Our School

Alam Bahasa Indonesia

Padasan Yang Hampir Terlupakan

Sebelum tahun 1980-an, kalau Anda pergi ke mesjid, musola atau surau di desa-desa di daerah Yogyakarta dengan mudah Anda temukan sebuah benda dari gerabah berbentuk bulat besar berisi air. Warna dasarnya coklat kemerahan atau kehitam-hitaman, tetapi warna ini bisa berbeda-beda, tergantung umurnya. Benda yang berumur tua, cenderung berwarna hijau karena telah diselimuti lumut. Semakin banyak lumut, semakin dingin air di dalamnya. Itulah padasan, tempat penampungan air wudu yang digunakan untuk membersihkan diri oleh orang Muslim sebelum berdoa. Kegiatan membersihkan diri sebelum berdoa sesuai dengan ajaran Islam ini disebut berwudu

Padasan! Barangkali nama ini dalam beberapa waktu lagi akan dilupakan orang. Barangkali pula sekarang para pengrajin padasan semakin tidak tahu akan menjual hasil kerajinannya ke mana. Seiring dengan masuknya listrik ke desa-desa, banyak orang desa menghentikan kebiasaan lama mengambil air sumur dengan timba. Sekarang mereka lebih suka menggunakan pompa air listrik yang lebih praktis dan bisa memompa air dari sumur dalam jumlah besar dengan cepat. Sejalan dengan perubahan teknologi ini, padasan yang tadinya digunakan untuk menampung persediaan air wudu dari sumur dalam jumlah terbatas atau kecil, tidak lagi diperlukan. Akibatnya, kerajinan yang satu ini semakin kurang diminati. Daya tampungnya yang tidak banyak membuat orang lebih suka menggunakan bak penampungan air yang diberi kran. Dengan sedikit memutar kran, air akan mengucur deras. Orang tidak perlu lagi bersusah-susah menimba air sumur berulang kali untuk mengisi padasan sebagai tempat persediaan air wudu.

Padasan dibuat dari tanah liat. Bentuknya bulat, di bagian atas ada lubang besar untuk memasukkan air. Lubang bagian atas ini berdiameter sekitar 20 Cm dan besarnya sama dengan bagian dasar yang datar untuk dudukan. Bagian tengah merupakan lengkung yang paling besar, diameternya kurang-lebih 50 Cm. Di bagian bawah dekat dudukan terdapat sebuah lubang kecil tempat air keluar. Bila tidak diperlukan lubang kecil ini ditutup dengan sepotong kayu atau karet bekas sandal jepit sebagai sumbatnya. Kalau mau wudu, orang cukup mencabut sumbat itu dan air dingin segera mengucur keluar.

Untuk orang Muslim, air wudu harus bersih dan tidak boleh tersentuh badan. Karena itu ketika orang menimba air untuk mengisi padasan, orang harus berusaha agar air dari sumur tidak tersentuh tangan. Untuk menjaga air dari kotoran, biasanya lubang besar bagian atas padasan ditutup dengan cobek yaitu benda gerabah untuk membuat sambal yang bentuknya menyerupai mangkuk lebar.

Untuk membuat padasan diperlukan tanah liat, yaitu tanah khusus yang tidak terdapat di sembarang tempat. Secara tradisional, tanah liat yang sudah dibersihkan dari kerikil atau batu-batu ini dibuat lebih liat dan halus dengan cara diinjak-injak bersama pasir halus. Tanah yang sudah diolah selanjutnya dibentuk menjadi padasan atau produk kerajinan lain dengan alat yang bisa diputar (pengrajin biasanya menyebut puteran). Sesudah terbentuk, bagian dalam dan luarnya dipoles dengan tanah merah yang sudah dicampur dengan air. Selanjutnya, padasan mentah yang baru jadi dijemur supaya kering. Padasan mentah yang sudah dikreingkan ini siap dibakar dengan kayu, jerami, atau daun tebu kering di dalam tungku khusus.

Pemasarannya biasanya melalui pedagang perantara yang membeli benda-benda keramik dari pengrajin untuk dijual kembali. Bersama benda lain seperti cobek, tungku api, pot bunga, padasan dijual memakai sepeda atau digendong. Harga padasan juga bervariasi, tergantung besar kecilnya ukuran dan telah berapa jauh dagangan itu ditawarkan. Biasanya semakin jauh dagangan itu dijajakan, harganya pun akan semakin mahal.

Menurut seorang pengrajin dari Desa Semampir, Kalurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pemasaran padasan sekarang sudah sulit. Dibandingkan dengan benda-benda keramik yang lain, padasan lebih sulit terjual. Kadang-kadang pengrajin punya banyak stok menumpuk karena permintaan pasar sedikit.

Pada saat ini, padasan hanya dimiliki oleh orang-orang Muslim di desa yang tidak punya pompa air listrik di sumur-sumur mereka. Mesjid dan musola di desa pun kebanyakan tidak memanfaatkan padasan lagi sebagai tempat penampungan air wudu. Padasan sudah diganti dengan bak penampungan air yang bentuknya memanjang. Pada sisi memanjang itu terpasang beberapa kran yang dengan mudah akan mengalirkan air.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Preview: