Our School

Alam Bahasa Indonesia

Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta

Pada tanggal 28 Mei 2002, Sri Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putri sulungnya, GKR Pembayun. Acara pernikahan tersebut diselenggarakan sesuai dengan adat dan prosedur keraton yang telah dipegang selama berabad-abad.

photo: Femina
keraton keraton

Sebetulnya, prosesi pernikahan itu diawali sejak sehari sebelumnya dengan acara Siraman Putri. Dalam acara Siraman Putri ini, yang diizinkan masuk hanyalah para gusti putri atau bendara putri. Acara Siraman Putri ini diakhiri dengan pengangkatan kendhi oleh GKR Hemas, ibu dari pengantin putri, sambil mengucapkan doa. Kendhi yang berisi air dari tujuh mata air tersebut dihiasi dengan bunga melati. Sesudah diangkat, kendhi itu kemudian dipecah.

Setelah siraman, ada upacara potong rambut dan ngerik. Sesudah itu, dengan selembar kain putih, GKR Hemas menutup kepala GKR Pembayun dan kemudian ngratus rambut putri sulungnya.

Sementara itu, di Ksatriyan para abdidalem memasang tawuhan komplit, yang terdiri dari bermacam-macam hasil panen orang. Tawuhan dipasang di Regol Ksatriyan dan juga di pintu Gedung Pompa, lokasi siraman calon pengantin laki-laki. GKR Hemas dan calon besannya juga mendatangi Ksatriyan, begitu selesai dengan acara Siraman Putri.

Malam harinya, dilaksanakan upacara tantingan. Pada saat tantingan inilah, Sri Sultan HB X sebagai Raja ataupun sebagai orangtua menanyakan kesediaan putrinya untuk dinikahkan. Setelah sultan nanting putrinya, doa puji syukur kepada Tuhan pun dipanjatkan bersama-sama. Acara dilanjutkan dengan penyelesaian urusan administrasi oleh Petugas KUA (Kantor Urusan Agama).

Keesokan harinya, di Masjid Penepen, dilaksanakan prosesi ijab kabul. Prosesi ini hanya diikuti para laki-laki termasuk ayah calon pengantin pria. Prosesi tersebut terdiri dari khutbah nikah, ijab kabul oleh Sri Sultan HB X, dan penyelesaian administrasi oleh petugas KUA.

Siangnya merupakan puncak dari upacara pernikahan yang diawali dengan upacara panggih. Upacara panggih terdiri dari edan-edanan, balang-balangan gantal, mijiki, mecah telur dan kemudian diakhiri dengan pondhongan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat yang dilaksanakan di Emper Bangsal Prabayeksa.

Pengantin dan besan Dalem kemudian menuju Kagungan Dalem Ksatriyan untuk melaksanakan upacara tampa kaya dan kemudian menuju Gadri Ksatriyan untuk melaksanakan upacara dhahar klimah. Sore harinya acara dilanjutkan dengan Kirab Mubeng Beteng.

Pada malam harinya dilaksanakan resepsi pernikahan di Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Dalam acara tersebut dipergelarkan dua tarian, yaitu Bedhaya Manten dan Beksan Lawung Ageng.

disarikan dari Kedaulatan Rakyat
Tanggal 28 Mei 2002

2 comments to Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>