Hari Gini Gak Punya Handphone?!?
Itu adalah bunyi dalam salah satu tayangan iklan di televisi. Ungkapan itu juga akan dilontarkan oleh orang-orang di sekitar kita dengan maksud menyindir siapa saja yang sampai hari gini belum punya HP.
Coba tengok ke belakang, kita telusuri kembali awal mula keberadaan HP. Waktu itu orang yang akan berkomunikasi jarak jauh secara langsung hanya bisa melalui telepon rumah atau wartel (warung telekomunikasi). Ketika orang yang kita tuju tidak ada di rumah, berarti kita harus meninggalkan pesan atau harus menelepon lagi. Itu berarti informasi yang akan kita sampaikan tidak segera tersampaikan. Belum lagi kalau orang yang kita titipi pesan lupa menyampaikannya. Padahal informasi itu mungkin sangat penting. Dari situasi ini kita bisa melihat bahwa orang membutuhkan sarana komunikasi yang cepat dan tepat. Artinya, dengan sarana komunikasi yang memadai kita bisa menyampaikan informasi secara cepat dan diterima oleh orang yang tepat.
Dari adanya kebutuhan itu diciptakanlah hand phone atau telepon genggam yang biasa disingkat HP. Dengan HP informasi atau pesan yang akan disampaikan dapat segera dikirim dan diterima oleh orang yang dituju. Pada awalnya HP hanya dimiliki oleh orang-orang yang berduit saja karena harganya masih selangit. Tapi lama kelamaan dengan berkembangnya teknologi, HP pun mengalami perkembangan. Dari yang sekedar untuk menelepon saja akhirnya bisa juga untuk bersms atau bahkan berinternet. Dan harganya pun semakin lama semakin terjangkau. Dengan demikian tidak hanya orang-orang dari golongan mampu saja yang bisa memiliki HP, orang-orang dari golongan menengah ke bawah pun dengan mudah bisa memilikinya.
Dengan memiliki HP orang serasa semakin mudah dan cepat dalam melakukan apa saja. Ambil contoh ketika kita akan melakukan transaksi perbankan, kita tidak harus pergi ke bank tapi cukup melakukan transaksi lewat HP, hanya dengan memasukkan PIN dan nomor rekening tertentu yang dituju. Bahkan bagi para mahasiswa yang ingin mengetahui nilai ujiannya pun tidak perlu repot-repot mendatangi kampus tapi cukup mengirimkan SMS ke nomor tertentu dan jawabannya pun sudah bisa didapatkan dalam hitungan detik.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kemajuan tersebut bisa dirasakan bukan hanya oleh golongan tertentu saja tetapi juga memberikan dampak atau pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Kalau dulu sebelum ada HP, orang harus meluangkan waktu khusus untuk saling berkunjung guna mengucapkan selamat ulang tahun atau memberi ucapan selamat pada hari raya keagamaan, sekarang orang cukup mengucapkannya lewat SMS atau mengirim MMS. Kalau dulu orang-orang di desa biasa mendengarkan siaran radio secara bersama-sama dengan tetangganya, sekarang mereka bisa menikmatinya sendiri di rumah karena ada fasilitas radio di HP mereka.
Kondisi ini tak lepas dari apa yang oleh Castells 1989, Sassen 1991, Portes & Stepick 1993 yang dikutip oleh Gereffi dalam The Handbook of Economic Sociology yang berjudul The International Economy & Economy Development disebut sebagai revolusi teknologi informasi. Di sana dikatakan Revolusi di dalam teknologi informasi sangat mendasari reorganisasi ekonomi dan sosial yang terjadi di kota-kota besar, negara-negara dan blok-blok regional di dalam ekonomi global. Dengan adanya revolusi teknologi informasi hampir semua dapat diraih dalam “genggaman tangan”. Situasi ini sungguh memudahkan hidup orang. Oleh karena itu orang yang tidak punya atau belum punya HP di jaman sekarang ini dianggap “gap – tek” alias gagap teknologi atau ketinggalan jaman. Kalau kita perhatikan misalnya, di jalan-jalan, di rumah makan, di stasiun atau di mana saja hampir semua orang punya HP dan mereka pun sibuk dengan HP mereka, entah sedang menelepon, ber-sms atau memainkan game. Orang-orang yang memiliki HP tidak hanya terbatas pada kalangan orang tua atau anak muda, anak-anak sekolah dasar pun ikut memiliki HP. Tentu saja hal ini tak lepas dari orang tua yang tidak mau anaknya disebut “gap – tek” dan ketinggalan jaman atau memang orang tua mau memantau keberadaan anaknya melalui HP. Situasi seperti ini mengakibatkan pengeluaran para orang tua bertambah, sebab harus membelikan pulsa HP anak-anaknya.
Kalau dulu, kira-kira 15 tahun yang lalu, kebutuhan para pelajar atau mahasiswa hanya untuk membayar uang sekolah atau SPP, makan, transportasi serta kos, sekarang orang tua juga harus memberi uang ekstra untuk membeli pulsa.
Oleh karena dianggap sudah merupakan sebuah gaya hidup, mau tidak mau orang yang belum punya HP akan dikategorikan sebagai orang yang tidak bisa mengikuti jaman. Sebetulnya hal ini cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak ? Fungsi HP yang sebenarnya alat komunikasi biasa lama kelamaan beralih fungsi menjadi sebuah “alat” simbolis dari kemajuan atau gaya hidup modern yang harus dimiliki orang di jaman sekarang.
Akhirnya HP tidak hanya dimiliki oleh orang yang berduit saja. Tukang becak, tukang bangunan bahkan para pengangguran pun tidak ketinggalan memiliki HP. Kalau kita biasa memanggil taksi melalui telepon, Kini, para tukang becak pun tak ketinggalan menerima panggilan melalui HP. Dengan demikian para tukang becak itu tidak harus mangkal di jalan-jalan menunggu penumpang, tapi mereka bisa melakukan pekerjaan yang lain, misalnya membuka warung di rumah atau menjadi buruh membersihkan rumah, seperti yang dilakukan oleh Pak Paijan, tukang becak yang dulunya sering mangkal di daerah Sapen Jogja. Menurutnya, waktu dia tidak terbuang sia-sia hanya untuk menunggu penumpang yang tak tentu kapan datangnya.
Situasi ini tentu saja merupakan peluang bisnis yang sangat menguntungkan bagi para pedagang HP. Situasi ini juga yang mendorong orang untuk membuka konter atau toko HP karena konsumennya tidak sebatas pada kalangan orang yang berduit tebal saja. Para pedagang ini kelihatannya siap untuk saling bersaing. Hal ini terbukti dengan menjamurnya toko-toko dan konter HP yang letaknya berderet-deret dan saling berdekatan. Kita bisa melihatnya di sepanjang Jalan Gejayan, yang merupakan salah satu jalan utama di Jogjakarta.
Tak hanya itu, di Jogja pun banyak didirikan pusat perdagangan HP antara lain di Gedung Hartono bekas gedung BDNI di Jalan Sudirman, Borobudur Plaza di Jalan Magelang dan di Toko Ramai lantai IV di Jalan Malioboro. Para pedagang di tempat-tempat ini menawarkan HP dengan berbagai merek dan harga. Bahkan Toko Buku “Tiga Serangkai” yang berlokasi di pojok barat perempatan ring road jalan Gejayan pun mengalihfungsikan salah satu lantainya menjadi sentra HP.
Demikian juga halnya dengan para pedagang pulsa. Mereka menjadi kepanjangan tangan para provider yang berusaha menjangkau kalangan menengah ke bawah dengan menyediakan harga pulsa yang murah dan masih ditambah berbagai bonus. Mereka berjualan pulsa mulai dari kaki lima di pinggir jalan dengan hanya memakai lemari kaca kecil yang dinaungi payung sampai menyewa konter- konter berkelas yang ber-AC.
Pusat perdagangan HP bekas juga marak terlihat di sepanjang Jalan Mangkubumi Jogja. Situasi malam hari di sepanjang jalan ini berubah menjadi semacam pasar malam. Orang yang tidak berkantong tebal bisa mencari HP dengan model dan fasilitas yang bermacam-macam di tempat ini. Tak hanya itu para konsumen juga dibuat tergiur oleh berbagai macam aksesoris yang bisa mempercantik penampilan HP. Warna dan desain aksesoris HP yang menawan selalu berganti dari waktu ke waktu. Para konsumen dibuat ketagihan untuk selalu bisa mengikuti tren atau model aksesoris yang terbaru. Selain itu para konsumen juga ditawari berbagai fasilitas yang membuat pemakainya merasa semakin “nyaman” ber-HP.
Sekarang keadaan demikianlah yang banyak kita lihat di sepanjang jalan-jalan kota Jogjakarta. Orang-orang terlihat lebih banyak mendatangi konter-konter HP daripada mengunjungi toko buku. Kebanyakan kios dan ruko ataupun rumah toko yang disewakan habis disewa untuk berdagang HP. Para pedagang HP bisa dijumpai mulai dari sepanjang jalan-jalan utama sampai jalan-jalan kecil di pinggir kota. Bahkan di dalam lingkungan perumahan pun kita bisa menjumpai pedagang HP maupun pulsa.
Akhirnya para pelajar dan mahasiswa lebih mementingkan membeli pulsa daripada membayar SPP atau foto kopi diktat kuliah. Sebagaimana disampaikan Intan (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi semester akhir sebuah universitas swasta di Jogjakarta yang mengaku lebih mendahulukan membeli pulsa daripada membayar foto kopi diktat kuliah dari dosennya. Pilihan ini diambilnya supaya tidak diejek teman-temannya karena kehabisan pulsa. Toh, untuk urusan diktat kuliah dia bisa meminjamnya dari teman atau kakak kelas. Tapi kalau pilihannya di antara harus beli pulsa atau membayar uang semesteran, tentu saja dia pilih membayar uang kuliahnya karena tidak mau dimarahi oleh orang tuanya.
Apakah situasi ini membuat sebutan Jogja sebagai kota pelajar pantas diganti dengan sebutan Jogja sebagai kota HP yang bersemboyan ”Hari gini nggak punya handphone?!?” “Enggak lah yauw!!”

