Gus Dur
Upaya sejumlah kalangan Indonesia untuk menggusur K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi kepresidenan pada waktu itu merupakan berita menarik, bahkan di dusun-dusun yang kecil. Di kampung Benang, Manggarai, Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur, misalnya, penduduk justru gembira bila Gus Dur digusur.
Mengapa? Ternyata mereka bingung untuk membedakan antara Gus Dur dan Abdurrahman Wahid. Menurut pemahanan mereka selama ini Indonesia dipimpin oleh 2 presiden yang berbeda yakni Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Gus Dur. Mereka lebih senang bila Indonesia dipimpin oleh Presiden Abdurrahman Wahid daripada “Presiden Gus Dur”.
Bagi penduduk kampung Benang, nama Abdurrahman Wahid sudah tidak asing lagi. Mereka mengenalnya sejak dia menjadi ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama). Sementara itu, nama Gus Dur mereka kenal baru setahun terakhir, sejak Abdurrahman Wahid menjadi Presiden.
Pemahaman itu muncul karena tradisi pemberian nama di NTT agak berbeda dengan di Jawa. Di NTT orang bernama Abdurrahman Wahid akan dipanggil Abdur atau Rahman. Nama belakang “Wahid” tidak boleh menjadi nama panggilan.
Khusus tentang panggilan Gus Dur, nama panggilan memang terasa aneh bagi masyarakat NTT (Manggarai). Gus artinya usir, Dur artinya tolak. Gus Dur artinya diusir dan ditolak. Inilah alasan mengapa mereka tidak keberatan Gus Dur digusur. Mereka lebih mencintai Presiden Abdurrahman Wahid daripada Presiden Gus Dur.
Disederhanakan dari Intisari, April 2001.

