketika ada turis yang mau naik becaknya langsung saja disabetnya, tidak peduli saat panas terik ataupun hujan petir. Meskipun tempat yang dituju penumpangnya terasa asing di telinga mereka, bahkan belum pernah mereka dengar, itu bukan masalah. Apalagi tukang becak di Yogya seabreg. Kalau mereka tidak gesit, wah bakalan perut kosong seharian. Bisa-bisa dimarahin istrinya karena pulang tanpa rupiah di tangan. Akibatnya, banyak tukang becak yang cepat-cepat “mengiyakan” atau menyetujui tawaran si calon penumpang sekalipun jalan yang menjadi tujuan belum jelas untuknya. Laura, seorang sukarelawan asing, adalah salah seorang yang pernah mengalami hal tersebut di atas. Sesudah puas berjalan-jalan di Malioboro, Laura ingin pulang naik becak ke kostnya di Demangan Baru. Di seberang Malioboro Mall dia dipanggil , “Mari-mari, Mister-mister” oleh tukang becak dan ditawari untuk naik becaknya. Sesudah Laura menjelaskan tujuannya, mereka tawar-menawar, disepakati ongkosnya Rp 10.000,00. Aneh bin ajaib, belum 10 menit becak berjalan dan baru sampai di perempatan Hotel Melia Purosani (tepat di belakang Jalan Malioboro) , si tukang becak turun dan bertanya kepada orang-orang di pinggir jalan, ” Mas, Mbak, Pak, tahu Demangan Baru? ” Oo¡ Laura baru menyadari bahwa si tukang becak belum tahu letak Demangan Baru. Segera saja tanda tanya besar memenuhi kepala Laura dan kejengkelan berhembus kuat di dadanya. Bagaimana mungkin ngantar orang tanpa tahu tempatnya? Kok bisa mereka menentukan ongkosnya padahal mereka belum tahu jaraknya? Emangnya sulapan ala David Copperfield. Kok enggak malu ketahuan penumpangnya, bahwa dia tidak tahu arah tujuan. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Itu kata pepatah. Artinya, ada perbedaan antara orang tukang becak dan penumpangnya dalam melihat satu persoalan. Tidak tahu dengan pasti tempat tujuan turis itu bukan hal yang memalukan untuk tukang becak. Toh, di tengah jalan dia bisa dengan mudah bertanya kepada orang lain dan menemukan jawabannya. Yang penting, si turis sampai di tujuan dengan selamat. Akan tetapi, bagi turis asing hal itu sangat tidak profesional dan tidak rasional. Dalam pikiran turis, ketika si tukang becak bilang, ” Ya , mari, mari, ¡ ” itu artinya mereka sudah pasti tahu tempatnya. Yang dilakukan si tukang becak tersebut hanyalah usaha untuk mempertahankan hidup. Di zaman susah seperti sekarang ini, usaha apa pun akan dilakukan oleh orang Indonesia. Lebih-lebih untuk masyarakat kebanyakan yang mencari makan untuk hari ini dan terpaksa menghabiskannya pada hari ini juga. Besok tidak ada uang itu masalah besok. Yang penting, hari ini perut kenyang, hati i pun senang. Semoga dengan tulisan ini keheranan dan kejengkelan turis asing sedikit terhapus. Meskipun demikian, bukan berarti si tukang becak boleh buta peta Yogya, lebih-lebih setelah banyak turis asing yang memilih Yogya ketimbang Bali karena takut terkena bom. Tukang becak harus sigap menghadapi perubahan situasi kalau tidak mau ketinggalan kereta. Kebiasaan suka cari yang gampang atau main terobos yang melekat pada mentalitas tukang becak memang sedikit sulit untuk segera dihapuskan karena sudah membudaya di masyarakat kita. Mungkin Dinas Pariwisata Yogya berminat membagikan peta Yogya dengan gratis kepada mereka atau mungkin ini sudah dilakukan? Jika demikian, Yogya pun akan nyaman bagi turis maupun orang asing yang menetap di sini. |
||||||
|
Copyright © 2010 Bulletin Online Alam Bahasa Indonesia - All Rights Reserved |
||||||
Popular Posts