Our School

Alam Bahasa Indonesia

Sekaten : Masihkah Kini Menjadi Pesta Rakyat?

Anda tahu Sekaten ? Sekaten adalah salah satu perayaan tradisional bernuansa Islam yang diselenggarakan setiap tahun di alun-alun kraton Jogja dan Solo. Keramaian yang berupa pasar malam ini selalu diadakan pada bulan Maulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bila diperhitungkan menurut kalender Masehi Sekaten jatuh pada tanggal dan bulan yang berbeda dari tahun ke tahun. Misalnya, Sekaten tahun 2004 jatuh pada bulan Maret, sementara pada tahun 2005 bisa saja jatuh pada bulan April, demikian seterusnya. Biasanya orang akan berbondong-bondong pergi ke Sekaten untuk mencari hiburan di stan-stan permainan dan tontonan atau untuk berbelanja, karena ada bermacam-macam barang yang ditawarkan dengan harga murah.

Tahun 1979 adalah tahun pertama saya mengunjungi Sekaten. Pada saat itu harga tiket masih sangat murah bahkan untuk orang yang tidak bekerja sekalipun. Di sepanjang jalan masuk menuju arena Sekaten ada banyak penjual mainan tradisional, suvenir sederhana, makanan tradisional dan lain-lain. Situasinya terkesan apa adanya, tidak tertata rapi seperti perayaan Sekaten akhir-akhir ini. Tarif parkir kendaraan pun tidak ada. Arena Sekaten pada saat itu belum sepadat dan seramai saat ini. Jalan-jalan menuju arena masih teduh karena banyaknya pohon-pohon besar yang rindang dan belum banyaknya bangunan pertokoan. Saya bersama teman-teman cukup berjalan kaki dari rumah di Jl. Lempuyangan sampai alun-alun utara tempat Sekaten diadakan. Kami masih bisa bebas berjalan kaki sambil bercanda karena belum banyak kendaraan lalu-lalang seperti saat ini.

Beberapa tahun kemudian atau sekitar tahun 80-an, perayaan Sekaten menjadi sangat populer karena adanya tobong musik dangdut yang menghebohkan. Banyak orang membicarakan pertunjukan dangdut itu. Biasanya mayoritas penonton pertunjukan dangdut itu kaum laki-laki. Semakin malam jumlah penonton semakin berjubel. Mereka ingin menyaksikan penyanyi dangdut yang aduhai. Menurut kaum laki-laki yang sudah menontonnya, penyanyi dangdut di Sekaten sangat berani, baik dari cara berpakaiannya yang menggoda maupun goyangannya yang cenderung erotis. Namun, menjelang tahun 1990, hiburan itu tampaknya mulai dilarang hadir di Sekaten oleh Pemda Propinsi DIY. Ada kabar pertunjukan dangdut tidak diperbolehkan lagi karena dipandang sangat vulgar dan menyimpang dari makna Sekaten yang sebenarnya agamis.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1999, saya mulai melihat ada perubahan dalam perayaan Sekaten baik dari segi penataan, pengelolaan, barang yang diperjualbelikan, maupun jasa yang ditawarkan. Hal-hal yang baru pada waktu itu adalah adanya stan-stan yang menawarkan rumah-rumah hasil karya para developer, paket-paket liburan ke luar kota, barang-barang elektronik yang bervariasi, sarana-sarana komunikasi, sampai bermacam-macamnya sarana permainan anak, tenda -tenda fast food dan lain sebagainya. Orang-orang yang berdatangan pun banyak yang bermotor maupun bermobil. Arena Sekaten tampak berdebu dan kotor, meskipun sudah ada penataan dari pihak penyelenggara. Tarif parkir pun bervariasi tergantung pihak pengelola.

Sejak tahun 2000 saya melihat ada perubahan yang fantastis baik dari segi pengelolaan, barang dan jasa yang ditawarkan maupun harga tiket serta tarif parkir yang mengejutkan ( tiga kali ongkos parkir normal ). Ada ruang-ruang stan ber-AC. Berbagai macam kendaraan dari motor hingga mobil dan rumah ditawarkan di sana. Meskipun sudah membayar ongkos tiket masuk yang cukup mahal, masih ada lagi tiket-tiket susulan yang harus dibeli agar bisa masuk di stan-stan tertentu. Ada lagi tukang-tukang parkir liar yang menarik tarif parkir semaunya.

Sekalipun sekarang orang harus mengeluarkan uang lebih banyak di Sekaten, tetap saja pasar malam ini tidak pernah sepi pengunjung. Ini menunjukkan bahwa Sekaten punya daya tarik tersendiri baik bagi wisatawan dari luar Yogya, maupun bagi penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri. Bila ditanyakan kepada orang Yogya “Tahukah Anda perayaan Sekaten?”, bisa dipastikan hampir semua menjawab , “Ya”. Tetapi, apakah itu berarti bahwa semua orang Yogya memahami makna Sekaten yang sebenarnya? Jawabnya, “ Belum tentu!”

Apa sebenarnya arti kata Sekaten ? Menurut Arwan Tuti Artha dalam bukunya yang berjudul “Yogyakarta Tempo Doeloe”, kata Sekaten berasal dari bahasa Arab Syahadatain yang mengandung 2 makna kalimat. Pertama, bersaksi bahwa tak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah. Kedua, bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Karena “kepintaran” lidah orang Jawa akhirnya kata itu menjadi Sekaten.

Bagaimana Sekaten itu awalnya dilakukan ? Pada dasarnya Sekaten mempunyai 2 makna. Pertama, sebagai peristiwa budaya dalam arti luas. Kedua, sebagai peristiwa pariwisata dalam arti sempit. Sebagai peristiwa budaya, Sekaten merupakan kegiatan budaya sekaligus religius yang sudah berumur ratusan tahun. Pada awalnya Sunan Kalijaga ( salah satu penyebar agama Islam di Jawa ) mengumpulkan masyarakat dengan membunyikan gamelan yang ditaruh di halaman mesjid Besar. Setelah masyarakat berduyun-duyun menontonnya, Sunan Kalijaga berdakwah untuk mengemukakan keutamaan ajaran agama Islam.

Peristiwa ini kemudian menjadi tradisi tahunan, sehingga sampai sekarangpun orang berduyun-duyun datang ketika gamelan mulai dikeluarkan sampai pada puncak kegiatan ketika gunungan keluar untuk diperebutkan. Banyak orang percaya bahwa gunungan itu mengandung berkah sehingga layak untuk diperebutkan.

Sebagai orang Yogya, saya sangat merasakan perubahan Sekaten. Mengapa Sekaten berubah? Ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain :
 

  • Perubahan jaman
    Hidup di jaman modern seperti saat ini, orang cenderung berpikir ke arah materialistik dan kapitalistik daripada esensi budaya maupun religi. Kemajuan jaman tidak bisa dipisahkan dari kemajuan teknologi. Hal ini bisa terlihat dari canggihnya barang-barang yang diperjualbelikan. Ini juga mendongkrak harga tiket, retribusi, dan harga-harga produk lainnya. Akibatnya, tidak semua orang bisa menikmati hiburan dari perayaaan yang dulu lebih dikenal sebagai pesta rakyat itu. Khususnya bagi rakyat kecil ( rakyat yang kurang mampu ) hal ini memberatkan sekali. Dari sini, kita juga bisa melihat adanya pergeseran nilai kehidupan dari masa ke masa.
     
  • Majemuknya pandangan hidup masyarakat serta pola pikir modern
    Ini merupakan penyebab utama berkurangnya kuantitas nilai kesakralan Sekaten. Bisa kita lihat bahwa tidak semua orang yang berkunjung ke Sekaten beragama Islam, tidak semua orang Islam adalah orang Jawa dan tidak semua orang Jawa percaya atau menganggap pergi ke tempat itu sebagai tempat untuk mendapat berkah. Hal-hal seperti ini yang membuat kesakralan Sekaten berkurang.
     
  • Faktor ekonomi
    Faktor ini demikian kuatnya sehingga mengalahkan aspek budaya-sosial-tradisi dan religi. Orang berlomba-lomba mencari keuntungan sebanyak-banyaknya baik dari pemilik modal, penyelenggara, maupun penjual jasa. Misalnya, harga tiket masuk pameran Rp 4.000, tiket masuk ke pameran kraton Rp 3.000, tiket pameran lain berkisar antaraRp 2000, tarif parkir motor Rp 2.000 ( normal Rp 500 ), belum lagi tiket-tiket titipan lainnya.

Hal-hal di atas barulah sebagian faktor yang menyebabkan adanya perubahan pada perayaan Sekaten saat ini. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi Pemda I Prop. DIY dan instansi terkait lainnya agar Sekaten-Sekaten yang akan datang, apabila pengelolaannya masih diserahkan ke pihak swasta, dipertimbangkan lagi dengan bijaksana. Dengan demikian, esensi Sekaten yang sesungguhnya tidak tenggelam dan Sekaten betul-betul bisa menjadi pesta rakyat khususnya rakyat kecil. Semoga !!!
 

3 comments to Sekaten : Masihkah Kini Menjadi Pesta Rakyat?

  • JamesD

    Thanks for the useful info. It’s so interesting

    Reply

  • wong jogja

    kalau mau sakaral seperti yang anda pikir, usul saja sama pemkot.. : sekaten khusus untuk orang islam

    Reply

  • huhuuh lepas kawen ko gi laa hanimun kat sabah sis.. best wooo.. sriees.. tak yah gi luar negara.. for the time being jgn gi luar negara laaa.. heheheh.. kalau ade duit lebih gi sipadan laa.. worth it.. kalau takde bajet sgt gi Redang pun dah best dah… uhuhuh hepi holidezz

    Reply

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>