Our School

Alam Bahasa Indonesia

Dvarapala, Riwayatmu Dulu dan Kini…

dvarapala Berjalan-jalan ke monumen peninggalan masa Hindu-Buddha, pertama kali memasuki jalan masuk utama kita akan berjumpa dengan sepasang makhluk berwajah menyeramkan. Itulah dvarapala, arca penjaga bangunan suci.

Di mana pun, dvarapala adalah sosok yang menyeramkan dan tampak ganas. Dua matanya melotot tajam menatap penuh curiga pada setiap orang yang memasuki candi. Taring-taringnya yang runcing, khas milik raksasa, mencuat keluar membuat orang bergidik. Apalagi badannya tinggi besar, bahkan ada yang setinggi 3,70 m seperti yang dijumpai di Candi Singosari, Malang.

dvarapala juga disebut yaksha. Sebelum dewa-dewa Hindu dan Buddha muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha merupakan makhluk gaib yang dipuja oleh orang India sebagai sumber kehidupan karena melindungi pertanian. Setelah pantheon dewa muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha dimasukkan ke dalam golongan setingkat di bawah dewa.

Pada perkembangan berikutnya, yaksha menjadi pendamping Sang Buddha. Makhluk ini menghiasi stupa bersama makhluk lain seperti yang terdapat di stupa Bharhut, India pada abad I Masehi. Di Sanchi, masih di India, yaksha seakan-akan melindungi dan menjaga bangunan suci di Puncak Torana. Tugas yaksha sebagai pelindung itulah yang kemudian berkembang di Indonesia menjadi dvarapala.
dvarapala selalu ditempatkan di depan pintu atau di gerbang menuju candi. Dia memiliki kekuasaan untuk melindungi bangunan suci dari berbagai serangan kekuatan jahat. Selain wajah yang menyeramkan, dvarapala masih dilengkapi dengan berbagai senjata dan atribut lain. Itu memang disengaja untuk menciptakan kesan menakutkan.

Sebagian besar dvarapala memang memegang gada. Alat pemukul itu dianggap sebagai lambang penghancur sekaligus lambang keperkasaan dan kekuasaan. Senjata itu juga dipercaya sebagai tongkat hukuman atau kematian. Atribut lain umumnya adalah ular atau naga. Dua satwa itu perlambang kehidupan air (water spirit) yang dapat mendatangkan hujan.

dvarapala penjaga Candi Plaosan di daerah Prambanan Jawa Tengah menggunakan tali jerat (pasa) berbentuk ular sebagai senjata untuk menjerat dan menangkap musuh khususnya makhluk-makhluk jahat. Senjata andalan lainnya adalah golok atau pisau belati. Untuk menambah kesan gagah dan garang penampilannya, dvarapala diperlengkapi dengan kelat bahu, sabuk, samur, subang, kalung, gelang kaki (binggel), gelang tangan serta ikat kepala untuk mengikat rambut ikalnya. Dari bentuk fisiknya, dvarapala punya sifat destruktif. Namun dalam hubungannya dengan peribadahan, aspek destruktif itu harus dipandang mulia. Dalam hal ini yang dianggap sebagai musuh-musuh jahat dari luar yang harus dihancurkan adalah ajaran-ajaran yang melawan agama.

Tidak semua arca dvarapala yang ditemukan punya wajah yang menyeramkan. Juga tidak semuanya memiliki atribut yang sama. dvarapala dari Jawa Timur lebih bervariasi baik ekspresi maupun penampilannya. Ada yang dalam posisi berdiri maupun jongkok. Ada pula dvarapala perempuan yang menggandeng anaknya. Tentu, meski bayi, penampilannya tetap saja garang.

Penampilan dvarapala yang fisiknya kelihatan sangar tetapi ekspresinya tenang ternyata dilandasi oleh suatu filosofi. Menurut para ahli, dvarapala juga berperan serupa dengan dharmapala atau “Pelindung Dharma” seperti dikenal dalam Buddhisme di Tibet. Sebagaimana dharmapala, meski dvarapala berwujud menyeramkan, namun perannya tidak jahat. Pemahaman itu rupa-rupanya mengilhami para seniman Jawa untuk menggambarkan makhluk ini secara tidak terlalu menakutkan. Perhatikan mulutnya, sering digambarkan ekspresi mulut yang “tersenyum”.

Di lereng selatan Gunung Semeru sepasang dvarapala mungil sudah tidak terpajang lagi di tempatnya. Kini dvarapala itu terpuruk di ruang sempit rumah penduduk. Tugasnya dinyatakan selesai. Nasib malang tidak hanya menimpa dvarapala dari Gunung Semeru. dvarapala-dvarapala lainnya mengalami nasib hampir serupa. dvarapala turun pangkat. Bila dulu mereka menjadi penjaga bangunan suci dan pendamping Buddha, kini dvarapala banyak dipasang di hotel, kantor dan bahkan di rumah mewah pribadi.

Apa pun sebutannya, apakah Thothok Kerot di Jawa Timur atau Reco Gupolo di Prambanan dan sekitarnya, kini tampaknya dvarapala sudah kehilangan makna…

(Disarikan dari Majalah Intisari Edisi November 2000)
foto: dvarapala, vihara di dekat Thuparama dagaba, Srilanka
Sumber:
http://www.slnews.net/html/historicalcities/anuradhapura.htm

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Preview: