Humor
MASIH HANGAT-HANGATNYA
Seorang laki-laki dan istrinya bertamu ke rumah Kepala Desa untuk memperkenalkan diri. Baru tiga hari mereka tinggal di rumah baru mereka di daerah tersebut. Kebetulan Bapak Kepala Desa ada di rumah. Mereka langsung dipersilakan masuk. Setelah beramah-tamah dan memperkenalkan diri, istri tamu tersebut memberikan oleh-oleh bakpia kepada istri kepala desa. Beberapa saat kemudian, istri Kepala Desa masuk. Mereka lalu melanjutkan omong-omong dengan Kepala Desa. Pasangan tersebut bercerita kalau mereka baru saja menikah. Tiba-tiba dari ruang sebelah, yang hanya dibatasi partisi, terdengar suara yang cukup mengejutkan.
“Wah, masih hangat-hangatnya.”
“Iya, masih baru. Nanti kalau sudah lama juga dingin.”
“Manis ya.”
“Dari kota besar, sih.”
Kontan saja muka suami istri itu menjadi merah padam. Rupanya Kepala Desa juga kaget. Kemudian dia menyahut, “Oleh-oleh itu dari Pak Anton! Makan saja tak usah banyak bicara!”
PERAMAL CUACA
Banyak hal dalam kehidupan manusia yang tergantung pada cuaca. Begitu pula dalam industri perfilman. Seorang sutradara tentu tidak akan sembarangan untuk memulai syuting jika cuaca tidak memungkinkan.Bahkan peramal cuaca pun kadang-kadang diperlukan. Dalam syuting film di gurun pasir Tengger, seorang tetua desa datang tergopoh-gopoh menemui sutradara. Tetua desa itu bilang kalau nanti siang akan terjadi badai. Ternyata badai memang menelikung lokasi syuting. Hari kedua dan ketiga, tetua desa kembali mengingatkan sutradara tentang cuaca yang akan terjadi. Sang sutradara berpikir untuk merekrut tetua desa sebagai peramal cuaca karena selama tiga hari ramalannya selalu tepat. Hari keempat tetua desa itu tidak datang ke lokasi syuting. Hal ini cukup merepotkan sutradara. Kemudian sutradara pergi ke rumah tetua desa. Disana dia beratnya tentang cuaca siang nanti, “Bagaimana cuaca siang nanti pak Tetua?”
Setelah terdiam cukup lama, tetua desa menjawab,” Aku tidak tahu!”
Dengan penasaran sutradara kembali bertanya,”Apakah ada yang menghalangi Pak Tetua?”
Dengan polosnya tetua desa menyahut,”Ya, radioku rusak sejak kemarin malam.”
MUSLIHAT PEJUDI
Ada empat pejudi yang sedang berkumpul. Mereka mau berjudi dengan bermain poker, tetapi tidak ada tempat yang dirasa aman. Setelah berembug cukup lama, mereka memutuskan untuk bermain kartu di atap gedung bertingkat delapan yang baru dibangun. Setelah berjuang keras naik ke tingkat delapan, mereka segera berjudi. Uang taruhan yang mereka pasang tidak main-main, Rp 500.000,00 per orang per putaran. Setelah baermain sepuluh putaran, seorang pejudi yang berbadan gendut kehabisan modal. Wajah orang itu menjadi pucat pasi. Setelah permainan selesai mereka berempat bermaksud turun, tetapi si Gendut tiba-tiba ambruk, pingsan. Kontan saja ketiga temannya kalang-kabut. Mau ditinggal atau dibawa turun. Karena kasihan ketiga teman si Gendut menggotongnya turun tangga. Dengan berjalan tertatih-tatih keberatan, ketiganya bergantian menggendong si Gendut turun. Akhirnya sampai juga mereka di anak tangga terakhir lantai dasar. Begitu kaki penggendong menapak lantai dasar, si Gendut bersuara,”Sudah, aku jalan sendiri saja.”
Mengetahui akal-akalan si Gendut, ketiga temannya uring-uringan. Dengan santai si Gendut menyahut,”Masa sudah kalah jutaan rupiah masih harus jalan kaki menuruni tangga.”
SELAMAT WISUDA
Tiga orang wisudawan yang baru saja selesai mengikuti upacara wisuda di UGM bermaksud pulang ke tempat kost mereka. Kali ini ketiganya tidak mau berdesakan dalam bis kota. Mereka mau pulang dengan taksi. Kebetulan sebuah taksi yang setiap hari mencari penumpang di sekitar kampus mendekat. Di dalam taksi, dengan bangga, ketiganya membicarkan sesi-sesi upacara wisuda. Mereka juga membicarakan jumlah peserta wisuda yang mayoritas satu fakultas dengan mereka, Fakultas Teknik. Tanpa disangka-sangka sopir taksi itu bertanya, “Anda baru diwisuda dari Fakultas Teknik UGM?”
Salah satu dari mereka menjawab dengan mantap, “Ya, Pak. Teknik Mesin angkatan 1996.”
Kemudian sopir taksi itu menyahut, “Kenalkan, saya angkatan 1963.”
~ || ~
Popular Posts